Posted in mudlogging

Memasak Gas pekerjaan sehari-hari mudlogger


MEMASAK GAS PAKAI GAS

Yen dipikir-pikir pekerjaan MudLogger sebetulnya mirip-mirip juru masak. Pertama-tama mudlogger menggunakan blender untuk mengaduk lumpur. Setelah di blender, lumpur dialirkan, semantaara gas yang diproduksi akibat terlepasnya gas dari lumpur, dialirkan ke “tungku” yang namanya chromatograph. Hanya Gas Hidrogen yang dipilih untuk membakar tungku sebab tidak merusak ciita rasa adonan gas lumpur.

DIADON DENGAN UDARA

Didalam tungku Kromatograph, setelah dicampur dengan udara maka gas tadi dipanaskan pada suhu 350 derajat Celcius. Bukan saja terbakar, tetapi gas malahan menjalani proses Ionisasi. Karena nama barang terbakar, oleh ahli kimia penyebabnya adalah unsur Karbon (C) dan unsur Hydrogen (H). Misalnya Metana dengan judul C1H4 setelah masuk tungku ionisasi akan terurai menjadi ion.

Lalu didalam tungku pembakaran dipasang alat penangkap ion. Makin panas sifat gas, maka ion yang dihasilkan main banyak. Prinsip inilah yang dipakai oleh Gas Detector dalam Mudlogging.

Maka tak heran dalam Kabin Mudlogger yang panjangnya 10meter kali 3 meter seringkali ditemukan Korek Api – Kosetan, Korak Api Gas sampai Pemantik Api. Maklum kadang tungku Kromatograph juga ngambek sehingga tombol pemantik berkali-kali diceklak-ceklik mereka tidak mau menyambar gas hydrogen.

Kalau sudah begini, terpaksa deh digunakan cara emergency pakai korek atau pemantik api.

Tapi korek api gas puny afungsi palin, bilamana tidak ada lumpur bor diaduk – misalnya sedang pekerjaan Subsurface Logging – alat muti harus kudu dirangsang sensitivitasnya. Caranya – buka korek api gas dibawah tutup blender (blender dimatikan supaya pisau tidak melukai tangan), semprotkan barang 5 detik lalu lihat reaksi gas Butana 100% setelah dianalisa oleh Chromatograph. Jarang sih yang dapat Suntikan Gas Segar 100% lalu keluarnya 100%. Biasanya 50% sisanya – menguap.

Tapi dengan melakukan suntikan secara “konsisten” – bilamana ada gangguan dalam sistem deteksi gas, bisa segera terlihat dari response alat terhadap gas korek.

Ini cuma cara praktis. Yang lebih akurat lagi tentunya pakai Botol campuran gas yang sudah dibuat dan dianalisa di laboratorium. Tapi MudLogger juga harus belajar mengatasi keadaan darurat. Misalnya suplai gas terputus.

 

Mimbar Saputro
Pensiunan MudLogger

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.