Posted in minyak bumi, Uncategorized

Kadang perlu juga HP dengan dua provider


Lihat Lapisan Minyak Bumi

***MINYAK DALAM PIPA BOR DIPERMUKAAN***

Rekan saya AWD seorang pakar pengeboran berarah, mengirim pesan singkat, bahwa mata bornya menembus lapisan yang “boros lumpur.” Ini maksudnya kalau isi lubang bor dihitung ala isi sebuah silinder adalah seratus liter, ternyata setelah diisi seribu liter tidak pernah penuh. Di pemboran kita tidak bilang gara-gara diminum ANTABOGA (Naga Tanah), atau keluwung bumi, melainkan karena terjadi sungai-sungai mini nun dibawah perut bumi sana.

Kami menyebutnya “Total Loss Zone”. Biasanya – karena keteteran mengisi lubang bor, kami menggantikan lumpur bor dengan air sungai (kalau pemboran darat) sebelum melanjutkan pengeboran ala “membabi buta” alias “blind drilling.”

Pemboran babi buta biasanya minus informasi lantaran cuma lobang yang didapat – sementara data lainnya susah didapat, termasuk apakah mata bor sudah memasuki lapisan minyak atau belum.

Persoalan lainnya, dalam keadaan sumur dengan perut kosong, maka pemboran berjalan “glodangan” lantaran tidak ada peredam getar berupa lumpur. Gampangnya coba anda mengocok adonan kue pakai blender. Anggap adonan adalah lumpur bor. Lalu buang adonan dan biarkan blender tetap berputar, sebagai simulasi lubang tanpa lumpur. Perhatikan bedanya. Pisau blender akan “mlanting” kesana kemari serta anda akan merasakan blender bergetar hebat. Mudlogger baru nyadar kalau pisau blender lumpurnya patah kalau mendadak tidak ada aliran lumpur dalam waktu lama.

Di pengeboran – kalau terjadi bor BB (babi buta) – yang kami kuatirkan adalah pipa bor putus karena getaran yang berlebihan, sementara alat deteksi MWD/LWD selain jadi “mati buyung” – karena tidak bisa mengirimkan data secara baik, ada ancaman alat elektronik yang terpasang di pipa bor akan mengalami kerusakan.

Tetapi beberapa jam kemudian – ia mengirim gambar MMS. Ada 3 kali tetapi gagal saya lihat berita yang ia kirimkan. Baru nyadar (lagi) provider Telkomsel yang kami pakai secara official – tergopoh-gopoh mengikuti teknologi.

Untung saya punya provider XL dan gambar yang ia kirimkan dapat saya lihat.

Sejatinya – teman-teman dari rig sering mengirim gambar eksklusif seperti suasana mengontrol lubang bor yang sedang “stress” nyaris mengamuk. Lalu diujung sana gas yang sedang marah mulai menyembur dan terbakar dipermukaan.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.