Posted in Uncategorized

Mimbar Saputro

Menyaksikan talkshow antara Gus Dur dengan Jaya Suprana memang tepat kalau dikatakan sebagai, acara lawakan terbaik yang pernah saya tonton. Berikut catatan sepanjang mengikuti acara yang berdurasi 40 menit.

(1). Saya bingung dengan TPI Televisi Pendidikan Indonesia yang kemudian ganti nama menjadi MNC. Katanya minta damai, tapi lagu yang diputar kok  Shalawat Badar, lagu yang merujuk kepada SEMANGAT berperang jaman Nabi Muhammad – Perang Badar.

Jaya menambahkan “kalau begitu ini termasuk kelirumologi, ilmu pemahaman kesalah kaprahan”. Gus menukas “keliru mahamologi“.

(2) Waktu ketemu Clinton, Gus menunjuk Perpustakaannya Churchill, yang ternyata lubang kecil tempat menyimpan tongkat golf. Cuma mau mengatakan bahwa Churchill itu tidak pernah baca buku, kerjanya main golf saja.

(3)Ketika Clinton berjanji akan mengirimkan tenaga ahli Amerika membantu bangsa Indonesia keluar dari keterpurukan, Gus menjawab  “di NU (Nahdratul Ulama), yang sudah tua-tua itu sudah jadi ahli………kubur.”

(4) Gus mengaku risih harus pakai lengan panjang…

View original post 144 more words

Posted in Lady Gaga

Lady Gaga


LADY GAGA

Perempuan ini pernah membuat saya kecangar tengsin. Sekitar tahun 2010, mbak Rita Moeis saat kami makan siang beramai-ramai teman kantor, dia asik berbincang dengan teman lain soal kacamata Lady Gaga. Padahal Rita juga tidak muda-muda bener.

Dengan bego dan sukses – saya bertanya siapa itu?- setelah dijelaskan maka kalau boleh meminjam kesan Mick Jagger waktu mencipta lagu As Tears Goes By- a slightly – slightly embararrassing situation. Itulah perkenalan saya dengan Lady Gaga, lagunya saya ndak ngerti sebab saya cuma senang ngeklik lagu Mick Jagger, atau Monalisa Blue Diamond yang linknya dikirim mas Halim Sutrisno.

Di TV penampilan Lady Gaga yang nyentrik cukup dinikmati kalau ada video clip di TV. Dulu Idola saya Alice Cooper, Black Sabbat, lalu band Trencem, Ucok Harahap AKA yang bawa Peti Mati, menyedot darah Kelinci, Ular sudah cukup memuaskan jiwa muda saya dan tidak perlu anggota DPR, Kapolri, Menteri, MUI ikut buka suara. Seperti sudah kurang pekerjaan.

Saya malahan terus terang ganti channel kalau Mr Limbat yang sedang show. Atau kisah Ambon, kisah Tawuran antar Warga yang ditayangkan terus menerus sehingga membuat kita terbiasa bahwa Luka, Darah, Molotov adalah kepribadian bangsa yang kita anggap lebih luhur ketimbang show Lady Gaga. Tahun 1960-an kita memusuhi The Beatles. Musiknya yang berjudul – I saw standing there, Mr Post Man dianggap merusak moral bangsa yang kata mereka sudah terpuruk (kok mesti bahasanya standar). Hanya karena mereka main gitar dengan menggerakkan badan kekiri dan kekanan sambil senyum-senyum.

Eh kita yang mencipta saja belum becus, sudah bawa stempel “ini setan”. Polisi kita sekalipun waktu itu belum ada FPI, tetap rajin mengadakan Razia di sekolah maupun jalanan. Siapa kedapatan pakai celana ketat langsung dirobek ditempat. Tak segan pak Polisi menggunting rambut lelaki yang gondrong.

Tahun 1971 pak Rektor saya turun tangan saat ujian lantas mengeluarkan Mahasiswa yang kedapatan rambutnya mencapai kerah baju. Mungkin masih ingat bagaimana Koes Bersaudara 1969 dijebloskan ke penjara bertahun-tahun lantaran menyanyikan lagu The Beatles. Sekarang yang berkoar mengganyang Lagu KoesPlus – pada merem melek mendengarkan Beatles dibawakan ulang oleh band lokal.

Cuma yang saya agak kecut – di TV orang melaknat Lady Gaga, cuma kok alasannya “Merusak Moral Anak Bangsa” – apa anak Bangsa Indonesia kelompok Bunglon yang bilamana didekati saga jadi merah, didekati kunyit jadi kuning. Lagian nonton 120menit apa begitu mudah mengubah Moral Bangsa. Ahmad Dhani pentolan musisi Dewa bilang – Pembodohan Bangsa –

Kita memang terlalu mudah menjatuhkan prasangka.

Posted in mudlogging

Memasak Gas pekerjaan sehari-hari mudlogger


MEMASAK GAS PAKAI GAS

Yen dipikir-pikir pekerjaan MudLogger sebetulnya mirip-mirip juru masak. Pertama-tama mudlogger menggunakan blender untuk mengaduk lumpur. Setelah di blender, lumpur dialirkan, semantaara gas yang diproduksi akibat terlepasnya gas dari lumpur, dialirkan ke “tungku” yang namanya chromatograph. Hanya Gas Hidrogen yang dipilih untuk membakar tungku sebab tidak merusak ciita rasa adonan gas lumpur.

