Posted in betawi

Gabus Pucung


Sejatinya belakangan ini saya sedikit kehilangan selera menulis kuliner, sebab sudah terlalu luber dilakukan hampir setiap media, Televisi dan bisa diduga isinya pasti Enak, Huenak sekali.

Sekali tempo kami lewat di jalan Benda, kel JatiLuhur, Kecamatan JatiMekar Bekasi.

Warung ini cukup besar dan sederhana. Menunya memang menu rumahan BETAWI Udik.

Misalnya ada lalapan Terong Bunder, Mentimun. Lalu pepes ikan, sambal goreng udang. Dan ini dia, saya melihat menu ikan Gabus Pucung – atau masakan mirip Rawon tetapi dagingnya diganti oleh ikan Gabus.

Agak heran juga masih bisa diketemukan ikan Liar yang cukup besar, dilihat dari potongan dagingnya.

Rasanya boleh saya bilang “average” – tapi kalau bisa saya order tanpa garam berlebihan, mungkin lidah saya tidak tersengat rasanya. Saya sudah kesulitan menikmati bilamana masakan terlalu asin.

 

“Aku kasih tahu makanan ibu-ibu pada ngumpul ya, kalau habis pada pulang
ngumpul.”

Kalau ibu-ibu berarti lebih seorang kalau dikatakan pada ngumpul – dengan
satu occasion yang beragam tiap hari. Misalnya

“Habis senam kita istirahat di warung A”
“Habis senam kita anterin ibu Rahel ke warung A”
“Habis senam, bu Reggie suaminya baru dating dari Vietnam minta anterin beli
makanan kesukiaannya di Warung A”

Dari tiga kalimat, para ibu-ibu lingkungan Kelurahan JatiAsih, Jati Luhur,
Jati jati lainnya tinggal pasang bongkar kalimat hurup A diganti B,C,D dan
seterusnya. Predikatnya boleh diganti “Ulang Tahun”, selamatan, dan
seterusnya. Dengan kata lain habis senam kuterus jajan. Tapi mereka berteman
sudah lebih dari 6 tahun, kok ya belum terdengar ada yang “Jothakan” –
apalagi jenggut-jenggutan rambut. Mungkin merasa bukan DP dan JP kali ya..

Ini sekedar background check ikutan gaya filem NCIS.

Ada jurus lain, bilamana kalimat pertama mulai diucapkan – HarMal (artinya
Haram Boleh – Halal Boleh) hukumnya saya memperlihatkan wajah “jreng” –
musti install wajah “biasa-biasa” saja. Kalau saya antusias “bisa-bisa
gagal.”

Setelah mengenalnya 35tahun, rupanya membuka “isi perut” dalam bentuk
tulisan masih dianggapnya pekerjaan sia-sia baginya- “Cuma gitu aja kok
ditulis, orang lain lebih hebat saja tidak pernah cerita, apa nanti bukan
cuma diejek oleh pihak yang lebih dahsyat cara makannya, lebih elit, lebih
banyak duitnya. Belum lagi nanti ada yang tersinggung karena komentar
mengenai kepercayaannya.”

WARUNG TEGAL TEKNOLOGI LAYAR SENTUH

Singkat Kata SIngkat Cerita, kuberkenalan dengan warung yang Cuma satu
sebrangan jalan tol Jatiasih. Masih sepi, maklum jam 11 siang. Piring berisi
lalapan berupa Timun, Terung ukuran bola bekel, lalu lalapan daun-daun
lainnya sudah siap saja. Makanan yang dipresentasikan mirip warung Tegal
dengan Layar Sentuh- maksudnya makanan dikurung dalam kotak kaca jadi kita
harus menyentuh dinding kaca agar penjual maklum yang kita butuhkan.

“Ikan Gabusnya – Kepala-Leher-Ekor?”

Saya membayangkan kereta peluru Jepang, lalu kepala kereta membuka gigi
merenges, jaman kecil dulu kalau menangkap ikan gabus bonusnya ada mata
pancing tertinggal. Kadang lebih dari satu..

Akhirnya pilihan jatuh ke Badan ikan gabus, yang diluar dugaan saya Ikan
Gemuk. Terus terang saya kagum, disaat rawa mulai mengecil, sungai mulai
dangkal, entoch Jakarta masih bisa melayani pesanan ikan predator yang sulit
dipelihara karena makanannya harus benda hidup dan bergerak.

Semangkuk Gabus saya coba. Sedikit “Theng” lantaran saya memang sedari dulu
kurang menyukai masakan yang golongan “Beraniin Garem”

Cuma waktu gilran bayar, kasirnya lelaki, pakai kalkulator yang displaynya
guide. Apa yang kita ucap, tanpa pakai tulis, langsung dimasukkan kebarisan
hurup. Pucung, Pepes,Pepes Telur Ikan, Botok Leunca, Sambal GorengUdang,
Sambal Goreng Tempe, dua es jeruk.

Penjual ceklak..ceklik.. berkalkulator dan sederetan angka terpajang IDR
Tiga Puluh Enam Ribu Rupiah. Merasa ada kesalahan maka kasir diminta
mengulang lagi tak “jreng” harganya tetap.

Yang sudah-sudah ditempat lain sepotong Gabus Pucung saya dikenai paling
tidak 20-25 ribu rupiah – ini cerita lima tahun lalu di di kampung Jalan
Kampung Sawah, tempatnya musti mendaki, gubuknya reyot. Terus Es Jeruk
dihargai berapa, terus masakan lainnya. Kalau secuil kertas lalau makanan
yang telah dikonsumsi dicatat dengan harganya, bisa dilakukan double check
agar pedagang tidak dirugikan. Kami seringkali mendapat pelayanan, harga
terlalu murah.

Tapi ya sudah mereka keukeuh bahwa yang ditulis adalah Benar dan Tiada
Keraguan didalamnya. Saya eh kami pamit, dengan sedikit komentar “harga
rendah apa karena saya sedikit mengernyitkan kening keasinan? ”

Jalan Benda 49
Kelurahaan JatiLuhur- Bekasi
Mimbar Saputro

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.