Posted in jalan, travel

Terpaksa ganti sepatu


Setelah letih dan lelah berjalan keliling USS di Pulau Sentosa, jalanan aspal yang saya injak seperti  menjadi babut yang tebal dan halus. Kadang seperti menginjak setumpuk permen karet yang sudah disepah manisnya. Lalu aku mulai kecapekan dan duduk di trotoir jalan sementara anak dan keponakan merubung makanan nama keren rasa opak yaitu Nacho Tacos.

Sambil mengurut kaki, saya tengok alas kaki  ini. Baru sadari bahwa sepatu keds saya menunjukkan sudah lepas pada bagian lemnya. Saya tidak boleh mengeluh sekalipun membelinya disebuah Mal di kawasan Taman Mini dengan outlet yang menunjukkan mereka distributor sepatu karet merek tidak main-main.

Lantaran sudah menjelang 60-an, saya hanya menyaratkan kepada penjual bahwa saya mau sepatu yang ringan dan slip resistant. Lalu Zul Haily bin Rahmad, menunjuk satu produk Adistar Salvation 2..

Pulangnya keluarga bertanya mana sepatu yang lama – saya hanya bilang waktu di toko Adidas di Vivocity, Harbourfront, sebagai kebiasaanku yang norak adalah beli langsung pakai. Yang lama langsung aku titipkan kepada yang jual.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.