Posted in adam air, air, Air Force One

Kantong Plastik A4 pembuka rahasia seorang Ayah


Siapa nyana, kantong plastik ukuran A4 yang biasa dijual seribuan per lembar di pasar Grogol, mampu membawa seorang sohibat saya sebut saja mbak Ning, seorang just simple instruktur kebugaran, menghadap ketua PMI yaitu bapak Yusuf Kalla dan Istana Merdeka menghadap Bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Mudah-mudahan keluarga mbak Ning yang sebentar lagi akan memperingati satu tahun kehilangan IMAM rumah tangganya mas Tanto dalam kecelakaan pesawat tempo hari. Tidak keberatan akan tulisan ini.

Almarhum Mas Tanto memiliki kebiasaan menaruh semua surat berharga seperti KTP, SIM, Kartu Kredit dalam kantong plastik sebelum menjalankan tugas sebagai Teknisi pesawat. Saya meniru yang sama sebab tahu bahwa tas laptop, tas kamera, tas sandang kita umumnya sering “ngepleh” loyo kalau terkena hujan, semburan air laut saat berlibur.

Dan dalam tragedi pesawat yang menimpa mas Tanto, salah satu alat identifikasi yang masih dipercaya adalah tas pinggang kesayangannya yang didalamnya sudah tergenang minyak Avtur tetapi tidak sampai merusak dokumen. Mbak Ning sang istri dalam kesedihan masih menyimpan peninggalan suami tercinta dan CellPhone-nya.

Lalu suatu saat – HP almarhum berbunyi dan seseorang mencoba menghubungi almarhum (tidak mengikuti kejadian kecelakaan) sebab diluar dugaan, mas Tanto adalah pendonor darah kelas EMPU sehingga penghargaan harus diberikan oleh Ketua PMI dan Presiden Pribadi. Tetapi ini negara semua harus ada hitam putih. Sekalipun membuat eKTP nggak kunjung beres sampai sekarang, tapi lembaga negeri selau meminta fotocopy KTP, dan KK.

Beruntung kartu Donor, KTP bahkan kartu keluarga mas Tanto yang menunjukkan 4 digit sebagai donatur ada didalam kantong plastik A4.

Mbak Ning sedikit panik, sedih campur dengan bangga ketika ia harus pakai Kebaya, Sanggulan, Jilbab lalu menemui pak Yusuf dan pak SBY. Mimpipun tidak pernah ibu dua anak ini ketemu Presiden RI.

Sewaktu ditugaskan dalam divisi Mudlogging, kemudian Directional Drilling, saya menggunakan A4 untuk membungkus “Invoices dari teman Spesialis  Bor Miring sumur minyak” yang sudah ditandatangani oleh pengawas lapangan (Company man). Tujuannya kalau ada kopi tumpah atau kehujanan, dokumen tetap selamat.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.