Posted in kuliner

Tempe Mendoan Banyumas, penjualnya Flores


Setiap kali melihat gerai Tempe Mendoan, yang saya bayangkan berkelibat di benak kami adalah perempuan wajah manis ayu 35an, bernama Mak Kasih.

Asisten rumah tangga, yang semenjak bergabung dengan kami yang semula cuma bisa cuci baju, setrika dan masak. Kini mulai menggunakan pepatah Confusius – “Hidup Bagai Membuat Ukiran, pemahat harus selalu menajamkan pahatnya agar menghasilkan ukiran yang halus..” – Tegasnya Mak Kasih mulai “mengasah pahat” dengan meningkatkan mutu makanan gorengan termasuk tempe mendoan, risoles (kampung-tanpa daging) – tepatnya menu Vegetarian.

Dan kini ibu asal Cilacap, beranak 4ini sudah mulai sibuk membagi kerja di rumah kami dan bisnis gorengannya. Perlahan, sepeda berganti Sepeda Motor, rumah sudah dihiasi Kulkas semua dari usaha gorengan terutama Tempe Mendoan dan Risoles. HP Esia yang pernah kami hibahkan, semula dibantu 10 ribu perbulan agar bisa terima tilpun dari kami doang, sekarang sudah tidak perlu disubsidi. Bahkan sudah bisa terima orderan dari tetangga.

Jujur saja, ada rasa ketar-ketir, tenaga handal ini suatu ketika harus lebih konsentrasi dengan bisnisnya. Sekalipun selama ini BANK SYARIAH yang dipakainya adalah sudut sepi gudang kami tempat ia menyimpan uang tips, gaji.

Hari Sabtu lalu ada 4 perempuan di dapur menyaksikan demo ala mak kasih goreng risoles dan mendoan. Tak satupun dari puluhan risoles yang gagal goreng. Entah apa komentar YUMA kalau mak Kasih ikut master Chef. Kalau komentar saya meledek para ibu “Jangan Curi Hak Cipta Orang ya!” – Sebetulnya bukan gurau, ibu-ibu secara spontan selalu ingin tahu resep masakan seseorang. Padahal masakan ibarat main sulap, kalau rahasianya diketahui orang lain, bukan Magician namanya. Artinya tidak semua orang rela rahasia ramuannya di jentreng-jentreng pekada orang lain.

Hari Minggu lalu, terik matahari masih berasyik maksyuk di kepala, kami melewati penjual Mendoan Banyumas. Sekalipun tiap hari nyaris berbuka puasa dengan tempe mendoan, entoh kami keukeuh ingin buat studi banding. Walhasil masih 4 jam lagi baru bisa icip-icip.

Sambil menunggu mendoan di sreng-sreng, toko sebelah saya (istri), yang dasarnya suka bicara, eh nyerocos si Abang langsung diajak bahasa negerinya (Pasar Mbibis KulonProgo). Si abang berkulit hitam, berambut keriting hanya merenges lalu menjawab singkat “dari POLRES”

Saya pikir ada anggota bersenjata jual Mendoan emang sedang menyamar gerak gerik teroris. Rupanya kuping saya cuma bisa terima satu BAR, padahal siabang bilang dia ndak bisa bahasa Jawa sebab orang dari FLORES. Jadi Mendoan bukan cuma milik orang Banyumas.

20110823-202825.jpg

20110823-203024.jpg

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.