Posted in tablet

Jadi Lanun, jangan jadi Marinir.


Yang omong itu Steve Jobs, dedengkot Apple yang baru saja undur diri lantaran kesehatan. Tapi apa maksudnya anak-anak muda di Apple dibujuk jadi Lanun (Bajak Laut) ketimbang jadi Marinir (saya lebih suka menulis marinir ketimbang angkatan laut). Padahal Angkatan Laut dikenal disiplin tinggi, mau menyampaikan pendapat, “Siap Komandan – Ijin untuk bicara..”, mau melangkah mundur pakai berbaris, mau ke kanan pakai aba-aba. Berani “curhat” – besok masuk sel. Berani nyanyi, diancam dipecat.

Steve Jobs (SJ), menyadari bawa menciptakan “gadjet” dari tidak ada didunia, menjadi barang yang harus membuat anak muda ngecez, membutuhkan anak muda berbakat, jam kerja yang tinggi, perdebatan, dan ide-ide liar yang melanggar rambu sementara orang. Bahasanya “UnPredictable”

SJ membutuhkan anak yang liar dalam pemikiran, sebab ia kuatir – sonder filsafat “Bajak Laut” – jangan-jangan Apple hanya menjadi tanaman Vanili, baunya memang harum, tapi mau keatas tumbuh kudu disangga tiang, mau berkembang kekiri ada pembatas tali. Bahasanya “Too Predictable”

Maklum terbiasa di batasi peraturan ketat. Sulur Vanili belum berkembang, peraturan demi peraturan sudah menindihnya.

SJ banyak melihat perusahaan kelas berfilsafat tradisional yang sekali sang Boz berfatwa “ada sapi warnanya Orange” – tak seorangpun coba cari tahu, jangan-jangan yang dilihat bos tadi bukan sapi. Atau warna sebetulnya Merah.

Tapi – SJ adalah pemegang cemeti dalam arena sirkus. Gampang meledak, kalau salah satu anggota sirkus nampak mati langkah. Salah satu bawahannya pernah menulis Kata Kenangan, bagi Steve- kata Demokrasi itu omong kosong. Untuk membuat produk yang bagus, dibutuhkan Tiran yang tentu saja bertangan besi..

Posted in apple

Disebuah ruang tunggu


Tekadnya sudah bulat. Kemarin ia layangkan surat pengunduran diri dari perusahaan yang membesarkannya, INTEL. Ia melihat cita-citanya sudah mentok sehingga melirik perusahaan “kecil” namun masih memperlakukan pegawainya secara manusiawi dan profesional. Masih dengan pakaian ala Executive yakni dasi, pantalon rapi, jas mahal – lelaki usia 40tahuan ini masuk kesebuah restauran terkenal, namun harus rela duduk diruang tunggu sampai pengunjung lainnya selesai bersantap. Sambil menunggu giliran dia membayangkan namanya akan masuk dalam daftar jajaran orang penting di komputer Eagle yang baru saja Go-Publik.

Namun saat membaca berita dikoran, dunia rasanya diputar 7 keliling. CEO perusahaan tersebut seorang anak muda yang mendadak jadi celebritas, milioner, merayakan peresmian perusahaannya sambil minum-minum, lalu membeli sebuah Ferari. Dari dealer, kendaraan dikebut, terjadi kecelakaan lalulintas, dan nyawanya ikut melayang. Perusahaan Eagle-pun ikut terkubur.

Sambil celingukan bingung matanya sempat menatap seorang anak muda duduk dibarisan “waiting list” di restoran itu. Nampaknya membaca topik kecelakaan yang sama. Seperti ada setrom – terjadilah pembicaraan ringan, dari soal kecelakaan yang baru terjadi, sampai ke background pekerjaan. Dilihatnya anak muda usia dua puluhan, kurus, pakai celana jean, sepatu karet, rambut adul-adulan. Macam siang dengan malam. Ia yang selalu menjaga tubuhnya agar tetap atletis, pakaian harus dari taylor terkenal memang dari awal perjumpaan sudah meremehkan si Hippie. Kecuali satu kedua-duanya memelihara janggut.

Hippie ini ternyata pandai mengesankan pihak lain. Blak-blakan, seringkali meremehkan pihak lain, gayanya meledak-ledak dengan penuh energy, selalu punya gagasan “brilliant”- yang belum pernah dipikirkan orang lain. Kalau saja ia masih di IBM, anak muda ini akan diajak bergabung. Sekalipun ragu sebab iapun surut dari IBM yang menurutnya sulit menerima ide-ide baru dari karyawannya dan para pemimpinnya memilih bermain di lahan aman.

