Posted in serangoon, singapore, singapura

DurianGasMIC


Awas kena ilmu belah durian

Durian Sultan emang kampiun. Durian Mountain King juga Jawara.

Struktur daging yang mulus macam bahunya Sahrini ini kalau dicepol serasa menggigit lempok (dodol juga) dan begitu ada reaksi kimia dalam mulut baru deh kepala rasanya “theng” ada sensasi durianGASMe.

Ini yang ruar biasa. Freud saja belum tahu..

Kendati harganya sedikit Mendongak (lawanan miring) ketimbang di negeri kita jangan kecil hati. Jaminannya kalau sekali coba Sultan a.k.a D24, kaya kata iklan Komeng – Yang Lain(g) – lain ketinggalan bisa-bisa ndak kepingin yang lain.

Uniknya lagi pedagang durian di supermarket menganut sistem “NON COMPLIANCE” (tidak patuh). Coba saja datangi penjualnya di supermarket macam GIANT – Singapore, maka penjual ini punya DISPENSASI untuk tawar menawar disitu dan begitu harga cocok serta halal dalilnya untuk icip-icip maka kasih order “BHONGKOS” macam iklan Hary Moekti.

Soal mesin yang menelurkan kertas berisi aritmatika – vendor Durian sih nggak bakalan tersentuh teknologi. No receit..Lah..

Pengalaman kami kalau niat beli durian, siapkan uang pas. Misalkan anda lihat durian dibanderol $25/kotak gabus. Siapkan saja uang segitu.

Penjual durian ilmunya ngalah-ngalahin Angku-angku Pariaman, Lubuk Sikaping, atau Padang Panjang yang kondang pinter berdagang. Dengan kemampuan multi langua dia punya omongan manis-manis dodol tetapi bikin kliyengan, tidak sadar dompet jebol.

Kalau anda angsongkan lembaran $50, tukang belah duren akan menggocek anda kekiri, kanan, depan balik dekat gawang. Dan buntutnya anda bisa dipengaruhi beli durian sampai $50. Atau lebih lagi… Bilamana anda setor $30, alih-alih kasih kembalian, mereka membujuk anda untuk tambah lagi “sedikit” – lalu “breg” kita membeli dan membeli. Tontonan ini bagi saya seperti pelajaran ilmu marketing zonder bahasa njelimet macam “margin, stock, reaksi pasar..”

Cara mereka menggocek yang luar biasa… Kita musti pasang muka NAZI Jutex untuk mengatasi cara bicara mereka… Entoh tetap saja Aku suka tertipu mereka..dan tertipu lagi..

Mungkin ini ya yang dinamakan NAZI Mabok Durian.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.