Posted in mudlogging

MudLogger Bau Karbit – masih diedit dan ditambahi


Carbide Bubuk sebesar beras inilah yang di injeksikan kedalam sistem sirkulasi lumpur bor oleh para MudLogger kita
http://image.made-in-china.com/2f0j00HMetBhwdQNol/Calcium-Carbide.jpg
Gambar bubuk karbid buatan china
http://img.tootoo.com/mytootoo/upload/55/553001/product/553001_aefeb1d34ccf15f9314aec7745988c23.jpg

APOLOGY THIS CARBIDE PICTURE NOT BELONG TO MY PROPERTY.

Bukan mudlogger karbitan lho. Tetapi memang salah satu BUMBU penting agar mudlogging unit berfungsi baik adalah bubuk karbid.Waktu saya di mudlogging Australia, perusahaan saya hapal sekali, asal ada permintaan karbid sampai 10 kaleng @ 1kg maka orangnya cuma yaitu saya. Mereka sampai membelikan saya bubuk karbid buatan Amerika Latin yang gasnya memang super.

Buatan Cina kadang hanya “ngempos” sehingga anda membutuhkan banyak butiran karbid untuk bisa mendapatkan gas yang memadai..

Saya linkkan bendanya….

CARBIDE FOR CANNONS.

Jaman dulu – kalau lihat filem perang-perang saudara yang berdarah-darah maka ada saatnya orang menggunakan cannon. Awalnya bubuk karbid sebesar ukuran beras yang dipakai orang sehingga kalau pesan karbin minta yang ukuran for cannon atau lebih enak ya pakai ukuran mm.

Karbid Injection kadang bahasa kerennya Carbide Tracer seharusnya menjadi salah satu persyaratan dalam lelang mudlogging. banyak perusahaan minyak hanya berkutat dengan HSE, sampai-sampai pokok persoalan sebuah mudlogging terlupakan.

Ketika butiran karbit terkena air, maka terjadilah reaksi exotermis yang mengeluarkan panas disamping munculnya Gas Karbid atau yang dikenal Acethylene. Gas Acethylene ini oleh mudlogger dipakai untuk beberapa test.

1. Menguji efisiensi GAS EXTRACTOR. Tujuannya memastikan bahwa pisau pengaduk lumpur tidak ada yang patah, pompa isap gas (vacuum pump) berfungsi dengan baik membran-membranya. Seluruh selang plastik yang menjadi pipa saluran gas tidak buntu ataupun bocor. Karbid juga untuk menentukan – waktu yang ditempuh saat gas keluar dari tenggorokan sumur sampai selesai diproses oleh Gas Detector. Biasanya membutuhkan waktu sekitar 3 menit, dalam perhitungan Lag Time waktu 3 menit bisa berbeda  900 stroke pompa kalau tiga buah pompa lumpur dijalankan dengan kecepatan 100 stroke per menitnya.

Banyak orang yang menggantikan karbid dengan butir beras, tetapi sampai sekarang belum ditemukan “Detektor Beras.” Sebagai kelengkapan “Lag Check” beras, beras yang disemprot cat berpendar, wantex (wenter) bolehlah dpakai. Sekali lagi sebagai tambahan.

2. Menguji Efisiensi Pompa Lumpur. Dilakukan saat mengebor semen dan sepatu casing. Alasanya pada saat itu pompa lumpur dijalankan dengan kecepatan rendah, diameter lubang bor masih seragam, yaitu garis tengah dalam casing sehingga perhitungan lag time, annular volume, lebih teliti. Kalau mata bor sudah menembus formasi ada kemungkinan lubang membesar (runtuh) atau menyempit (swelling). Sayang beberapa tahun  belakangan di mudlogging, praktek ini sudah mulai dilupakan.

3. Menguji kebocoran pada pipa bor dalam lubang sumur. Saat menjalankan karbid kadang ditemukan dua atau lebih “gas peak” – bisa diduga ada kebocoran pipa yang belum sempat terdeteksi dipermukaan.

4. Melakukan koreksi agar waktu yang diperlukan oleh contoh batuan hasil gerusan mata bor bisa diprediksi secara akurat. Mud Logger yang beralasan bahwa “interval lubang terbuka” dianggap berhgaris tengah sama dengan ukuran bit (pahat), sebaiknya sering melihat profil sumur dari log Caliper.

