Posted in Uncategorized

Patung Seven Up atau Dirgantara


Setiap melewati ruas tol didepan Bidakara, kita sering melihat seorang lelaki seakan menunjuk (atau terbang) berpijak pada tiang melengkung sehingga publik main gampang bilang “Patung Seven Up”.

Edhi Sunarso (78) sang pematung membuat catatannya bahwa 29 September 1965 ia dipanggil menghadap Bung Karno untuk membuat patung yang Dirgantara a.k.a Seven Up di bilangan Pancoran tersebut. Pada 30 September 1965 ia sudah diistana Merdeka dan Bung Karno ternyata tidak datang. Rupanya pecah Gerakan 30 September (1965). Rencana pembuatan patung terbengkelai. Bung Karno menjadi tahanan rumah. Februari 1967, dia dipanggil lagi oleh BK dan ditanyai mengapa Patung Dirgantara tidak juga dipasang. “Saya tidak punya uang lagi Pak.. Rumah sayapun sudah disegel karena terbelit hutang…” Kata Pematung yang juga atas perintah BK membuat patung Selamat Datang.

Bung Karno termenung, lalu ia memanggil seorang bernama Gafur untuk menjual salah satu mobil miliknya. Hasil penjualan dijadikan modal memasang patung Dirgantara yang kini nyaris terselip diantara angkuhnya jalan Tol yang selalu padat merayap. Waktu patung itu dipasang… Edhi Sunarso sedang berada ditempat ketinggian. Ia melihat kebawah iringan kereta marta membawa jenasah sang “Pemrakarsa Patung” lewat dibawah benda yang sangat ia idamkan semasa menjadi Presiden. Bre Redana menulis dalam tajuknya “Jenazah di Bung Melintas di Bawahnya..”

Edhi Sunarsa dalam catatan lain adalah 1958 dia ditanya BK untuk membuat patung Selamat Datang. Bahkan BK datang sendiri ke Yogya pada 1959 untuk memberi contoh bagaimana Gesture yang “Harus Penuh Semangat dan Vitalistik..” – Ada fotonya dimuat di Kompas Minggu – tulisan Wartawan Bre Redana – saat BK menunjukkan Gesture yang ia inginkan. Masalahnya – Edhi Sunarsa harus membuat patung 9Meter terbuat dari perunggu. Padahal seumur-umur, 9sentimeter pun ia belum pernah buat. BK sempat menyentilnya “Hey Ed Kamu Punya Rasa Bangga Bernegara dan Berbangsa Tidak..?”

Pemimpin macam BK, menurut Bre Redana – mampu melihat “Kemampuan Orang Lain” – Itulah yang dilakukan BK ketika bertemu dengan Edhi Sunarso.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.