Posted in Uncategorized

Obral Laptop


Anak muda berkaos biru bertuliskan “Harvey Norman” ini berdiri diatas meja yang semula laptop digelar untuk dipamerkan. Disebelah kirinya nampak karton bertuliskan ukuran vital dan jerohan laptop dan harga saat pameran berlangsung.

Untuk menarik perhatian ia meniup priwitan sehingga mau tidak mau mengundang rasa ingin tahu pengunjung pameran komputer di EXPO- SINTEX Changi Singapura.

Tahu bahwa usahanya berhasil dia berdiri semangkin jinjit dan tangan kanannya menggondol laptop terbuka sambil diayunkan kekanan kekiri persis pedagang sarung dikawasan Tanah Abang. Dalam bahasa Inggris dia berteriak .. Laptop ini light weight, tapi “strong” tahan banting, touchpadnya sudah tidak beda jauh dengan IPAD, biar Laptop tetapi anda memiliki sensasi macam Ipad.

Sabtu lalu di akhir bulan November niatnya menengok Lia, putri saya. Apalagi melalui BB (cara termurah dan gratis saling connect dengan keluarga di LN) saya diimingi sekotak durian Malaysia. Tapi, kejadian yang paling gress adalah kontrak saya dengan perusahaan sudah tidak diperpanjang lagi. Saya boleh ambil pensiun. Lia malahan nge-BB- horee, Papa (saya) ke rumah Lia saja.

Tanpa persiapan, kami langsung pesan tiket ke Punggol.

Nita, pemilik -travel biro langganan keluarga, nampak mendelik ketika kami memesan tiket kepadanya. “Bapak tidak sari-sarinya- pergi macem kebelet..” – Sebagai pebisnis, perempuan lajang ini memiliki ketajaman indra bathin. Wanita Cina Bangka ini (maaf bukan rasis), rada memilih pelanggan. Ada kerabat saya yang cerewet kalau pesan tiket. Nita biasanya meladeninya dengan mode “Belanda Masih Jauh”. “Untung Tiket Tipis, pelanggan cerewet – mending cari sendiri dah di toko sebelah..” – gerutunya.

BAN PECAH

Begitu “mak jleg” pesawat GA mendarat di Changi Singapura, bb sudah mulai teriak “ada pameran komputer besar-besaran di EXPO, hari terakhir (27.11.11)”. Seperti kata Asmuni, masalahnya selalu ada “akan tetapi” yaitu dari Jakarta saya membawa berporsi jeroan kambing bang Amran, langganan sup kaki kambing. Lalu puluhan tusuk sate ayam dari Bekasi, bakso daging dari tantenya dan berdus Mie Kering ber MSG. Maaf kata – menantu kesayangan saya matanya bersinar-pendar kalau sambil kerja bisa mencoleki bumbu mie instant.

Untuk menghindari makanan “ngiler” akhirnya diputuskan ke Apartemen Punggol, baru ke pameran komputer.

sejak di Changi saya seperti kebelet setengah berlari membawa kopor warna biru muda yang sudah bertahun-tahun malang melintang melayani keluarga, bahkan melayani (dipinjam) kerabat lain.

Tas ini bepergian ke luar negeri lebih banyak ketimbang saya pemiliknya. Sejak itu kami jatuh cinta pada merek berinitial “D” ini. Cuma mendadak tas kabin seperti diisi GrandPiano. Ketika menoleh kebelakang saya lihat serpihan plastik di karpet bandara. Huweladalah, satu ban pecah pertanda minta pensiun (juga).

Apa boleh buat, kopor ditarik juga kendati jalannya persis cewek pakai hak tinggi tapi sebelah. Suaranya tas juga menderu bergemuruh macam tas KW.

Beli Laptop macam beli kacang Goreng..

Kawasan Expo Sintex adalah kawasan timur Singapura. Hari menunjukkan jam 12 siang. Kepala seperti sudah melorot ke perut. Maksud saya pikirannya cuma nasi. Apalagi kebiasaan saya mengunyah Wrigley harus dihentikan dinegeri ini.

Dalam perjalanan, kami sudah mulai menyisihkan merek Laptop, dan mencari tiga terbaik. Harga-harga masing Laptop juga sudah terpampang disini.

Persoalannya tinggal mencari tahu physical dan terakhir “anggaran” yang tersedia. Melihat penampakan fisik, pilihan saya fokuskan ke laptop HP Pavilion sekalipun mengusung core i5 – tapi apalah kebutuhan seorang pensiunan jilid 3 akan sebuah laptop. Paling buat kirim artikel ke Wikimu, atau blog saya.

Ada 3 stand HP kami datangi, saya hanya menilai bagaimana pramuniaga menjelaskan barang dagangannya. Ternyata hanya pramuniaga dari Harvey Norman yang bisa menjelaskan seluk beluk komputer secara menarik.

Yang bikin celegukan adalah obralan TV LED- 55 in, HDMI dan bisa internetan. Persoalannya siapa yang mau menggotong TV segede GABAN. Rupanya anda diberi gratisan trolley khusus angkat TV dan bisa fit dibagasi taxi..

Yang beda, obral macam manapun tetap tertib. Mungkin budaya antrean pakai Joki belum diterapkan oleh pedagang nakal disini.

Saya sempatkan melihat trend komputer yang saat ini sudah menggabungkan cpu dengan monitor. IPAD versi lain merek.

Produk favorit saya Apple tidak lupa saya kunjungi. Tapi walaupun Bumi Berguncang, Langit Kelap Kelip, Apple harganya manteng padahal spesifikasi teknis masih berada di bawah pesaing lainnya.

Punggol27 November 2011

Laptop Pavilion g4 jatuhnya SIN 799=5.6jt. Kalau anda urus GST bisa cash back 7%. Dalam keadaan normal Sin $1099.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.