Posted in Uncategorized

Nebus Resep


Menjelang jam 22 malam saya sudah berada didepan pintu pagar rumah. Untuk menuju rumah saya, dari jalan Raya (kalau anda mau berandai jalan Kodau sebagai jalan Raya), ada sekitar 300 meter kendaraan berbelok lalu melalui jalan tanah merah, dengan pinggiran jalan yang dipenuhi pohon pisang, alang-alang tebal.

Tapi itulah rumah saya, penerangan jalan swadaya yang baru nyala kalau beban puncak PLN sudah mendatar. Suasananya “wingit” dan bagus untuk latar belakang filem “penyergapan teroris”, jarang bertemu tetangga disini.

Tapi kok persis 3 meter dibelakang kendaraan seperti muncul dari semak mendadak sebuah sepeda motor sudah distandarkan. Penumpangnya seorang lelaki, memboncengkan seorang ibu bertubuh kecil sambil menggendong anak…

Langsung otak memberi signal “jangan-jangan orang ini pura-pura diserempet lantas minta ganti rugi, wah malam-malam begini baku mulut bukan acara yang baik menggantikan tontonan teriakan “Rohiiiiiiim …. Fuaaaaad” ala MasBro..

“Saya tukang ojek pak!, saya mangkal di ujung jalan, melihat mobil bapak masuk lalu saya ikuti…” – kata pria dengan ukuran tubuh mirip Vokalis Sheila On Seven.. Tapi logat bicaranya macam Mahfud Md kalau saling serang dengan DPR atau si Poltak Ruhut.

“Ibu ini mau ke klinik, anaknya sakit, ndak punya wang….” – Lalu ia menggamit perempuan menggendong anak bayi sambil bicara “sana..ngomong sama bapak ini…”

Sang perempuan “masih dari balik alang-alang” maju dan tanpa banyak bicara beringsut mendekati saya. Karena dia membisu seribu satu bahasa saya tidak tahu apakah sang ibu suaranya macam Shahrini – mantan duet Anang kalau cakap macam perempuan Kental logat Sukabumi, tetapi mengambil cengkok Cinta Laura.

Sang bayi saya sentuh (sebetulnya ikut mendoakan supaya kalau benar sakit, segera diangkat penyakitnya), mungkin lantaran diajak berangin-angin tubuh suhu badan bayi yang pulas tidur ini nampak biasa-biasa saja. Saya jadi tidak bisa memastikan apakah anak ini meriang atau tidak…

Dompet saya rogoh, mengorbankan 4 bulan langganan IntiSari. Lalu saya serahkan kepada pak Kurus mirip Duta Sheila on 7, yang entah mengapa suaranya tercekat…saat mengucap terimakasih.

Keesokan harinya, peristiwa ini kami ceritakan. Seorang tetangga menimpali – “Wah modus baru itu….” biasanya mereka cuma “minta tolong nebusin resep…”

Tapi batin saya membantah..Andai diapun “bermodus baru..” saya tidak keberatan. Lha diajak beramal, malam-malam dijabanin datang, kalau saya masih menolak dengan seribu satu alasan… kok kata Karakter Oma Irama – Sungguh Terlaluu”

Posted in TV Internet

Cuma 50 ribu rupiah untuk mendapatkan TV Internet


Memasuki sebuah mall besar, mata saya melihat para SPG berbaris disamping sebuah TV Digital yang menayangkan acara sejenis TV Cable. Tentu ini adalah pemandangan biasa alias tidak aneh, “paling nawarin tv kabel…”

Saya hanya melewatinya, lalu bergegas menginjak  ekskalator menuju lantai atas guna mencari keperluan lain.Cari buku Kris Biantoro Belum Selesai – mengisahkan perjuangan Kris sebagai penyandang Ginjal Soak.

Tapi tulisan didekat TV seperti menghipnotis total “Cuma di tambah 50 ribu rupiah..” Siapa yang nggak ngeces bacanya.

