Posted in simcard, singapore, singapura

Oh Pulsaku lari Gagah Berani


Singapore prepaid SIMCARD. Need another SIN$18 to activate BB up to one week

Baca di internet, banyak yang bertanya bagaimana mengaktipkan BlackBerry dinegeri Singa ini. Kalau menggunakan SIM card negeri, biayanya 150 ribu per hari. Dan jangan terlalu percaya penuh kalau ada yang bilang 3 hari pertama gratis sebab setelah ada iklan, biasanya Juklak dan Juknis sering tidak sinkron. Itupun tidak dijamin jalannya tidak endut-endutan.

Semula saya tidak terlalu memusingkan soal ini sebab namun sekali tempo ada kerabat sampai seminggu pakai BB-nya tidak bisa dipakai sehingga mendorong rasa ingin tahu kenapa.

Pertama saya hanya bisa menyebut satu produk yang yaitu STARHUB. Biasanya pusat pertokoan besar yang menyediakan Simcard PREPAID (mereka baca pripe) for Blackberry. Kasus saya pada bulan Desember 2011 membeli di pusat pertokoan di Sengkang.

I want to purchase blackberry prepaid for one week,” demikian saya menyebut kepada penjualnya.

I need your passport – seru sang penjual

Setelah passport diserahkan, discan, dan dicopy. Lantas simcard yang nomornya telah anda pilih dikletek salah satu dari untuk ditempelkan ke fotocopy paspor anda. Saya juga berlaku sama menempelnya sisa stiker dibelakang BB saya untuk menghapal nomornya.

SimCard ini banderolnya $18 namun kita cukup bayar $15. Begitu simcard dimasukkan pesawat BB dia sudah bisa aktip menilpin dan sms-an dan umurnya simcard adalah dua kali tanam jagung.

Tapi pulsa anda belum masuk quota untuk BlackBerry-an jadi harus di topup. Dalam kasus saya karena cuma akan dipakai 7 hari maka biayanya adalah $18 for 1 week massa laku BB. Total Kartu Kredit digesek adalah $33

Aktipkan BB dengan teknik *122#. Kalau sudah mengaktipkan, CABUT BATERE HP untuk 10menit. Makin lama makin baik. Kalau tidak, SMS yang dinanti tak kunjung datang. Sementara menunggu proses registrasi dilakukan pedagang, 30cm dari kiri saya ada IPHONE terbaru yang sedang dicoba oleh calon pembeli. Singaporean sebagian besar menggunakan IPHONE sehingga iklannya dimana-mana.

Lain dengan pengalaman di Kuala Lumpur. SIMCARD nlentreh dimana-mana alias mudah didapatkan dan prosedurnyapun lebih mirip Jakarta. Saran lagi untuk BB pakailah mereka sudah kondang. Misalnya Maxis.

Agustus 2011, Jalan Sudirman Yogyakarta.
Lepas check in di Hotel Phoenix Yogyakarta, saya lihat Tablet saya mulai kedut-kedut menerima signal lokal. Saya memang sengaja mengaktipkan anti Roaming. Satu-satunya jalan adalah mengganti SIMCARD Jakarta dengan SIMCARD Yogyakarta mencari SimCard local dan memotongnya menjadi ukuran MicroSIM Card.

Ternyata saya harus menilpun Operator agar bisa dipakai segera. Untuk mengisi pulsa kebetulan saya melihat banyak pedagang pulsa sekitar “Kretek Gondolayu..” – Jembatan Gondolayu.

Seorang anak muda gemuk dan berkaos kutang macam penyanyi Klantink nampak mangkal dengan HT yang tak henti-hentinya menyalak, roger-rojer. Kulitnya hitam terbakar matahari, cuma ndak punya kerut kening sehingga pertanda perjuangan belum banyak (kata Ebiet G Ade).

Etalase kaca tembus pandangpun sudah seperti termakan matahari terlihat dari amplop pulsa mulai nampak lusuh. Saya beli voucher senilai 50ribu. Tetapi sampai balik ke Jakarta benda ini belum dipergunakan.

Di Jakarta, saya baru ingat masih punya simpanan Voucher yang saya beli di Yogya.

Perlahan voucher saya gesek dengan kuku saya dan berharap nomor akan muncul. Sayang dengan berlalunya cat penutup “nomor” ternyata tidak ditemukan nomor dibalik cat. Jadi ada rahasia dibalik rahasia. Australia lebih mudah membeli topup sebab pedagang diijinkan mencetak jumlah pulsa yang diinginkan dan kita menerima secuil kertas thermal berisikan jumlah pulsa, harga dsb.

Gara-gara pernah kerepotan cari MicroSim yang hanya bisa didapat di pusat-pusat kota saya nekad membeli clipper khusus MicroSim.

Di POINS Square, Lebak Bulus, pemotong ini cuma seharga idr 110 ribu. Ada sensasi tersendiri saat memasukkan SIMCARD lalu memotongnya dengan harap-harap cemas.

Purchase old topup voucher. Too much scrubbing on the card. The number on paper vanished..in Australia, they give you printout direct from small printer. In Singapore use STARHUB provider

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.