Posted in Lady Gaga

Lady Gaga


LADY GAGA

Perempuan ini pernah membuat saya kecangar tengsin. Sekitar tahun 2010, mbak Rita Moeis saat kami makan siang beramai-ramai teman kantor, dia asik berbincang dengan teman lain soal kacamata Lady Gaga. Padahal Rita juga tidak muda-muda bener.

Dengan bego dan sukses – saya bertanya siapa itu?- setelah dijelaskan maka kalau boleh meminjam kesan Mick Jagger waktu mencipta lagu As Tears Goes By- a slightly – slightly embararrassing situation. Itulah perkenalan saya dengan Lady Gaga, lagunya saya ndak ngerti sebab saya cuma senang ngeklik lagu Mick Jagger, atau Monalisa Blue Diamond yang linknya dikirim mas Halim Sutrisno.

Di TV penampilan Lady Gaga yang nyentrik cukup dinikmati kalau ada video clip di TV. Dulu Idola saya Alice Cooper, Black Sabbat, lalu band Trencem, Ucok Harahap AKA yang bawa Peti Mati, menyedot darah Kelinci, Ular sudah cukup memuaskan jiwa muda saya dan tidak perlu anggota DPR, Kapolri, Menteri, MUI ikut buka suara. Seperti sudah kurang pekerjaan.

Saya malahan terus terang ganti channel kalau Mr Limbat yang sedang show. Atau kisah Ambon, kisah Tawuran antar Warga yang ditayangkan terus menerus sehingga membuat kita terbiasa bahwa Luka, Darah, Molotov adalah kepribadian bangsa yang kita anggap lebih luhur ketimbang show Lady Gaga. Tahun 1960-an kita memusuhi The Beatles. Musiknya yang berjudul – I saw standing there, Mr Post Man dianggap merusak moral bangsa yang kata mereka sudah terpuruk (kok mesti bahasanya standar). Hanya karena mereka main gitar dengan menggerakkan badan kekiri dan kekanan sambil senyum-senyum.

Eh kita yang mencipta saja belum becus, sudah bawa stempel “ini setan”. Polisi kita sekalipun waktu itu belum ada FPI, tetap rajin mengadakan Razia di sekolah maupun jalanan. Siapa kedapatan pakai celana ketat langsung dirobek ditempat. Tak segan pak Polisi menggunting rambut lelaki yang gondrong.

Tahun 1971 pak Rektor saya turun tangan saat ujian lantas mengeluarkan Mahasiswa yang kedapatan rambutnya mencapai kerah baju. Mungkin masih ingat bagaimana Koes Bersaudara 1969 dijebloskan ke penjara bertahun-tahun lantaran menyanyikan lagu The Beatles. Sekarang yang berkoar mengganyang Lagu KoesPlus – pada merem melek mendengarkan Beatles dibawakan ulang oleh band lokal.

Cuma yang saya agak kecut – di TV orang melaknat Lady Gaga, cuma kok alasannya “Merusak Moral Anak Bangsa” – apa anak Bangsa Indonesia kelompok Bunglon yang bilamana didekati saga jadi merah, didekati kunyit jadi kuning. Lagian nonton 120menit apa begitu mudah mengubah Moral Bangsa. Ahmad Dhani pentolan musisi Dewa bilang – Pembodohan Bangsa –

Kita memang terlalu mudah menjatuhkan prasangka.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.