Posted in Uncategorized

Ketika Harus Mengantar Bapak ke Lampung (2)


R. Soeratman 17-Agus-1931 - 4-Juli-2010

Selesai dengan mengamati wajah terbujur masih hangat untuk terakhir kali, pandangan saya mulai memutar ruangan sempit ini.

Di bawah kaki bapak, terduduk lunglai perempuan 52-tahun ditemani kedua anak-anaknya. Saat saya dekati anak lelaki dan perempuan nampak seperti mata ayam mengeram. Ada wajah tegang. Mungkin kuatir saya akan menyalahkan mereka membawa ayah yang sudah lumayan uzur – karena membawa Ayah kandung kami ke Lampung-Jakarta-Lampung sampai menemui ajal.

Dimana sih pekerjaan termudah didunia ini kalau bukan menyalahkan orang lain. Lagian ajal bisa kapan saja, kata pak Ustad.

Ketika saya pegang bahu perempuan yang menyukai rambutnya dicat merah, tangan saya diraih dan diciumi erat dan lama sekali. Perempuan ini nampak kurus sekali, tulang pipinya menonjol. Sembilan tahun saya dan adik-adik di satu pihak memperlakukannya seperti seteru. Kini saya datang dengan membawa senyum menyapa seluruh anak-anaknya dan suasana tegang mencair.

Kadang saya bersyukur hanya saya sendiri yang ada di Jakarta sehingga ekskalasi permusuhan bisa diredam. Apalagi bapak sangat mencintainya.

Ada pesan dari Bapak? Tanya saya.

Nggak ada Mim, Besok Senin lima Juli bapak mau ke Lampung untuk ambil pensiun dan gaji ke Tiga Belas.

Terjawab sudah kegalauan saya.

Saya Putra Sulungnya harus mengajak bapak ke Lampung, bukan untuk mengambil pensiun melainkan diistirahatpanjangkan.

Ketika keputusan saya ambil maka deretan agenda bermunculan. Surat Keterangan RT RW, Surat Ijin membawa jenasah ke luar kota, Surat dari Kepolisian, Surat Kematian/Visum dari Puskesmas, Ambulance, peti untuk membawa jenazah dan seabreg angka dan proses yang bermunculan.

Saya lirik sahabat saya Sandy. Ia mendekat, profesinya relawan bencana alam.

Soal Ambulance bukan masalah. Ada di Ciliwung, katanya. Persoalan dimana mencari peti jenazah tanpa simbol agama tertentu.

Mas Mono sang pengemudi Sandy, bilang, gampang saya punya channel cari peti.

Mereka sudah terlatih mendatangi pusat bencana mulai dari Aceh, Yogya dan banyak yang lainnya.

Seseorang yang dari semula selalu mendampingi jenazah, Ibu Rahman mendesak – apakah Bapak dimandikan di sini? – Saya bingung beberapa saat, lalu keputusan diambil “Terimakasih, tidak. Biarlah apa adanya sebab di Lampung ada spesial Task Force….

Adik-adikku ingin ambil bagian sendiri dalam upacara ini.

Keputusan mengawetkan bapak dengan bantuan formalin untuk sementara saya tepikan. Saya tidak bermasalah dengan formalin, tetapi ada 7 adik belum dan tidak bisa dimintakan pendapatnya.

Drama di depan mata adalah berpacu melawan waktu.

Ubo rampe sudah siap.

Tetapi Kapten Densus Rio, yang juga keponakan saya melapor bahwa Akte Kematian baru bisa diberikan hari Senin saat Puskesmas atau Rumah sakit buka. Terbayang kasus ibu Aini Habibi yang juga kepulangannya tertunda sebab hari libur. Apakah saya harus mengalah dengan aturan yang tidak masuk akal?.

Otak berfikir cepat. Lalu ingat adik saya yang dokter di Puskesmas untuk segera meluncur membuatkan akte kematian dokter. Ditunggu satu sampai dua jam, dia datang dengan membawa dua formulir kosong dan sebuah ballpoin, tetapi lupa bawa kacamata baca.

Kaca mata saya taruh (memang begini gaya saya kalau membaca dan menulis), lalu menulis di atas formulir sesuai dengan yang didiktekan oleh dokter.