Artinya kalau saya ingin berlangganan TV Kabel, maka saya cuma menambah 50 ribu rupiah.

Apalagi di rumah sudah terlanjur berlangganan yang biayanya 2x lebih mahal maka sontak tawaran ini amat menarik. Akhirnya saya terbetor membuat keputusan  menuruni eskalator dan mengambil brosur serta melupakan cerita bagaimana “katanya” Kris Biantoro harus menagih morfin guna mengatasi ginjalnya.

Dan eng..ing eng…. Inilah hasilnya

Untuk menikmatinya anda masih harus punya Dekoder yang khusus. Lalu TV anda kudu jenis DIGITAL. TV Digital baru bisa menayangkan acara TVRI 4 channel, acara bertani, pelajaran sejarah, kadang acara Keroncong.

Tapi siapa sih yang bisa menjelaskan bahwa Internet kita jalannya sudah bisa ngebut.. Iklannya saja yang luar biasa.

Dan hidden cost (biaya tersembunyi adalah)

Anda harus mengupgrade kecepatan internet menjadi 1MB, yang artinya anda harus merogoh kocek diatas 600 ribu.

Nah uang langganan TV sendiri memang 50 ribu, jadi total 650 ribu.

Bagi yang Pro: tentunya akan mengatakan Acara Pesantren Rock and Roll bisa diputar ulang sekalipun sudah terlambat dua hari. Tapi apa itu penting sekali..

Bagi yang Kontra: anda harus ganti TV ke Digital, dan bersiap kalau hubungan internet putus nyambung, bisa-bisa dikira beli VCD bajakan gambarnya. Maklum internet kita – masih senin kemis jalannya.

Ramalan saya – sulit rasanya memasarkan dagangan ini selama Internet masih barang langka dan belum bisa diandalkan.

Posted in supit

Bong Supit BOGEM (3)


Kalau mau 08-deg-20' 23.68"S dan 106deg-52'-45.35"E

Dua tahun kemudian, dipas-pasin 18 Juni 2011, saya mendapat tugas ikut tim penggembira kerabat menyunatkan anaknya di Ahli Khitan, Bong Supit – Bogem – edisi Jakarta Timur – yang katanya biaya pemangkasan di tambahi dari tahun ketahun disesuaikan IDR 100 ribu rupiah. Alhasil, pada Juni 2011, biaya cukur kulit naik menjadi sekitar 750 ribuan.

Cuman Jujur saja, saya sudah tidak tahu lagi alamat. Mangkanya saya tulis sekali lagi catatan ini…

1. Dari arah Pasar Rebo – anda ambil jalan Raya Bogor, ciri khasnya jalan terbelah dua, lantas anda masih bisa melihat Mall Cijantung di kanan anda (kalau kiri artinya cerita saya terbalik).

2. Dikiri nanti akan ketemu Pelang Biskuit Khong Guan… Terus saja (sambil berdoa dan deg-degan) takut salah jalan, ada pertigaan Jalan PKP namanya. Anda masuk sini (cross check ada PT Guru… Kini di kiri jalan, terus saja sepanjang 700 meter, jalan PKP akan bercabang dua. Anda ambil jalur kiri yaitu jalan PKP-Kelapa Dua Wetan (kalau jalan Cibubur-1 artinya sampeyan kesasar). Dan setengah kilometer dari simpang Kelapa Dua – Wetan maka anda harus jalan perlahan sebab dikanan jalan ada Lampu

Pak Bogem Supit Jakarta Timur ini - sejatinya dia punya TKP di jalan Manunggal..

Neon bertuliskan seperti ini

Jarak dari pertigaan Jalan Raya Bogor ke TKP di jalan Manunggal adalah 1,3 kilometer
Posted in pelayanan payah

Tunggu Satu Jam Lagi…..


Apakah anda sering mendapat jawaban dari petugas “Customer Services” seperti “System kami dalam maintenance – hubungi satu jam lagi..”

