Posted in musang

Pernah coba Kencing Luwak


Ini tidak ada hubungannya dengan pengobatan alternatip yang glak glek “nyeruput-hangat-hangat” – air seni sendiri. Apalagi sebagai campuran Kopi Loewak yang kondang itu. Juga bukan musang berbulu ayam, juga ndak ada hubungannya dengan cerita favorit saya – komedi “Mencari Musang Berjanggut..” – jadi ingat dengan Taguan Hardjo pelukis komiknya.

Pada jaman jahiliyah (muda dan jahil) saya menggunakan fanatik deodorant dan parfum semprot merek “J” yang dibuat macam cairan berwarna emas padahal saya melihatnya ya mirip pipis musang. Menggunakan pewangi  juga gara-gara ojok-ojokan majalah pria  (ala MH tahun jebot, 1970-an), atau majalah Aktuil, bahwa pria yang mengenakan parfum berasal dari kelenjar musang akan menarik betina (musang). Eh masih ditambahi kata-kata menghipnotis – Pria Tanpa Deodorant layaknya hidup diabad Flintstone…- Kontan saya ketakutan sampai terkencing dan percaya tanpa dibaiat lantas menjadi militannya sampai sekarang.. Tanpa iming-iming ..Duh..

Tapi kan repot kalau sampai bawah bahu ada penampakan macam Ayu Ting-Ting yang ngetuk (seepage)  waktu pakai seragam Marinir.

Tapi sampai berbotol habis belum ada betina Yogya yang tertarik kepada saya. Sehingga saya musti mencarinya di Grogol kendati ujungnya keturunan Lor pasar Mbibis Yogya- masih pernah pernahan dengan pak Harto – sebatas pak Harto dulu doyan pernah order Tongseng SORSEM -Mbibis (Ngisor wit Asem), kakek istri saya juga .

Tapi setidaknya bau kelenjar musang (kata iklan) sangat melekat cinta dalam ingatan saya.

Karena kejadiannya sudah berlangsung diatas strip 40 tahunan lalu – maka saya hidung saya sempat kembang kempis ketika kamar mencium aroma macam barusan dijadikan gudang beras curah ala DOLOG yang disemprot parfum Pandan biar terkesan beras mahal. Ini artinya ada mahluk dilangit-langit rumah. Dari hasil kamera sih ada dua musang mungkin sepasang, mungkin lebih  yang menggunakan langit-langit rumah saya untuk tempat bercengkrama.

Mereka bisa datang dari mana saja-biasanya masa-masa mirip perang Diponegoro (18:25-18:30).  Irama musik kedatangan mereka mirip banting tutup kloset duduk. Gedombrang. Lalu terdengar langkah sang kapiten musang ternyata tidak prok-prok melainkan gedebak gedebuk.

DARI PANDAN TERBITLAH PESING

Lantaran ada suara berisik masih diikuti dengan harum macam pandan dicincang halus dan diberi minyak klentik macam embah saya kalau bikin ramuan cem-ceman. Saya kuatir penghuni rumah  mulai berfantasi mengedarkan edisi “uka-uka.”

Ya sudahlah – pikir saya rumah kedatangan musang, ular, kodok kesasar  artinya mereka merasa tentram. Apalagi saya punya rekaman sepasang musang dilanda asmara mereka pergi berdua (lagu Tety Kadi 1970- sepasang rusa). Saya pikir mumpung masih banyak gerumbulan biarkanlah geng musang hidup aman di alam nyata. Entah untuk berapa lama.

Tetapi makin lama selain bau pandan kursi yang saya duduki rasanya basah. Ternyata pak dan bu musang iseng memberi hadiah “pandanus lotion” dari langin-langit sana dalam jumlah dari kursi melebar ke lantai termasuki membasahi kopor kerja saya yang sejak 25 November mulai istirahat tidak bawa tagihan macet sana sini… – Sepertinya generasi muda musang balas dendam – “dulu suka parfum dari tubuh eyang moyang, sekarang saya kasih “aselinya”.

Terpaksa deh, malam-malam pak Lanjar asisten pribadi harus mematikan Jisamsunya karena kebagian cari pel.

Musang, musang mbok kalau kebelet keluar sana… Tapi ya kalau Musang Bisa Ngomong – apa ente tidak tahu diluar sana Badai Halilintar, Hujan Lebat sampai sarang tergenang air bagaimana akan cari mangsa  – mana tahan BRUR.

Cuma ya itu keesokan harinya sisa cairan pliket (lengket) mulai  mengering, nah baru deh ada bau pesing brang-breng mangkrak disekitar saya mengetik… Tiga bulan lalu, kencing mereka dengan mulus mendarat ditarget yaitu kasur tidur saya. Semula kami saling curiga mencurigai, jangan-jangan penyakit beser kakek nenek mulai datang tanpa disadari. Tapi pakaian kami kering semua.

Pengalaman menciumi kencing 9 adik saya (dan mencuci popoknya) ditambah dua anak saya (tapi ndak pernah cuci popok) maka bau pesing (plus pandan) bung Musang jauh lebih sopan ketimbang anak manusia.

Judul renungan ini mustinya.. Rumah macam ditinggali ……. yang pesing kencingnya.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.