Posted in kuliner

Dari Stress Makan Kepiting, terbitlah Makan Kepiting Stress


Biasanya saya stress makan kepiting. Capitnya menggiurkan, giliran mau dimakan musti cari tang pemecah tulang. Selalu banyak bagian tubuh yang tidak bisa dikunyah lantaran cangkang kepiting yang keras.

Maka Jumat kemarin saya cuma bisa “he-eh” ketika diajak makan kepiting Lemburi atau Soka yang diiklankan oleh rekan saya, cangkangnya boleh dimakan. Mirip orang stress.

SOKA = Cangkang Lunak

Bagaimana tidak stress. Dari soal nama, generasi saya amat mengidamkan bisa bikin rumah dengan genteng buatan SOKA. Cetakan tanah liat merahnya halus, kokoh dan tahan lama. Semangkin kena panas matahari semangkin kuat. Kok sekarang malahan dikonotasikan Kepiting “SOKA” Cangkang Lunak.

Ada juga sih yang kasih nama Kepiting Lemburi, atau yang tebal peri Kepitingannya menyebut mereka Golongan Kepiting Bakau tapi terlanjur dilecehkan sebagai kepiting ecek-ecek.

Stress lain dari kepiting ini adalah ketika CAPIT kebanggaan mereka dipotong oleh sang Induk Semang. Alm Benyamin Sueb bakalan tidak bisa melantunkan lagu “BANG JAMPANG” – yang dalam liriknya ada “Kepiting Menjapit Kerang, Kerang dijapit Gelombang Batu.. Pasang Kuping yang terang, Nih kenalin Jampang Jago nomor Satu..”

Kalau saja di dunia Kepiting ada wayang, maka pak dalang kepiting pasti mengumpamakan kepiting loyo tak bertenaga sebagai YUYU ILANG JAPITE.

Seperti tak putus dirundung azab – kaki belakang kepiting yang bersegmen-segmen juga di amputasi agar mereka tidak berlari kesana kemari, apalagi lantas membuat lubang dan sembunyi ke rumah tetangga. Paling disisakan kaki depan yang mau tidak mau – kalau normal saja jalannya sudah nyamping, sekarang menjadi Kepiting Ngesot.

Daripada stress, maka para wadya bala YUYU atawa kepiting berlomba mempercantik diri dengan kerap berganti kulit cangkang. Mereka tidak sadar tindakan ini memicu sang pemilik segera memanen mereka untuk dilumuri pakai tepung dan campuran Telur Asin menjadi masakan lezat di restoran.

Model : warga Kepiting Pondok Geulis – Jalan Margasatwa
Spesifikasi Teknis: Asal jepret pakai HP

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.