Posted in fuda

Berobat ibu (mertua) sampai ke Cina


Berobat (mertua) sampai ke Cina Brrr…

Kami sudah tahu, semenjak ditinggal oleh Mendiang suaminya dua tahun lalu maka seperti terjadi penurunan kesehatan mertua perempuan saya. Anak kedua kelahiran Bandung tahun 1940 ini alih-alih seperti mertua malahan nyaris menjadi anak saya nomor tiga setelah Lia dan Satrio. Kalau tahu saya akan pergi, misalnya menghadiri “keriaan” – tak jarang ia sudah ganti baju “macak, bengesan, celak” karena perasaannya diajak. kalau sudah begini, ya saya ajak saja.

Dan resikonya, nanti beliau dikira istri saya (mukaku muka boros), sementara pemilik STNK dan BPKB tubuh saya, dikira ipar atau anak, malahan… Bulan Maret 2012, kami wanti-wanti bilang bahwa suami Lia kakinya patah waktu main bola, ada ligamen putus dan harus dioperasi. Mendengar putri nangis, hati bapak dan emak zonder pikir panjang langsung cabut kesana. Padahal sejak pensiun Januari 2012, teman saya sudah ajak-ajak kerja lagi… Biasanya sesampainya di Punggol 21, saya jadi tukang cuci (mesin) dan ngepel serta buang sampah dan main sepeda. Ibunya Lia tukang masak dan belanja. Setrika sepertinya hak prerogatif jadi tidak diserahkan kepada pihak lain.

Jadi kedatangan kami ke Singapura hanya sebagai “Upik Abu.”

KILAS BALIK

Selama sebulan kebelakang beliau kena serangan Stroke. Untungnya Satrio putra saya yang memang dari kecil menemani neneknya ia tidur dikasur bawah. Jadi ketika jam 04:00 dinihari sang neneknya jatuh karena serangan stroke seperti mata terbeliak, napas seperti dikunci setan. Dari pelajarannya sebagai Mudlogger (meneruskan bapaknya), ia langsung melepas baju neneknya, menaruh ditempat datar, dan memberi napas buatan sampai mulutnya belepotan lipstik neneknya.

Baru selang 10 menit kemudian dia membangunkan saya. Kami cari dokter tetangga, tidak ada kerusakan pada otak. Sejak itu, tiada hari tanpa melakukan ceking kesehatan. Di rumahnya, setiap pagi saya menyalakan OMRON guna periksa tekanan darahnya yang tinggi dan diabetesnya.

Sepertinya semua list pemeriksaan lab yang tercetak di penyedia Lab, sudah dilakukan. Tulisan tangan saya menyebut, dari hasil ratio antara LDL dst.. maka Ibu (mertua), mengalami gangguan kelenturan pompa jantung.

Bendera waspada dikerek.

Maka kami merasa seperti kecolongan ketika belum genap dua minggu ditinggal, mendadak dari Jakarta, mbak Nani asisten rumah tangga menangis “bukan Nani nakut-nakutin ibu Mimbar supaya pulang ke Indonesia, tetapi perut ibu sepuh makin lama makin besar, tidak mau kebelakang. Kaya diteluh orang… Hu hu hu..

Hasil diagnosa ada “produksi cairan” yang mendesak paru-paru sehingga perutnya membengkak. Tindakan bedah diambil untuk mengosongkan cairan tersebut. Namun hanya seminggu, cairan sudah terbentuk lagi. Tim dokter menemukan CA sudah bermetase sehingga mereka tak ragu mengatakan Stadium 3.. Musyawarah keluarga akhirnya berkeras tetap akan menjalankan kedokteran barat. Tidak akan dicampur alternatip lain.

Mengingat logistik dan transportasi, diputuskan memindahkan ke RS II yang selama ini dikenal sebagai Rujukan Indonesia untuk urusan CA. Ternyata RS yang menyandang nama besar ini sangat mengecewakan. Selama tiga hari menderita sesak napas, belum ada pihak dokter ahli yang menengoknya. Menurut jururawat dokter yang dihubungi ada yang mengikuti menteri, atau praktek di klinik lain.

Ketimbang pasien terlantar maka ibu (mertua) kami bawa ke RS III di kawasan Kelapa Gading. Rumah sakit ini bagus pelayanannya dan responsip. Karena kesehatan ibu (mertua) tidak juga membaik – keluarga musyawarah lagi.

Hasil musyawarah …

Ibu akan dibawa ke GuangZhou a.k.a Kanton. Targetnya adalah Rumah Sakit Fuda – Kanton… alias GuangZhou. Pengobatan dengan katerisasi dimulut pembuluh darah yang terkena CA. Majalah Tempo yang menulis masalah ini bolak balik saya kasih catatan. Intinya, kemoterapi melalui infus harus masuk “DEPO” bernama Jantung.