Jam sudah menunjukkan 00:00 Senin pagi…

Jenazah sekarang siap dipindahkan ke dalam peti kayu coklat. Bukan terbuat dari kayu mahal. Terlampau sederhana. Ada enam baut pengunci terbuat dari logam murahan yang harus diputar extra hati-hati. Beberapa kali baut melesak miring. Duh ternyata tutup peti tidak simetris.

Saat dimasukkan ke ruangan, dimensi rumah yang sempit membuat peti harus dimanuver berulang kali.

Saya peluk bagian kepala bapak. Masih terasa hangat. Empat jam telah berlalu.

“Bapak dulu menceboki saya, mengeramas rambutku, menyisir rambut ikalku sambil kadang diberi pomade…,” bisikku di telinga beliau.

Hanya saya sedikit under estimate, ternyata sekalipun kurus, bapak masih berat juga.

Sambil memeluk bapak tetap saya ajak bicara sambil minta ijin mengangkat jenazahnya untuk dipindahkan ke dalam peti.

Ternyata jazad belum juga bisa diberangkatkan. Ambulan memang tersedia, namun pengemudi pada pulang ke Jawa. Musim liburan anak sekolah ditambah hari Minggu – waktu yang sempurna untuk keluar kota.

Kami cari pengemudi serabutan, rata-rata begitu memegang kemudi ambulan mereka bergidik dan menyerah. Alasannya “bannya mau ngebuang terus..” Para pengemudi dengan insting yang tidak dapat dijelaskan kadang bisa merasai ada energi lain duduk dalam ambulan.

Namun sepertinya bintang terang masih ada di pihak saya.

Ada pengemudi dengan Sim B2 yang berani dengan ambulan asal ditemani. Satrio anak saya menjadi relawan menemani sang pengemudi di Ambulan.

Lagi-lagi gang yang yang sempit kami paksa untuk mengakomodasi sebuah ambulan. Beberapa kali ambulan nyaris menggesek pagar. Teriakan instruksi maju, mundur, tahan seperti membuat suasana makin berkabung.

Untunglah semua bisa diatasi. Tidak ada lagi yang ditunggu, maka bertolaklah kami..

Sepertinya begitu..

Tapi … sosok kurus berbaju hitam masih nampak duduk. Kami dekati, ibu tiri saya. Dibalik tubuhnya yang seperti ringkih, ia memiliki kemampuan menaklukkan hati Bapak. Kemampuan yang menonjol adalah perempuan ini memang “anak Band” – melantunkan lagu Pop sampai Kucing Garong bisa dilalapnya dengan baik.

Apakah ingin Ibu Oma ingin ikut ke Lampung?” Sebuah pertanyaan bodoh.

“Ya,” katanya..

Ada kendaraan?..Atau orang yang bisa stir luar kota. Saya ada kendaraan extra tapi pengemudi tidak ada?

Ada anak saya (juga saudara tiri saya), dia biasa nyupir antar propinsi..” – Kata perempuan yang pernah menjadi teman sepermainan semasa kecil kami di Lampung.

Perfecto – Jangan buang waktu sekalipun untuk itu saya harus mengutus seseorang ke rumah untuk mengambil kendaraan lain. Adrenalin semakin berpacu dalam darah. Sementara hujan makin rintik….

Jam 03:00 – Didahului oleh kendaraan saya, diikuti ambulan, rombongan keluarga Tiri, keponakan Ajeng dan Imang serta anaknya. Kami mulai bersiap…

Saya tepuk mobil ambulans berdoa agar penghuni tak nampak jangan berulah.

Saya bisiki peti jenazah. Bapak, putra sulungmu Mimbar akan membawamu pulang ke tanah kelahiranmu Teluk Betung. Di sana ibu menunggu 9 tahun lamanya.

Allahuakbar, Tuhan lapangkan perjalanan kami. Kalau boleh pinjamkan sedikit keahlian Nabi Musa, hanya sekedar jinakkan ombak di Selat Sunda. Kami minta ijin untuk menyeberang lautmu..

Mudah-mudahan para supir konvoi kami tidak mengantuk dalam perjalanan sebab semua serba mendadak serba tanpa persiapan.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.