Posted in candi

Melihat Tandon Air Manusia Purba


Kalau prasasti dibuat atas perintah Rakai Kumbayoni pada tahun 750-an itu akurat berarti kolam air yang berfungsi sebagai Tandon (reservoir) air oleh manusia purba Indonesia ini usianya lebih dari 1.250 tahun. Ada dua periode panjang terjadi perubahan fungsi kawasan Ratu Boko. Pertama-tama ia digunakan sebagai asrama para Pendeta, lalu periode berikutnya dijadikan keraton.

Alasannya saat dilakukan penggalian ditemukan mantera yang ditulis pada lempeng emas, ada pula piring dinasti Ming yang menunjukkan penghuninya adalah negara dengan kemampuan finansial yang nggegirisi sampai mampu “impor” barang belah dari negeri Cina.

Hanya 3 km dari Candi Prambanan

Letaknya pada perbukitan Ratu Boko antara dua desa atau dusun yaitu dusun Sumberwatu (Sambirejo) dan dusun Dawung (Bokoharjo), kedua desa ini masuk dalam kecamatan Bokoharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Jauhnya sekitar 3km selatan Candi Prambanan. jadi kalau anda kebetulan ke Prambanan, bisa saja cari pasar Prambanan, lalu jalan Piyungan dan jleg.. Sudah sampai.

Sekalipun namanya bukit dengan ketinggian cuma nyaris 200 meter dpl, membuat dengkul tua saya berbunyi pletak pletok dan napas ngoz. Namun semangat 56 saya sulap menjadi 26.

Dengan udara panas luar biasa saat itu saya tetap bertekad menyelesaikan etape melihat Candi yang masuk dalam cerita Nagasasra dan Sabukintennya – SH Mintardja- saat tokohnya terjebak pada satu pelataran dimana Harimau Betina dari Magelang melakukan serangkaian upacara rituil mengorbankan anak gadis desa (fiktip) , dan faktanya mahluk yang bisa dilihat dipelataran candi hanya kambing/biri-biri milik penduduk.

Sayang saya tidak bisa terlampau lama di sini, karena waktu yang diberikan oleh penyelenggara tur cuma satu jam.

Ketika kendaraan jemputan meninggalkan situs Ratu Boko, sambil melahap kerupuk terbuat dari daun singkong – rasa paru ayam, saya tak habis berfikir peradaban tergolong maju untuk jamannya harus tunggang langgang tenggelam ke perut bumi sementara bangunan lebih purba milik bangsa lain, berdiri dengan megah.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.