Jantung sehat kena obat Kemo ya bakal empot-empotan. Lalu RS di Kanton memikirkan cara kemo dengan infus langsung menuju organ bermasalah. Keuntungannya dosis obat sedikit sehingga efek rontok dan mual bisa diminimalisasi. Yang bikin “iklan” adalah Menteri Endang kitapun lebih percaya ke negeri yang disebut Nabi Muhammad tempat belajar ilmu. Tugas mengawal diberikan Dua Wanita anak kandungnya yang belum pernah ke Cina. Dari pihak anak lelaki seorang karena ia punya koneksi disana. Karena serba mendadak maka urusan visa diambil jalan singkat. Foto dikembalikan kedubes lantaran para wanita ini tidak memperlihatkan telinganya. Siapa tahu sebetulnya belalai. Jujur kami agak kuatir sebab, dengar dari teman, dari mbah google bahkan teman dokter sampai ada yang bilang “saya yang Cinapun dikerjain sama orang sana.. Padahal saya bisa Mandarin…” Duuuh.. Hari keberangkatan telah ditentukan, dibutuhkan waktu 5 jam penerbangan. saya mulai berguru dengan mbah Google, cuaca disana yang musim dingin 12-19 celsius, harga SIMCARD dan BBM (sebab irit), peraturan pemerintah soal politik, media. Kok ndelalah, begitu nyampai sana, mereka berkirim BBM. “Aku sudah beli SIMCARD – BBM bisa dipakai kalau dirumahsakit (maksudnya RS menyediakan pelayanan wireless). Pesan lain ; “hampir setengahnya penghuni rumah sakit orang Indo semua. masalah bahasa teratasi, kamar dilengkapi mesin cuci, bahkan dipinjami sebuah LENOVO untuk berskype…” Pesan lain “ Pasien dikasih loker, jadi kalau mau pulang ke Jakarta nggak perlu bawa baju pulang…” Bu Mirna, bukan nama sebenarnya, sekarang relawan sambil berjualan nasi pecel ia memberikan statement. “Andai saya bisa putar waktu, begitu tahu divonis CA, saya tidak akan habiskan uang ke Singapura. Habis harta kami, buntutnya suami hanya bisa 3 bulan bernapas, kata Singapura. Setengah putus asa saya bawa ke Fuda, sudah 8 tahun bersama saya sampai sekarang.

Lalu ada BBM lagi “Tadi aku kepasar mau belanja, ternyata jam 13 sampai 15 pasarnya tutup semua pedagang istirahat juga. Kebetulan mamanya Lia dan Satrio ini sekalipun ndak becus bahasa Inggris apalagi Kanton, baru dua minggu disana sudah “ngelayap kemana-mana” – sekarang dia mulai jadi “Help Desk” – untuk urusan lokasi Ayam Panggang, Bebek Panggang, sayur mayur, pempers, tanya poada dia. Mungkin bisa jadi posisi kepala suku di RS Fuda dia ambil alih.

Saya tahu dia kelayapan kalau BB berbunyi, aku pergi beli keperluan dulu.. BB ndak bisa dipakai sebab tidak ada wireless. BBM lain “ada TV Indonesia tapi cuma trans TV, kangen aku sama Sule di Trans7, katanya demo terus ya..” Biaya dokter 15 Yuan (75ribu), untuk satu hari – bukan satu visit sebab dokter bisa berkunjung berkali-kali dalam sehari. Dokter 24 jam siap sedia…

Dokter yang kadang berpangkat profesor bisa sampai 4 sampai 8 orang datang bersamaan menangani ibu… Setiap hari kita menerima laporan keuangan. Juga diberikan jam dan waktu kalau ada tindakan atau treatmen yang akan dilakukan 1 minggu kedepan. Para dokter biasanya ngantongi alat suntik sendiri. Kadang ibu juga dibantu Akupuntur, Nano dan Totok. Bagi yang serius baca email ini. Biaya Kuras Perut..Biasanya pasien dilubangi perutnya lalu dimasuki selang.

Di Jakarta sekali kuras kami dikenakan biaya 5 juta. Waktu di Kanton, biayanya 450 ribu rupiah. Biaya menginap dari kelas 4 sampai kelas VIP bergerak dari 250 ribu sampai 1,250 ribu. Ancer-ancer – urus visa 750 ribu, penerbangan 5 jam, udara menjelang musim panas. Secara pukul rata.. biaya pengobatan di Cina – bisa mencapai lebih miring sepersepuluh kali di Jakarta ataupun Singapura.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.