Posted in sepeda

Pasang Spion Sepeda


Lho kok kaca spion saja jadi isu. Ini juga gara-gara kalau naik sepeda, bersantai sambil menikmati udara segar kadang karena kecapekan, mendadak “bret” seseorang menyusul dari sisi kanan kita tanpa membunyikan bel. Saya geragapan, tetapi sekaligus mikir bahwa kalau kita lengah sebentar saja boleh jadi ada kecelakaan.

Pak Lanjar asisten pribadi sekali tempo saya suruh cari kaca spion, katanya sulit bener dapatnya sampai ia harus ke Glodok. Begitu kaca diserahkan tanpa saya cek langsung saya masukkan tas untuk dibawa ke Singapura. Eh sampai disana baru tahu, kacanya kaca cermin datar, dan terlalu pendek.

Saya tetap paksa pakai spion ini dan sama sekali tidak berfungsi. Artinya orang seliweran dikanan saya menyalib dan saya tetap geragapan.

Lagi-lagi saya musti cari yang Online. Harganya dan ongkos kirimnya hampir sama. Dibutuhkan waktu seminggu sampai barang sampai ke tangan.

KUNCI “L”  diberikan gratis

Semua instruksi mudah untuk diikuti, sekrup dibuka dan dikunci dengan menggunakan kunci “L” – dan ini biasanya bikin pusing sebab ada kunci L ala imperial atau yang metrik.

Rupanya supplier sudah tahu masalah tersebut sehingga dalam kotaknya diberikan sebuah kunci L.

BAUT SERET MEMANG SENGAJA

Ketika merangkai batang demi batang, ada beberapa bagian yang disambung dengan baut dan washer (ring). Saat dicoba baut baut pada seret betul untuk dimasukkan. Kuatir ulirnya pada “dol” – saya ulik kanan kiri depan belakang. Untungnya manual mengatakan bahwa saat memasukkan sekrup ada extra tight, tetapi teruskan saja kerja anda. Masih dengan deg-degan, kunci L saya paksa putar sampai berbunyi berderit. Perlahan kunci bergerak dan Voilla akhirnya kaca spion dan batangnya terbentuk.

IRIS UJUNG KARET SETANG

Waktu akan memasangnya, terpaksa karet setang yang paling ujung diiris agar “baji” dari spion bisa masuk. Lagi-lagi saya ragu. Tetapi memang kaca spion ini bukan jenis yang menempel pada stang dengan bracket, melainkan disodok diujung setang.

Kalau dihitung pekerjaannya lima menit, namun namanya “pengalaman pertama” ada beberapa menit saya berkutat trial and error.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.