Posted in TV Internet

Cuma 50 ribu rupiah untuk mendapatkan TV Internet


Memasuki sebuah mall besar, mata saya melihat para SPG berbaris disamping sebuah TV Digital yang menayangkan acara sejenis TV Cable. Tentu ini adalah pemandangan biasa alias tidak aneh, “paling nawarin tv kabel…”

Saya hanya melewatinya, lalu bergegas menginjak  ekskalator menuju lantai atas guna mencari keperluan lain.Cari buku Kris Biantoro Belum Selesai – mengisahkan perjuangan Kris sebagai penyandang Ginjal Soak.

Tapi tulisan didekat TV seperti menghipnotis total “Cuma di tambah 50 ribu rupiah..” Siapa yang nggak ngeces bacanya.

Artinya kalau saya ingin berlangganan TV Kabel, maka saya cuma menambah 50 ribu rupiah.

Apalagi di rumah sudah terlanjur berlangganan yang biayanya 2x lebih mahal maka sontak tawaran ini amat menarik. Akhirnya saya terbetor membuat keputusan  menuruni eskalator dan mengambil brosur serta melupakan cerita bagaimana “katanya” Kris Biantoro harus menagih morfin guna mengatasi ginjalnya.

Dan eng..ing eng…. Inilah hasilnya

Untuk menikmatinya anda masih harus punya Dekoder yang khusus. Lalu TV anda kudu jenis DIGITAL. TV Digital baru bisa menayangkan acara TVRI 4 channel, acara bertani, pelajaran sejarah, kadang acara Keroncong.

Tapi siapa sih yang bisa menjelaskan bahwa Internet kita jalannya sudah bisa ngebut.. Iklannya saja yang luar biasa.

Dan hidden cost (biaya tersembunyi adalah)

Anda harus mengupgrade kecepatan internet menjadi 1MB, yang artinya anda harus merogoh kocek diatas 600 ribu.

Nah uang langganan TV sendiri memang 50 ribu, jadi total 650 ribu.

Bagi yang Pro: tentunya akan mengatakan Acara Pesantren Rock and Roll bisa diputar ulang sekalipun sudah terlambat dua hari. Tapi apa itu penting sekali..

Bagi yang Kontra: anda harus ganti TV ke Digital, dan bersiap kalau hubungan internet putus nyambung, bisa-bisa dikira beli VCD bajakan gambarnya. Maklum internet kita – masih senin kemis jalannya.

Ramalan saya – sulit rasanya memasarkan dagangan ini selama Internet masih barang langka dan belum bisa diandalkan.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.