Posted in garuda

Tas di kunci, dibebat macam mumi, entoh masih di congkel


Tas yang dirobek bungkusnya (plastik Wrap) dan di congkel kuncinya dalam perjalanan Yogya-Jakarta
Tas yang dicongkel dalam perjalanan Yogya - Jakarta

Pagi ini Sudiharto, Jumat 27-Jan-2012 sudah berdiri di depan loket Garuda, Yogyakarta. Tas bagasi sudah di kunci pakai kunci kombinasi bukan ecek-ecek. Ia sepertinya belum merasa sip. Tas ia seret ke jasa packing (wrapping) yang tersedia di bandara Adisucipto. Tas ditaruh di piring besar, lalu sementara tas diputar maka plastik transparan (saran wrap), ditempelkan macam perban para mumi jalam dulu.

Maka ketika petugas counter checkin Garuda menanyakan “ada barang berharga seperti Uang atau Perhiasan dalam bagasi“- maka Kakek bercucu satu yang tidak pernah bisa kirim SMS dan anti kartu ATM ( Kalau kartu kredit ia kepentok di Luar Negeri sehingga terpaksa punya), cuma menjawab tidak ada.

Ahli bedah ini sedianya akan ke RSPAD Gatot Subroto  Jakarta guna  menghadiri seminar teknologi baru dari Jerman mengenai Akupungtur dengan menggunakan pancaran sinar laser. Jadi wajar yang dibawanya cuma buku kedokteran. Apalagi ia akan ketemu dengan Dr. Weber sang pencipta alat tersebut. Maka tak heran tasnya berisi daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada Dokter asal Jerman tersebut.

[Katanya di Jakarta juga akan ketemu penderita stroke yang setelah di infus pakai sinar Laser setiap hari @ 30 menit sekarang tangannya yang kaku dalam 10 hari sudah bisa bergerak lemah.]

Sampai di tempat tujuan, Grogol- Jakarta Barat , penampakan bagasi sudah menyebarkan aroma pemandangan ANEH. Tas yang sudah dibebat plastik macam mumi Firaun sepertinya sudah dipotong dibagian kunci. Dan Gembokpun sudah bengkok-pertanda dibuka paksa, apalagi pegangan zippernya.

Tas Bagasi yang dirusak pencoleng Bandara (Adisucipto atau Cengkareng)

Ternyata kejadian ini bukan pertama kali saja. Sebagai Frequent Flier Yogya-Jakarta paling tidak sebulan sekali, maka tasnya selalu frequently damaged akibat tangan-tangan tikus Bandara Adisucipto atau Cengkareng?.

Jadi masih efektifkah membuang uang untuk sebuah proteksi yang tidak kita dapatkan.

Mimbar Saputro

29-Jan-2012

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.