Posted in rupiah, sanering, uang

Dulu uang kertas memang di MUTILASI beneran


Dulu soal Sanering atawa denominasi saya tidak mengalaminya sebab baru lahir tiga tahun kemudian.

Tetapi alm Slamet Soeseno salah seorang penulis yang gayanya saya kepingin tiru sampai sekarang menulis dalam majalah Intisari demikian:

Saya masih di kelas 3 MLS (Middelbare Landbouw School) Bogor di Negara Pasundan, Repoeblik Indonesia Serikat, ketika pada 1950 negara itu bersama Repoeblik Indonesia dari Yogya berfusi menjadi Repoeblik Indonesia. Dengan begitu, uang merah Belanda di negara Pasundan beredar bersama-sama dengan uang putih ORI (Oeang Repoeblik Indonesia).

Ketika Menteri Keuangan Meester Sjafruddin Prawiranegara memerintahkan agar semua uang merah Rp 5,- ke atas digunting menjadi dua bagian, banyak orang pingsan, setengah mati, atau getem-getem, tetapi tak bisa berbuat apa-apa.

Saya sendiri tidak apa-apa karena jarang mempunyai uang besar. Uang saku dari orangtua hanya Rp 4,- sebulan. Selalu receh-receh seperti pecahan 5 sen, ketip (10 sen), atau setalen (25 sen) dari logam yang bentuknya bulat, sesuku (50 sen), atau kadang-kadang Rp 1,-. Kedua recehan terakhir itu berupa uang kertas persegi panjang.

Pada 1951 saya lulus sekolah dan bekerja di Laboratorium Perikanan Darat, Bogor, di bawah Kementerian Pertanian, dengan gaji Rp 250,- sebulan. Dipotong Rp 50,- untuk bayar kos di rumah keluarga menengah, sisa gaji saya masih banyak. Dipakai bersenang-senang tiap akhir pekan, beli pakaian setiap bulan, dan jajan sehari-hari, tetap tersisa banyak.

Menurut alm Soemarwi mertua saya, uang kertas yang entah istilahnya sanering – denominasi atau apa saja oleh perintah Meester Syarifuddin memang ditetak menjadi dua bagian.

Bagian kiri masih dijadikan alat pembayaran yang sah, yang kanan diserahkan kepada bank untuk dijadikan obligasi yang dikembalikan 40tahun kemudian.

Katanya sih beberapa tahun kemudian pernah ada lagi manuver pemerintah saat itu memotong uang 100 rupiah uang lama dijadikan 10 rupiah uang baru.

Dan 19Maret 1950 itu kejadiannya (saya baru lahir Maret 1953). Lantas pada 1965 – selain peristiwa politis lainnya, maka saya yang masih tinggal di Bagus Kuning – komplek Pertamina mulai merasakan bahwa sesuai dengan PenPres no 27/1965 uang Rp. 1000 menjadi Rp. 1 rupiah. Maka ketika di khitan 14 November 1965, uang saweran saya belikan sebuah baju Tetoron 65% cotton35% warna merah jambu. Harganya sekitar Rp 12,50.00,- OB alias Oeang Baroe.

saat masih pakai celana cekak kelas saya tidak ngeh bahwa pemotongan uang diakibatkan laju inflasi kita konon meraih perolehan 650%. cuma yang saya tahu politisi kita menyalahkan Rezim Orde Lama sebagai biang keroknya (pokoknya dari dulu kita ahli menyalahkan generasi sebelumnya).

Informasi lain kata orang dulu 1 US$= Rp.160 saat pemotongan mencapai rp 120.000,00

Mengapa mendadak saya kepincut bicara uang? sebab saya ingat seorang anak kos kami diwawancarai masuk Departemen Keuangan. Dia yang bernama mirip pelawak Warkop padahal bapaknya Jawara pasar Magelang ini sempat tirakat makan kecuali INDOMIE bertahun-tahun. Rupanya sang bapak pernah mengajarinya ilmu ngrowot (makan tanpa garam dan cuma umbi-umbian) agar memperoleh kadigdayan.

Nah kebetulan dalam test ini dia melaju terus sampai interview terakhir diwawancarai DR. Koencaraningrat yang cuma ditanya sederhana berapa kali negeri Keong Racun ini mengalami Sanering.

Ditanya demikian telak dia langsung “thek Sek” – alias semi semapoet. Lidahnya kelu dan hasilnya dia ditolak. Pulang wawancara menemui bapak Kos (Saya). Saya masuk BUMN lain – Pertamina katanya.

Beberapa tahun kemudian saya ketemu beliau disebuah BUMN digedung Annex Building – jabatannya sudah kinclong Manager HRD…

Entah hasil penggojlogan pak Kuncaraningrat atau karomah makakan bernama Indomie (harusnya aku tulis mie instant) maka dia berhasil mencapai posisi mentereng sekarang ini. Sejatinya sih anaknya memang berontak talenta.

Lho kok mantu saya kalau belajar atau bergadang memilih “nguntuti” bumbu Indomie… Dan itu dilakukan sejak dia di ITB,pindah ke NTU sampai sekarang… Rupanya dia punya impian membuktikan bahwa MSG- bumbu masak entah apa namanya sebetulnya tidak membuat orang jadi bodoh, atau penyakitan.

Ini aku cerita Denominasi apa Indomie tanpa nasi ya…

Jakarta 4 Agustus 2010

Baru malam-malam nyadar masak Indomie Goreng kuah rebusan nya musti dibuang dulu…

Yang kalau kecil makan Mie dicampur nasi biar irit.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.