 

Minggu lalu saya bayar TV Langganan melalui ATM. Biasanya saya lebih suka melalui Internet Banking tetapi untuk kekecualian TV Langganan saya ini hanya menerima pembayaran melalui ATM.

 

Untuk menjauhi Siksaan Api Penjara – nama institusi tidak saya sebutkan, maklum kasus Ibu Priti masuk sel lantaran mengkritik sebuah rumah sakit masih terlampau hangat untuk dilupakan.

 

Memasuki ATM yang terdiri dari dua ATM tarik-tunai dan satu non tunai saya menuju mesin yang terakhir disebutkan. Di sebelah kiri saya sebuah ATM sedang didedel duwel dibetheti jerohannya oleh petugas bank sementara disisinya dua polisi lengkap dengan senapan serbu berjaga-jaga. Tapi jangan bayangkan sikap waspada ala NAVI SEALS dari amrik sana yang irit bicara-lancar bertindak. Sebaliknya mereka bersandar didinding ATM sambil santai-santai ngobrol dan ber SMS. Padahal berita penembakan terhadap satuan yang sama terjadi di pulau lain masih hangat dibicarakan.

 

Tahu sama tahulah – kita punya mantera ajaib – Dewa YAMADIPATI (dewa Kematian dalam cerita wayang) akan Menghampiri Siapa Saja – kapan saja-dimana kalau sudah waktunya. Jadi duduk di atap kereta api, menerobos jalur tol, mengendarai bromfiet (sepeda motor) tanpa lampu di malam hari, menerobos palang kereta api yang diterobos, bukan hal yang perlu dikuatirkan, toh kalau belum ajal mengadu kepala dengan kepala keretapun akan hidup. Jadi nyantai dan hepi-hepi Jack!

 

Begitu Transaksi selesai dan Print-Out untuk tanda bukti ditunggu…. Mak JEGLEG… Muncul pernyataan bahwa transaksi tidak dapat diteruskan lantaran mesin ATM bermasalah.

 

Apakah transfer berhasil atau gagal, persoalannya hanya bisa dijawab oleh petugas TV berlangganan. Maka usaha pertama adalah saya menghubungi kantor penyedia.Pertama saya ditanya nama ibu kandung, nomor HP yang aktip, tanggal dan tempat tanggal lahir. Untung tidak sampai warna kencingnya keruh atau bening.

 

Setelah berlama “menyamakan data..” – Mak Jeglek dijawab bahwa , mereka tidak bisa menjawab pertanyaan saya sebelum 1 jam berlalu… Sial bener. Kalau cuma itu jawabannya, kenapa harus muter-muter urutan kerja mereka. Duh…

 

Kali ini saya menunggu 24jam keriting- padahal mintanya cuma 1 jam. Eh jawaban “template” nya masih mantheng di tunggu sejam lagi…

 

Tiga hari kemudian, saat teman kantor beringsut pesan Sop Buah, Iga Bakar untuk makan siang– saya malahan menilpun Customer Service, jawabnya masih template. “Mas,yang bener aja,,,, dari hari Jumat, sampai Senin Siang, aku kok dijawab dalam perbaikan melulu dan harap menunggu satu jam lagi. Padahal ini sudah Tiga Hari lebih satu jam- Maunya gimana nih…” Kata saya setengah berteriak merasa dianggap kurang satu setrip isi otak saya.

 

“Betul pak, mesin kami dalam perbaikan untuk memberikan pelayanan lebih memuaskan pelanggan, harap hubungi satu jam lagi, apakah ada hal lain yang bisa kami bantu????” – suara lelaki diujung tilpun seperti saya ini sudah Dimensia kelas parah bener.

 

Klek, tilpun saya dudukkan. Nut..Nut..Nut bunyinya. Seperti iklan, sayapun harusnya menangis sambil menengok ke atas mendapatkan pelayanan macam itu.