Posted in ikea

Pengalaman Enak Menukar barang di Ikea


Coba saja anda melihat pameran mebel, ranjang, barang rumah tangga lainnya. Dijamin selalu ada tulisan “ngenes” – Jangan Pegang, Jangan di duduki bertebaran di mana-mana. Tapi di Ikea malahan nyentrik sebab ranjang, mebel seperti kursi, meja malahan disuruh diduduki sepuasnya.Hopo tumon.

Selama ini kita sudah seperti tanpa reserve menerima bon pembelian barang dengan catatan kaki berhuruf sans serif 7 point “barang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan..” – dan tulisan ini bakalan sebesar Dinosaurus tatkala apesnya anda harus mengembalikan ke pedagang. Belum lagi kalau penjual setengah membentak “baca syarat tertera pada bon ini nggak?

Lho kok IKEA malahan melawan arus dengan menulis poster ramah “Its Okey You Change Your Mind” lantas ada simbol jantung dengan dua saluran. Lalu spesial counter Penukaran dan Pengembalian barang dipajang setelah lantai pembayaran. Niat apa bangget sih.

Masuk ruang pamer Ikea Singapore, kita disuguhi pemandangan yang sekaligus mendidik kita. Mereka menyediakan pensil pendek, meteran dan kertas. Anda tinggal menulis nama barangnya, lalu serahkan kepada penjaga untuk diambilkan dari gudang (bukan gudang milik tetangga).

Yang membuat saya ck..ck..ck adalah anak-anak, ibu, teteh, kakak, oom, tante mengambil pensil, meteran seperlunya saja tidak perlu memboyong benda tersebut mumpung gratis ke rumah. Selesai dipakai, dengan tertib peralatan tersebut dikembalikan. Apalagi ada poster menyebut, gunakan benda ini seperlunya, bantulah kami melestarikan lingkungan hidup.

Ini rupanya menjelaskan mengapa hanya di bandara Sukarno Hatta, yang namanya mencari sekeping kartu embarkasi sama sulitnya mencari emas. Sementara Publik Singapura sudah terdidik untuk tidak ber-aji mumpung. Mumpung gratis, mumpung tersedia.

Aha sebuah kran air imut-imut menarik perhatian saya. Apalagi ingat dirumah punya kran wastafel yang bocor. Kraan ini saya temukan pada sebuah design kamar mengandai anda punya ruang 10 meter persegi tapi kepingin ranjang, meja belajar, kulkas, Tv semua tumplek bleg disitu. Ikea mampu menawarkan solusi sehingga anda seperti hidup di Sputnik ruang angkasa.

Cuma repotnya barang yang dipajang Ikea banyak masih terbungkus dengan kata dari Swedia seperti Lagan – bahkan di tempat lain saya melihat nama peralatan dapur SILIT (maaf). Alasannya “No Body Like To Buy Open Box” – jadi kalau tidak jelas tanyakan kepada staf kami. Kata Ikea.

Merasa pakar soal keran ledeng, gengsi kami tidak mengijinkan untuk bertanya ini-ono-onu kepada pegawai. Apalagi tidak ada penjaga di sekitar rak. Zonder banyak cakap, kami tulis merek dagang kran tersebut “LAGAN” lalu diambil di counter lain dengan harga sekitar 25 dollar (norak nggak sih harga pakai disebut).

Jrenggggg! baru kaget seperti anak sekolah disuruh mengarang oleh bu Guru, sampai di rumah ternyata kran ini diperuntukkan untuk air panas dan air dingin. Ada dua pipa tembaga kecil sehingga mempersulit pemasangan. Bagaimana menyambung pipa setengah inci ke pipa yang jauh lebih kecil.

Apa boleh buat, keesokan harinya kami harus berSMRT (naik bis) ke kawasan IKEA Alexandra. Bis seperti latah ikutan berposter “mau hidup berwawasan hijau, naik bis saja..” – Di tengah perjalanan naik seorang Mr. Chang, ternyata seorang kontrolir karcis. Maka tanpa ampun seorang nenek yang menggunakan kartu pelajar langsung didenda di tempat.

Seharusnya sesampai di TKP saya cabut kupon antrean. Namun apa salahnya pura-pura “beydon” dan bertanya bagaimana cara mengembalikan barang. Petugas konter tanpa cingong langsung mengambil kraan dan bertanya ramah.

Padahal pengalaman melayani toko besi GajahSora, kalau ada orang mengembalikan barang, sebisanya kita usahakan agar barang yang sudah dibeli jangan dipulangkan pada orang tuaku.

Mau dikasih voucher belanja, atau cash?” – rasanya gengsi juga kalau terima cash sehingga saya menjawab ragu, “voucher will do..”

Akhir cerita, voucher malahan ditukar penggorengan Tepal. Saya tahu di rumah sudah menumpuk barang beginian. Tapi setidaknya pulang dari menukar barang di Ikea, senyum saya tersungging bak  anak sekolah mendadak ada pengumuman “hari ini tidak ada pelajaran, sekaligus Ulangan Mengarang, dibatalkan, kalian boleh pulang tertib kerumah masih-masing…”

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.