KARBIT BANYAK DILUPAKAN MUDLOGGING

Sayangnya, banyak perusahaan mudloging sudah “melupakan” pentingnya karbid. Biasanya alasannya adalah bahan kimia ini tergolong Hazard sehingga membutuhkan surat menyurat yang ribet dalam transportasinya.

Padahal mudlogging disewa karena jasa “sample batuan sample gas yang akurat timing pengambilannya, sehingga kedalaman bor yang tertulis dalam label bisa dipertanggung jawabkan.” –

Kalau mudlogging hanya mengandalkan komputer, Rig Instrumentation maka client tidak perlu mudlogging. Jasa Instrumentasi Rig jaman sekarang sudah digital sementara yang belum bisa tergantikan adalah “Lag Gas” dan “lag depth” – karena sampai sekarang belum ada robot bisa ambil sample sesuai lag. Maksud Rig Instrumentation adalah sensor Kedalaman, sensor RPM, sensor berat string, sensor Tekanan Pipa, sensor Isi Tangki Lumpur.

Kenangan mudlogger dengan Karbid

RIG SEMAR- IIAPCO

Sekitar 1982 an saya bertugas di rig SEMAR, sebuah rig Jackup dengan kaki enam padahal kaki rig Jack up umumnya tiga. Master Log yang terdiri dari Litholog (Gambar batuan dan deskripsi), gas Log (presentasi analisa Chromatograph) sudah lengkap untuk dikirim melalui fax. Tapi masih kurang satu hal, yaitu setiap 12 jam sekali, atau minimal selepas mengebor lebih dari 300 meter maka diharuskan melakukan Karbide Tracer.

Masalahnya pengeboran dilepas pantai IIAPCO (sekarang CNOOC), sangat efisien sehingga kami mudlogger yang kerja cuma satu orang per shift ketantilan – tunggang langgang, ambil sample cutting bor, baca gas yang masih manual harus diukur pakai mistar, menghitung lagtime, membungkus contoh bor, mengambil list pipa yang akan dimasukkan kedalam lubang, menjawab pertanyaan dari Company Man yang semua membuat kami seakan-akan menjelma menjadi mahluk dasa muka, dasa kaki dan dasa tangan.

Saya lupa mengisi data Karbid, sehingga buru-buru tilpun rigfloor minta waktu bikin “carbide Bomb” – dasarnya satu cangkir karbid, dibungkus paper towel seperti lemper, lalu diikat sedikit pakai Scott Magic yang transparan sehingga mudah hancur. Nanti sebelum rig menyambung pipa saya akan naik ke RigFloor (naik artinya ada beberapa puluh tangga), lumayan dibelakang hari sampai usia 60 jantung saya, tekanan darah saya masih normal. Dan ditengah licinnya lantai bor akan lumpur saya setengah berlari dan hup, lemper karbid saya masukkan kedalam pipa yang kosong…

Seluruh crew bor berteriak, saya bengong dot com, kesalahan apa yang saya perbuat. Karbid saya masukkan kedalam pipa yang ada di mouse hole, artinya karbid akan meluncur sampai ujung pipa lalu terjun bebas ke laut Selat Sunda. Bukan kedalam sumur. Lha 12 jam drilling terus, sample, oil show, gas show, Geologist cerewet, Company Man cerewet, Mud Engineer malahan seperti minta dilayani akan semua data, dan belum makan kecuali minum air dari fountain water. Otak jadi error..

DALAM UNIT

Experimen dengan Blender Gas.

Dalam kabin saya ada blender gas dengan catalytic gas detector. Blender Gas dilakukan kalau ada “kenampakan” minyak dalam lumpur, atau beberapa batuan sangat ketat pori-porinya sehingga perlu dihancurkan dengan bantuan blender. Untuk meyakinkan bahwa sistem gas extraction bekerja termasuk Gas (Blender) detector (ini stand alone), maka biasanya kami masukkan 1 atau dua butir  karbid dan ditetesi sedikit air. Sekali tempo saya menaruh terlalu banyak dan blender diputar (seharusnya tidak boleh), tutup blender terbang hampir mengenai langit-langin kabin.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.