Si hippies memperkenalkan diri sebagai Steve Jobs, Direktur perusahaan Apple. Nama perusahaan yang tidak pernah saya dengar sebelumnya, apalagi mempercayai mimpi anak muda mengaku direktur perusahaan komputer. Kurang ajarnya Steve bahkan dia yang notabene Bekas CEO perusahaan raksasa, bergabung dan bekerja untuknya, perusahaan status “sayup-sayup tak sampai..”

“I dont think you can afford me..”, itu saja komentar bekas CEO..

Harinya, Jumat, dua minggu setelah pertemuan dengan “hippie sang pemimpi” – lelaki bernama Jay ini sudah bergabung dengan kelompok Apple. Surat penerimaannya bersamaan datang dengan surat peringatan dari ex Bosnya- “You are making a big mistake, Apple isnt going anywhere..”

Tapi Steve Jobs sudah memberinya salary menawan ketimbang perusahaan lamanya disertai tawaran ikut saham yang beragam.

Kini Apple menjadi perusahaan besar ditangan pemuda sepatu keds, doyan pakai jean, kaos lengan panjang turtle neck, dan menyetel lagu Police serta Beatles dengan volume hanya bisa disaingi penjual VCD bajakan di kaki lima.

Yang mengherankan Jay adalah Steve Jobs pernah berkoar “Jangan Pernah Percaya kepada pegawai usia 40-tahunan…..” Tapi kini ia yang usia diatas 40-tahunan malahan diperkerjakan untuknya.

Posted in tablet

Berfikir ala Steve Jobs, bolot sepotong


Steve Job, pendiri apple computer dikenal gigih, persisten, kalau sudah ingin mewujudkan VISI yang dipikirkannya. Waktu handphone masih tebal, berat dan rumit menggunakannya, ia sudah memerintahkan anak buahnya bikin hp dengan satu tombol. Keruan saja para pelaksana, yaitu anak anak muda pada nggerundel “ide gila…”
Satu watak yang dikenal anak muda apple pentagon adalah, telinga SJ tidak bisa mendengar kata tidak bisa, tidak mungkin. Dalam telinganya kamus tidak bisa, tidak mungkin sudah dihapus.

Posted in tablet

Berfikir ala Steve Jobs, canggih tapi tanpa manual


Pendiri perusahaan komputer terbesar, apple sekali waktu mengajak pegawainya memikirkan sesuatu yang saat itu dianggap revolusioner. Ia mau komputer tidak dibungkus dengan pembungkus yang besar, tidak berlapis lapis, sampai sampai setelah terima dari toko bungkusnya buru buru dibuang. Ia ingin peralatan canggih tanpa membuat pemiliknya langsung tekan tombol power dan perangkat sudah siap pakai tanpa menunggu proses boot, zonder baca manual kalau perlu.
Dan lahirlah IPAD yang dibungkus secara cantik, bisa dipamerkan di sudut rumah serta hanya satu tombol power. Maka kalau Steve Jobs mendengar kabar di Negeri katanya tanah surga, tapi orang jual beli komputer tanpa manual pada dipenjara. Jangan jangan kita sudah di neraka.

Posted in diskon

Harga Bikin TongPes, belum digunakan sudah kempes


20110823-210605.jpg
Sekali tempo saya beli pencegah bau ketiak disebuah Mal besar yang terletak dijantung Grogol, berpendingin udara, SPGnya ramah, barang-barang diobral murah (katanya).

Saya beli 200ml obat semprot ketiak, sebab kalau pakai barang yang satu ini saya selalu mengingat sahabat saya anak Lampung Aseli, Pepen, panggilannya yang mengajari saya bahwa lelaki di hawa tropik kudu pakai deodorant. Sejak itu kalau keluar tanpa semprot ketiak rasanya saya jadi bau macam orang India naik bus empet-empetan tanpa AC. Tapi untuk tidak terkesan genit, satu satunya parfum yang selalu dioles tiap pagi dan petang, ya hanya deodoran.

Warna kemasan kaleng hitam dan boleh dibilang sedikit kasar buatannya. Idep-idep sedang promo, maka saya beli buat serep. Maklum yang dirumah statusnya masih sedang IP (In Progress) saja belum habis. Jadi barang sengaja ditaruh di mobil, di jok belakang bersama kantong plastik berwarna hijau pupus.

