Posted in kuliner

Iklan


Sejak jam 10 pagi berkendaran, mulai dari Grogol, Bandara Suta sampai blusukan (keluyuran) ke kawasan Majalengka non stop, maka tak heran jam 15:00 perut mulai terasa lapar sebab memang tidak ditangsel sejak pagi.

Tugas saya adalah mencari sebuah lokasi pengeboran. Bukan sumur explorasi yang ngakunya perawan melainkan sumur tambahan. Lagian hutannya cuma hutan sawah, hutan balai desa, hitan jalan aspal.

Setelah tanya sana sini belum mendapatkan jawaban yang memuaskan, saya mulai cari bantuan Google, GPS. Tetapi kenyataannya jarak tempuh terdekat bukan pilihan terbaik.

Sambil keluyuran wara-wiri dan keserimpet di Majalengka – saya banyak melihat iklan ditempel di pohon – sama halnya kalau anda berada di jalur Pantura.

Sebuah iklan rumah makan mengaku Raja dari segala Raja mulai membetot rasa ingin tahu saya lantaran sepanjang jalan Majalengka Bandung seperti dipajang secara teratur. Mengingat biaya pembuatan spanduk, pasti pemiliknya padat finansial dan warungnya kelas berat punya. Soal nama saya samarkan.

Karena saya pernah diomeli “tidak waras” oleh sebuah kedai Soto Kadipiro di Yogya – lantaran menuding mereka “bukan aseli” -padahal pengakuannya adalah satu keluarga – maka kali ini nama warung berdinding  gedek ini saya samarkan dengan GPS 6,6951 derajat Selatan dan 108,3698 derajat Timur.

Begitu masuk ruangan, nampak seorang lelaki menguap karena terganggu tidurnya. Lalu saya lontarkan pandangan kesekeliling. Terlihat bangku yang sudah mangkrak dipojok. Toilet besar dan bersih (katanya) ternyata tidak demikian.  Tidak lama kemudian saya ditemui seorang awak warung yang langsung mengatakan bahwa semua masakan sudah habis.

Kita bisa harap maklum jam 15:30 so-pasti masakan sudah habis lantaran “banyak peminat..” – Seperti kata Jendral McArthur  saya mengatakan dalam hati : “we will be back!“.

Itu gagahannya. Padahal mata sudah mata gelap, tangan gemetar..

Syukur  penderitaan saya diatasi disebuah Warung Padang di Palimanan di posisi 6derajat 24menit Selatan dan 108 derajat 25menit 48detik Timur. Gampangnya dekat simpang empat Palimanan. Karena RM Padang – maka makanan sepertinya sudah ditakdirkan KUDU enak dan enak sekali. B uktinya rebusan daun hijau, babat gule, ati dan Ampela membuat makan berkecipak dan saya menambah porsi.

Hari berikutnya seperti Jendral Mac Arthur saya masih penasaran ke warung yang kehabisan makanan dan ada orang tidurnya.  Maklum … Jam 12theng, saya sudah hadir… Suasanya masih kosong. Kecuali pemiliknya (lagi-lagi) harus dibangunkan oleh seorang petugas yang lainnya.  Saat mereka sibuk melakukan koordinasi karena ada pembeli memesan nasi dan sate, serta sebotol air kemasan –  diam-diam TV yang sangat keras suaranya saya kecilkan.

Ternyata… mereka cuma punya beberapa tusuk sate, kecap, bawang goreng, tomat, dan irisan cabe. Semua daftar menu  hanya berbunyi “habis” merasa sedikit ketipu iklan akhirnya saya pesan masakan yang ada.

Lantas apa enaknya makan nasi doang dengan Sate Kecap yang bukan cap Bango kesayangan saya. Sepertinya iklan ini pinter-pinternya sang sponsor pembuat minuman botol kemasan.

Dan ternyata sampai saya selesai mengunyah daging yang alot, tidak terlihat ada pelanggan lain datang.

Untung saja teringat selalu dengan penulis Naked Traveller… Bepergian jangan  dengan mindset-makanan lezat, mewah, pelayanan cepat, meriah iklannya sesuai dengan kenyataan. Tetapi kekecewaan juga merupakan sebuah petualangan kuliner.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.