Posted in ketupat

Tupat Celup


Agak Agak Get Terkaget (dibaca ala cak Lontong) saya melihat benda putih kenyal, semog-Semlohei  tergolek di rumah saya. Gimana nggak Glek, pertama hari sudah jam 13:00 saat perut sedang angotnya berteriak akibat puasa. Plus dengan balutan bahan transparan sampai daging nya seperti akan meluber keluar (tapi tidak).

Belum lama melihat pemandangan bikin ngecez berat, mak-bedengus, istri sudah disamping saya. Itu tupat plastik, dimasak cuma sejem atau sejem setengah, sudah siap saji. Tapi bagusnya diangin-anginkan 3 jem (jem bukan jam)lebih dikit biar tambah padet (padet bukan padat) dan tidak berbahaya dikonsumsi (lha panas kok dikunyah).

Mana saya percaya kalau ada hil-hal-musahal-mustahil, mukjizat jaman kini. Apalagi orang rumah ini guampang termakan kata teman misalnya – main saham – duduk manis jual beli saham – jreng jadi orang kaya. Yang ngomong, beda barang beda cepek-nopek tega ngubek-ubek dari Sabang sampai Merauke.

Ada yang memang sampai punya rumah di Australia, Hotel di Bali, dia main saham, main dollar. Tapi – suaminya Tauke Listrik sampai jual Trafo PLN – la itu yang bikin kaya. Istrinya bingung dirumah lalu main saham. Curhaaaat dot com.

Diam-diam saya korek-korek tong sampah. Satu plastik ada 6 kampit dengan berat 130gram/kampit.

Saya baca aturan rebus seperti “Keluarkan Kampit Berlubang, jangan membasuh beras didalamnya, langsung rebus selama 60-90 minit mengikuti saiznya. Plastik kampit terbuat dari bahan boleh tahan suhu 106 Celsius.”

Gile bener sejem dijerang kalau kata orang Bekasi “Dah cakep Tuh..” – Tupat sudah siap lahap.

Ndak perlu selongsong (kampit), ndak perlu menunggu sampai berjam-jam membuang BBM.

Tapi dasar tradisi – kupat yang beneran – tetep bikin. Saya cuma dengar dia kasi prentah – sana beli selongsong ama pak Nisam. Nggak pazmantabz kalau nggak makan ketupat yang 8 jam dimasak.. Waduuh…

Cuma satu yang hilang – sate Kolang – Kaling, saya baru mengingatkan semalam rupa-rupanya tidak tertulis dalam CheckList maka seperti kata Panbers “terlambat sudah kau katakan padaku”.

Entah alasan apa nanti kalau keponakan datang dan tanya – Lang-kaling-nya mana?. Namanya nak-anak, ada Nasi Goreng yang ditanya Nasi Rebus.

Selamat Hari Lebaran 1433H..

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.