Posted in pensiun, pensiunan

Hobby saat pensiun Naik Sepeda


Akhirnya kesampaian juga hobby yang sudah lama diidamkan tetapi selalu tertunda. Menjadi “coordinator mudlogging” adalah judul pangkat saya, namun di Indonesia saya hampir-hampir tidak punya boss untuk menjalankan operasi ini.

Ada sih boss, tetapi untuk operasi namanya MudLogging nyaris semua boss saya punya satu kata “Jangan” kalau itu bahasa Indonesia dan “No” kalau itu bule. Curhat dikit, hampir setiap operasi saya sebagian ada menggunakan dana pribadi.

Saya ndak mau nama besar perusahaan keteteran cuma gara-gara mau kirim kotak ke Sorong, melewati permintaan untuk di “approve”  majikan yang umumnya berbau interogasi tetek bengek padahal kita sudah tahu muara pertanyaan akan kemana kecuali “Jangan Kirim.”

Tapi sudahlah itu masa lalu lagian mana ada kerja serba sempurna. Saya malahan terlatih mengatasi masalah yang diluar tanggung jawab saya.

Yang jelas diperusahaan terakhir BHI ini saya dibayar bagus ketimbang perusahaan lokal yang janji seribu gunung mahameru ditumpuk, begitu ditagih janji, malahan marah.

Maka semenjak 06 Januari 2012, status saya sudah menjadi purnawirawan. Seperti biasa – ketika mendengar saya masuk pensiun, adik-adik saya menangis sementara teman-teman seperjuangan sudah mulai mencarikan pekerjaan untuk saya.
Ada tawaran menarik, namun ada buntut dari kelebihan kata-kata yang menjadikan saya mengkeret. Saya pernah dikirim ke luar negeri untuk training, yang artinya hasilnya nanti adalah untuk “hasil training” dikembalikan kepada perusahaan. Lha ini kok dibilang saya punya hutang “budi”. Celaka sungguh celaka..
Salah satu “blusukan” saya adalah memasuki perkampungan tak beraspal yaitu Kampung Lorong B(u)angkok.
Lantas ada teman-teman yang panas dingin mendengar saya “ada rasan-rasan mau masuk keperusahaannya”.  Pendeknya kalau anda bergelar pensiun, harap berhati-hati sebab dimata sementara orang anda adalah tukang palak pada anak-anak kandung dan teman semasa aktip dahulu.
Kelihatannya daerah pinggiran ini memang dijaga keasliannya. Ada pohon tinggi yang dipasangi ayunan..

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.