Posted in Uncategorized

Halilintar dan Radio Geledeg


Menjelang kedatangan musim hujan, daerah saya biasanya sudah didahului oleh musim petir, gelap, gledek, halilintar. Kalau menurut buku masa saya kecil, petir akan masuk melalui tiang-tiang atau bangunan yang menjulang tinggi. Tetapi bapak-bapak PLN sekarang menambahkan, petir bisa merambat dari saluran tilpun juga. Saya hanya bisa pasrah sambil ancang-ancang bagian mana dari rumah yang akan diserang petir. Secara pencegahan yang paling jos, manakala sudah mendung, alat listrik dimatikan dengan cara dicabut dari colokan.

Tetapi kejadian 3 Nov 2011 kemarin, diluar dugaan. Saya masih dikantor, keluarga masih diluar rumah ketika mendadak kilat dan guruh saling bersahutan. Begitu masuk rumah, TV segera dicabut, namun kalah cepat. Sebuah sambaran geledek sempat ngeledek dengan mengeluarkan lelatu api diantara sela colokan lalu bersarang di PC rakitan saya.

Layar monitor KONDE langsung menghitam alias gelap.Suara pletik-pletik macam orang mendekatkan lengan ke TV yang barusan dimatikan. Karena takut terjadi kerusakan, UPS yang terhubung dengan PC dan terhubung dengan Kamera Sekurity dimatikan oleh penghuni rumah.

Pulang dari kantor, setelah mendapat laporan drama rumah tangga. UPS saya hidupkan, sepertinya aman

Komputer saya hidupkan, aman….

CCTV saya aktipkan aman…

Tapi eit nanti dulu..

Sebab setengah jam kemudian… Display CCTV pada layar monitor saya memperlihatkan Seismograph macam Kakatau pada Agustus 1883. Keesokan harinya speedy seperti ngaplo tidak berkedip. Pertanda tidak ada aktivitas. Tilpun saya angkat, suara tone tidak terdengar. Maka jaringan tilpun Telkompun sepertinya lumpuh.Angka “147” biasanya dijawab dengan nada iklan, nada tunggu dan nada hubungi kembali.

Anti Petir sudah diperdalam….Apalagi..

Hebatnya saya punya tetangga kalau setel radio Dakwah mampu menyaingi gempuran petir. Ibarat volume satu sampai sepuluh, dia bisa setel sampai 15. Pinternya, radio setelah disetel sekeras halilintar lalu ditaruh diluar, dikamulflase karung, sementara kamar dan jendela mereka ditutup rapat-rapat.

Jadi yang disuruh dengar-dan terkagum dan budeg tetangga sekitar. Kami hanya mengagumi sampai jam 23:00 dan menunggu lagi mereka “online” sekitar pukul 05:30. Kalaupun pada jam ditentukan mereka belum online, mudah saja. Setel saja pesawat TV, maka mereka akan melompat menuju pesawat radio untuk menyetel sampai pol, lalu kembali tidur.

Dan ajaib, radio ini belum sekalipun terdengar tersambar petir

Atau sesama suara halilintar tidak boleh saling mengganggu…

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.