Posted in Uncategorized

BBM Decode


Sudah nyaris 4 minggu (kurang dikit), saya berpisah dengan keluarga. Pasalnya Mamanya Lia dan Satrio, harus menemani ibunya ke – GuangZhou. Sampai waktu tak tahu sampai kapan. Mula-mula saya standby di Singapore, siapa tahu dibutuhkan, tetapi dua perempuan belum pernah  ke Cina bisa anteng disana. Kelamaan menunggu ketimbang kena delik overstay maka saya pulang dulu ke Jakarta.

 

Menyadari tidak enaknya 24Jam sehari mbokne Lia dan Satrio melihat orang mengerang siang dan malam sekalipun dikamar ada acara TransTV maka komunikasi BBM seperti tak putusnya. Herannya dia selalu mulai pembicaraan dengan TEST.. tapi tidak pernah diteruskan dengan kata-kata Satu Dua Tiga, fiuh fiuh (suara kik ditiup).

 

Apalagi kalau dengar ada kerabat akan ke Cina. BBM makin cengklang cengkling tak putus putus. Langsung daftar belanja dibuat panjang. Kadang saya ledek nggak sekalian pesan Bangle, Kunyit Merah dan Meri (meri ini anak bebek)

******

Dan inilah BBM nya..

 

BBM#1. Paklek “S” dari Yogya mau nengok juga “nimari” bahasa Citayam ke mari (Cina), tapi mampir semalam ke Jakarta. Tolong dititipi serenceng Kopi Hitam Kapal Api. Jangan Lupa Ya.

 

Komentar dalam hati.. Namanya cuma serenceng Kopi bungkus, biarlah beli di warung bang Sarini yang juga warung Angkot.

 

BBM#2. Jangan lupa ya serenceng Kopi Kapal Api hitam sudah ada gulanya, tapi jangan pakai susu.

 

Komentar “nggak penting nggak usah dijawab..”

 

Sejam kemudian. Ada bbm ngambek-lebay selebay – Kok BBM tidak dijawab. Lantas saya ketik “tulisanmu yang di BBM banyak coretannya nggak kebaca…”

 

BBM#3 Oh ya, bawakan pisau buah. Pisaumu (ini piso lipet dengan sendok) mau saya bawa pulang nanti (nanti?). Mending diganti piso buah yang biasa ditaruh di dasboard mobil.

 

Komentar – Piso buah ini jelas made in Chungkok. Sekarang akan diselipkan di bagasi untuk dibawa ke ChungKok. Bukannya pacul, arit, sekop semua buatan ChungKok. Beli disana napa?

 

Beberapa rentetan BBm berdatangan, salah satunya minta kiriman YUAN.. Dan yang terakhir.

 

BBM#4.  Kirimin teh POTJI ya… Sudah masuk musim panas, kamar rumah sakit sudah dipasangi ac manteng 19 Celsius. Menggigil sampe ke Tunggir. Enaknya minum teh panas…

 

 

KANTONG LUPA

 

Alkisah, kebiasaan saya kalau mau ke Rig, atau bepergian kemana saja maka kami menyediakan satu KANTONG LUPA, semua barang yang terlintas dalam ingatan, langsung diambil dan disimpan kedalam kantong ini.

Apalagi Mario Teguh sering mengulang-ulang, prestasi terbaik kita yang jarang melorot adalah “menunda pekerjaan..”

 

Kantong ini bisa kopor, bisa bagasi mobil. Tapi simplifikasi jadi kantong.

 

Di Jakarta Paklik sedikit ternganga dititipi Pisau. Dengan sedikit penjelasan semua berlangsung aman terkendali. Besoknya paklik kami antar ke Bandara. Kira-kira lima jam penerbangan kesana.

 

Tapi malam harinya ada BBM merengek “kamu gimana sih, tehnya kenapa tidak dibawain?- aku sudah ngeces minum teh Indo. Duh…”

 

Perasaan – satu kotak sudah diterawang diraba dirasa. Masak sih bisa terlewatkan.  Ini bener-bener akibat teh sethithik (sedikit) maka rusak reputasi suami yang cuma sebelanga.

 

Tapi eit saya juga harus “ndelog Githok” melihat kuduk perumpamaan Tengok Diri. Harus diakui sudah mulai pikun. Sekali lupa pasti tidak ingat.

 

Maka suatu pagi hari saya meimpin sidang tiga menteri Kabinet Kitchen yang masih setia berkoalisi sejak mereka kecil. Judul sidang istimewa ini “Where is my tea” .

 

Kami mulai lakukan rekonstruksi di TKP. Kalau perlu DNA yang tercecer di cek.

 

“Saat pak Lanjar didawuh beli teh di AlfaMart, lantas Teh satu Box saya masukkan kemana ?…” – ini yang tanya saya sendiri tentang perbuatan saya dimasa lampau.

 

Pak Lanjar, yang sudah beruban rambutnya rupanya cepat menjawab “dimasukkan di tas bapak yang abu-abu, saya yakiiiin.” – Maka tahulah saya bahwa beliaupun juga kena sakit yang sama. Kata-kata yakiiin biar “i”nya rangkaFFF tiga bukan jaminan bener. Seringkali Yakin diplesetkan menjadi YAKNO – barangkali aje beh.

 

Secara Guwe Gitu Loh maka tas pinggang abu-abu dimaksud cuma wadah passport, dompet supaya tidak kececeran. Jelas bentuknya amat bersahaja dan takkan mampu dijejali teh satu kotak teh.

 

“Yakin masuk tas pinggang bukan Dompet” – sekalian gila, saya ikutan ah…

 

Pak Lanjar mulai memainkan jurus Dewa Lupa Mencari Teh.. “Kalau nggak tas pinggang ya tas laptop..” – juga yang dia maksud Tas Laptop adalah Sleeve – cuma kantong busa ukuran 14inci.

 

Kalau saja pak Lanjar peserta 101 Ways to Leave a GameShow,  saya (host)  akan menekan tombol dan platform dibawah pak lanjar bakalan ‘njomplang: dan dia meluncur dari tingkat 10 ke kolam dibawahnya. So long Pak Lanjar..

 

Akhirnya BBM saya jawab “tahu nggak, teh itu asalnya dari Cina. Orang kita kalau bawa teh dari Cina, rasanya macam bawa(k) benda karomah.

 

Ini kok malahan minta Teh dari Tegal…dibawa ke Cina. Bisa bintitan yang minum nanti.”

 

Tapi kalimat basi masih saya terima juga “Teh dari Indo – rasanya laiiin” – komentar lha wong belum pernah minum teh GuangZhou kok bisa-bisanya kasih komentar.

 

Akhirnya TKP secara simultan dilangsungkan di hotel Pak Lek yang sudah di GuangZou. Teh Potji – rupanya ngumpet dibawah pakaian.

 

Tidak ada permintaan maaf dari sana, padahal nama saya sebelanga sudah terlanjur basah ya sudah Nasib sekali..

 

mbambangse at yahoo dot com dot au

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.