Keesokan harinya waktu saya tengok, kantong plastik pembungkusnya sudah berisikan minyak sementara isi kaleng sudah nyaris kerontang. Rupanya, lantaran terjadi gagal produksi, cairan tersebut diam-diam menguap…

Merasa beli barang dengan kualitas kurang bikin puas, kami kembalikan ke outlet yang dari luar kelihatan bonafide. Tanpa banyak cingcong, SPG mengganti barang yang bocor.

Sekarang Deodoran yang kedua saya taruh di toilet, semalaman…

Wheladhalah, tobil anak kadal, besok pagi, isinya sudah tongpes.

Bosan saya mengembalikannya… Jangan-jangan oleh mbak SPG saya dikira pelihara jin, minumannya obat ketek.

Tapi ya itu konsekwensinya sekalipun saya suka aroma “rempah” – namun berhubung produk yang saya beli sungguh mengecewakan ..saya harus diniatin tidak membelinya lagi. Lalu ingat pesan anak saya “merek itu sudah menurun kualitasnya, pakai saja produk lain…”

Namun ada hikmah lain. Kalau peraturan penerbangan melarang membawa aerosol kedalam pesawat. Saya menasehati diri saya untuk percaya seribu satu persen. Coba kalau terjadi kebocoran diudara lantas terbakar… Tidak sulit membayangkannya.

Posted in kuliner

Tempe Mendoan Banyumas, penjualnya Flores


Setiap kali melihat gerai Tempe Mendoan, yang saya bayangkan berkelibat di benak kami adalah perempuan wajah manis ayu 35an, bernama Mak Kasih.

Asisten rumah tangga, yang semenjak bergabung dengan kami yang semula cuma bisa cuci baju, setrika dan masak. Kini mulai menggunakan pepatah Confusius – “Hidup Bagai Membuat Ukiran, pemahat harus selalu menajamkan pahatnya agar menghasilkan ukiran yang halus..” – Tegasnya Mak Kasih mulai “mengasah pahat” dengan meningkatkan mutu makanan gorengan termasuk tempe mendoan, risoles (kampung-tanpa daging) – tepatnya menu Vegetarian.

Dan kini ibu asal Cilacap, beranak 4ini sudah mulai sibuk membagi kerja di rumah kami dan bisnis gorengannya. Perlahan, sepeda berganti Sepeda Motor, rumah sudah dihiasi Kulkas semua dari usaha gorengan terutama Tempe Mendoan dan Risoles. HP Esia yang pernah kami hibahkan, semula dibantu 10 ribu perbulan agar bisa terima tilpun dari kami doang, sekarang sudah tidak perlu disubsidi. Bahkan sudah bisa terima orderan dari tetangga.

Jujur saja, ada rasa ketar-ketir, tenaga handal ini suatu ketika harus lebih konsentrasi dengan bisnisnya. Sekalipun selama ini BANK SYARIAH yang dipakainya adalah sudut sepi gudang kami tempat ia menyimpan uang tips, gaji.

Hari Sabtu lalu ada 4 perempuan di dapur menyaksikan demo ala mak kasih goreng risoles dan mendoan. Tak satupun dari puluhan risoles yang gagal goreng. Entah apa komentar YUMA kalau mak Kasih ikut master Chef. Kalau komentar saya meledek para ibu “Jangan Curi Hak Cipta Orang ya!” – Sebetulnya bukan gurau, ibu-ibu secara spontan selalu ingin tahu resep masakan seseorang. Padahal masakan ibarat main sulap, kalau rahasianya diketahui orang lain, bukan Magician namanya. Artinya tidak semua orang rela rahasia ramuannya di jentreng-jentreng pekada orang lain.

Hari Minggu lalu, terik matahari masih berasyik maksyuk di kepala, kami melewati penjual Mendoan Banyumas. Sekalipun tiap hari nyaris berbuka puasa dengan tempe mendoan, entoh kami keukeuh ingin buat studi banding. Walhasil masih 4 jam lagi baru bisa icip-icip.

Sambil menunggu mendoan di sreng-sreng, toko sebelah saya (istri), yang dasarnya suka bicara, eh nyerocos si Abang langsung diajak bahasa negerinya (Pasar Mbibis KulonProgo). Si abang berkulit hitam, berambut keriting hanya merenges lalu menjawab singkat “dari POLRES”

Saya pikir ada anggota bersenjata jual Mendoan emang sedang menyamar gerak gerik teroris. Rupanya kuping saya cuma bisa terima satu BAR, padahal siabang bilang dia ndak bisa bahasa Jawa sebab orang dari FLORES. Jadi Mendoan bukan cuma milik orang Banyumas.

20110823-202825.jpg

20110823-203024.jpg