Posted in singapore, singapura

Rojak Punggol lengkap dengan Tusuk Sate Bambu


Sekitar jam 11 pagi saya mendatangi lapak bertuliskan ROJAK HOT LINE, yang menerima pesanan via SMS. Pemiliknya seorang Encim tua yang tangannya tidak pernah berhenti bekerja, kerok sana, korek sini, lap sana, lap sini persis gambaran masa kecil saya bahwa perempuan Cina selalu aktip. Melihat saya datang,  tangan yang memegang lap berhenti. Perempuan bertubuh kecil dan bungkuk ini melihat saya langsung bilang “No Open… Come back afternoon..

Detik itu kalau nama saya Mimbar Magrib (sudah senja) mendadak ngelungsumi (ganti kulit) menjadi Mimbar Subuh – lantaran saya persis anak kecil minta uang beli es lalu disemayani (dijanjikan) nanti – setelah makan siang, kerjakan PR, kalau betul semua baru “beli es dipertimbangkan..

Lia putri saya malahan bilang, kadang kalau bahan rujak (buah-buahan) tidak tersedia di pasaran, mereka tidak akan buka jualan. Weleh weleh. Tapi jangan heran para sesepuh ini tinggal satu blok dengan kami. Bahkan seorang nenek penjual KopiTiam, dia tinggal di lantai 16 – dan lantai ini kelas premium..

Jam 15:00, belum kapok dimarahi, saya mendatangi kedai SMS Rojak yang ngemper di komplek Punggol Meadow ini. Si nenek sudah tidak nampak. Mungkin   istrahat, rupanya digantikan seorang lelaki entah anaknya-entah cucunya.

Anaknya memotong Timun maupun Cakwe mirip peserta lomba masak di ANTV disuruh memotong wortel, kudu sama size dan sudut potongannya.  Tak heran  setiap satu guntingan cakwe selesai bibirnya bergerak kekiri pertanda lega. Mungkin harusnya dia masuk kedokteran jurusan bedah otak mengingat caranya memperlakukan penganan yang hendak dihidangkan.

Permintaan saya untuk menambahkan “Juhi” – ternyata tidak terkabul lantaran  “Too expensive la, one piece catlle fish cost one dollar, people no-want to buy..They just want simple rojak.. Sorry.

OH MINUMANKU TUMPAH

Rencananya lepas beli rojak, beli sekantung plastik, supaya jangan kepedasan saya beli sekantung Lime Juice di kedai lain yang jual juga sudah usia pensiunan tapi kalau malam dua Carlberg bir masih kuat.  Ada incident sedikit di kedai ini… “One Bag Lime Juice..” saya sebutkan dengan keras, maklum didepan saya ada tiga nenek vendor yang berceloteh sambil ngisik-isik (merapikan) dagangan.  Kata “take away.” saya ganti dengan bahasa isyarat tangan saya buat gerakan mengait sesuatu lalu saya naik turunkan  persis seperti bikin teh celup…

“Jrenggggggg…” minuman diberikan dalam gelas ditambahi batu es…. Saya protes, “I want in bag, TAKE AWAY…” – mukanya seperti rasa minuman yang ia hidangkan kuning pucat dan kecut.. Ternyata saya salah Kode “take away”. Si encim salah dengar. Dia pikir saya minum ditempat. Salahnya dadri tadi kok ngobrol terus. Kepada pemilik toko bahan bangunan Gajah Suro di Grogol nanti saya harus menyampaikan pengalaman ini untuk stop chatting kalau sedang melayani pembeli.

Cita-cita saya adalah “tiru-tiru” para apek tua, makan di Kursi Taman, bungkusan minuman dikaitkan disalah satu batang menonjol dari motif bunga. Celaka, ternyata saya salah letak. kantung berisi minuman jatuh dan saya hanya bisa terbelalak. Ketimbang kena masalah nyampah, saya tinggalkan kursi taman dan pindah ke lokasi tak  jauh dari sana.

Penjual Rojak ini memotong Ketimun atau Cakui sama hidmadnya dengan orang Bali bikin pagung Wisnu.

Sambil duduk di kursi besi lokasi baru, perlahan  kantong plastik “asoi” – ini bahasa dari Bandar Lampung untuk kertas kresek, saya buka.  Diatas kotak sterofom saya menemukan tiga “sunduk” tusuk sate. Rupanya cara makan Rojak di Singapore adalah dengan tusuk bambu sate. Tusuk gigi mengesankan benda bekas, berbau sehingga jarang diperlihatkan dimeja-meja.

Lalu Rojak yang mestinya rojak cingur zonder daging ini saya pilah-pilah jerohannya. Ada Nanas, ada Ketimun, ada Jambu Air dan yang unik adalah Cakui Goreng.  Rasanya mirip rujak cingur. Sekarang saya bingung, rasa pedas Rojak Punggol sudah mulai menggigit. Tapi es kantung sudah kadung tumpah… Sial bener.

Rojak Punggol.. Potongan ketimun, nanas, jambu dicampur Cakwe. Cara makannya ditusuki pakai tusuk sate

mimbar <dot >saputro <at> yahoo <dot> com <dot> au

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.