DIADON DENGAN UDARA

Didalam tungku Kromatograph, setelah dicampur dengan udara maka gas tadi dipanaskan pada suhu 350 derajat Celcius. Bukan saja terbakar, tetapi gas malahan menjalani proses Ionisasi. Karena nama barang terbakar, oleh ahli kimia penyebabnya adalah unsur Karbon (C) dan unsur Hydrogen (H). Misalnya Metana dengan judul C1H4 setelah masuk tungku ionisasi akan terurai menjadi ion.

Lalu didalam tungku pembakaran dipasang alat penangkap ion. Makin panas sifat gas, maka ion yang dihasilkan main banyak. Prinsip inilah yang dipakai oleh Gas Detector dalam Mudlogging.

Maka tak heran dalam Kabin Mudlogger yang panjangnya 10meter kali 3 meter seringkali ditemukan Korek Api – Kosetan, Korak Api Gas sampai Pemantik Api. Maklum kadang tungku Kromatograph juga ngambek sehingga tombol pemantik berkali-kali diceklak-ceklik mereka tidak mau menyambar gas hydrogen.

Kalau sudah begini, terpaksa deh digunakan cara emergency pakai korek atau pemantik api.

Tapi korek api gas puny afungsi palin, bilamana tidak ada lumpur bor diaduk – misalnya sedang pekerjaan Subsurface Logging – alat muti harus kudu dirangsang sensitivitasnya. Caranya – buka korek api gas dibawah tutup blender (blender dimatikan supaya pisau tidak melukai tangan), semprotkan barang 5 detik lalu lihat reaksi gas Butana 100% setelah dianalisa oleh Chromatograph. Jarang sih yang dapat Suntikan Gas Segar 100% lalu keluarnya 100%. Biasanya 50% sisanya – menguap.

Tapi dengan melakukan suntikan secara “konsisten” – bilamana ada gangguan dalam sistem deteksi gas, bisa segera terlihat dari response alat terhadap gas korek.

Ini cuma cara praktis. Yang lebih akurat lagi tentunya pakai Botol campuran gas yang sudah dibuat dan dianalisa di laboratorium. Tapi MudLogger juga harus belajar mengatasi keadaan darurat. Misalnya suplai gas terputus.

 

Mimbar Saputro
Pensiunan MudLogger

Posted in mudlogger, mudlogging

Meludah Kekiri sebagai Tulak Bala


Korek api gas terkadang dipakai sebagai pematik api tungku Chromatograph yang membandel atau sebagai check respose gas detector. mimbar saputro

MELUDAH KEKIRI, TENDANG BAN, BUANG GARAM KEBELAKANG sebagai sarana Tulak Bala(k)

Saat menyaksikan interview kapten Sukhoi- Alek Yablontsev – bahwa setiap akan melakukan penerbangan Ia akan meludah kekiri – sebagi “buang balak” – bahasa Palembang – buang sial.

Tentu tidak jelas, apakah pada penerbangan kedua – pilot senior ini mungkin menganggap meludah kekiri sudah tidak berlaku lagi.

Dalam perjalanan dari Surabaya ke Cepu, bertepatan kehamilan adik Ipar, yang sekarang putranya sudah berusia sudah 13 tahun lebih – Hatta di tengah jalan, Supir yang akan membawa kami ke Pertamina Cepu untuk memperkenalkan jasa MWD Electromagnetic system – minta ijin turun sebentar di Bojonegoro untuk beli air minum.

Kesempatan ini saya gunakan berputar kekiri lalu saya menendang BAN satu persatu untuk memastikan semua dalam keadaan tidak kempes.

Howard rekan Bule seperjalanan saya, langsung komentar – Kamu Tadi Pasti melakukan ritual “buang sial ya..” – Sial bener saya dituduh BOMOH pa ya? padahal yang saya lakukan adalah meniru para supir truk kalau periksa keadaan kendaraannya memang dengan cara menedang ban. Pasalnya kalau dipencet tangan, ya tidak ngaruh.

Lantas di lapangan minyak. Seorang MudLogger (kini Wellsite Geologist) Pinoy, punya perilaku lumayan buat disimak.

Manakala peralatan kami mengalami masalah – kita bicara 32 jenis sensor yang tiap hari ada saja yang trouble, maka ia akan berlari ke dapur lalu membawa kembali ke kabin kerja. Garam akan dilempar ke belakang tanpa menoleh. Lalu dia akan memutari kabin yang berukuran 10m x 3m sambil lagi-lagi melempar garam kebelakang.

Saya sendiri lebih percaya mengelus peralatan MudLogging saya sambil “cakap-cakap” sebetulnya self motivation, sebab sambil mengelus peralatan terkadang nampak ada alat yang mungkin somplak, butuh reparasi. Dan ini saya lakukan sampai 30tahun lebih