Posted in menulis

Bang Hadi – Ashadi Siregar


Ikutan alias latah semalam menonton tayangan di TVRI mengikuti acara 65tahun berkarya Ashadi Siregar yang sering dipanggil bang Hadi.

Cak Nun ngalem habis bang Hadi dengan anekdot Telur di Kedai Malioboro. Garin Nugroho meledek dengan Doktorpun takut bertemu dengan seorang Doktorandus Ashadi Siregar. Tokoh Zulkifli Lubis mengaku saat kuliah di Yogya takut akan hantu. Oleh bang Hadi, malahan tiap malam diajak berdiskusi dikuburan sampai akhirnya ia hilang takutnya akan hantu kuburan.

Saya ingin memberikan testimonial. Waktu itu di kampus diadakan Pendidikan Pers Mahasiswa. Sekalipun suka akan dunia tulis menulis sejatinya semangat saya kepada dunia jurnalistik cuma karena saya sedang PDKT kepada seorang Bidadari Publisistik dari Kampus Biru. Perempuan Ngadirejo- Jawa Tengah ini banyak sekali memberikan induksi dunia tulis kepada saya. Maka sayapun ikun mendaftarkan diri.

Panitia rupanya mengundang penceramah yang pakar dibidang pers seperti Bagawan Ciptoning alias Pemred harian KR. Penceramah lain adalah Bang Hadi – Ashadi Siregar yang sedang naik daun dengan Cintaku di Kampus Birunya.

Di luar dugaan, bang Hadi memang berpenampilan sinis-sinisnya orang Batak langsung menggebrak ceramah dengan mengatakan “ternyata masih banyak orang gila. Saya bilang orang masuk dunia Pers atau Jurnalisme adalah orang Gila.” –

Mak Deg- jantung saya berhenti berdetik rasanya.Rupanya disebut gila adalah anda mengetahui situasi politik saat itu, anda tahu sesuatu penyelewengan terjadi, tetapi saat anda akan menuliskan dengan obyektip. Kopkamtib yang mendatangi anda. Bisa Gila kan?

Lalu beliaupun bertutur sayang saya lupa apa materinya. Cuma saat diadakan tanya jawab soal melatih kepekaan menulis – bang Hadi ganti bertanya – “kalau kalian mendengar ada teman patah hati lantaran ditinggal ceweknya – paling kalian bilang jangan cengeng, perempuan bukan satu orang saja didunia ini… Tapi penulis akan merekam kisah cinta yang semula macam picisan, dikembangkan dan jadilah cerita..

Latih kepekaan, intinya. Jangan melihat persoalan seperti masalah rutin. Gali sedalamnya agar intan yang tersembunyi bisa muncul kepermukaan.

Terimakasih bang Hadi.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.