Posted in agama, bayi, lahir, naga

Namaku Anya


P1040101Hi Dunia…

Perkenalkan, aku datang Selasa Legi 22-Jan-2013 -dengan berat 3,38 keji di Rumah sakit SGH. Lucunya berita kedatanganku sampai di Indonesia angkanya di taysenkan menjadi 3,83 emang saya baby Jumbo..

Aku bilang Selasa Legi? Hare gini. Apa ngaruh?Pasalnya Mama Lia, kelahiran Selasa Legi dan Eyang Jakarta – Mamanya Mama Lia juga Selasa legi. Apa konsekwensinya… akan ada upacara-upacari..Wong Jowo – selalu punya excuse untuk bikin acara apa saja.

Lantas mengapa tidak ada data vital seperti panjang badan. Ternyata Dokter disini lebih konsentrasi ke berat badan saat dilahirkan. Cuma ikan yang bisa diukur dari kepala sampai buntut.

Semula tim dokter Yaqin -Sure- yaqin seyaqinnya – aku bisa “Golek Dalan Bayi ” merosot sesuai Gravitasi Bumi tanpa bantuan bedah.

“Your baby in the right position, she is moving forward ahead to…”

Nie yang bilang dokter….

Kenyataannya berlalu 12 jam, sms, bb, whatsapp muncul diksi aneh macam Epidurial, Mukadimah level 9 entoh aku masih belum berhasil menemukan terowongan ke dunia baru.

Akhirnya dokter ambil tindakan darurat – Sesarian..

Pertanyaannya mengapa tidak 12 jam sebelumnya, jadi mama tidak perlu tersiksa menahan sakit sampai ke ubun-ubun. Tulang belakang sudah kadung di “sunduki Tombak Logam kecil yang namanya Syringe”

Tapi dokter nggak dimana-nggak disini menangan melulu ya..

******

Di- Blekek-macam mau dijadikan Beduk

Srettt Sreet Titik. Selesai sudah acara setuju bedah diteken (tanda tangani), menurut mama Lia, ada 3 dokter datang, satu senior dan yang lain bukan. Tanpa sepatah katapun, apalagi basa basi macam di Sinetron, baju mama dibuka, lalu badan mama mulai dipasangi alat.

Suara denting logam beradu, sampai satu saat mama merasa anggota tubuhnya diperlakukan macam Kambing Qurban di Tenabang yang kulitnya akan mau dibuat bedug masjid.

Bayangkan kaki mama sebelah kiri ditarik ke Timur, Kaki kanan ditarik ke Barat. Tangan satu ditarik ke Timur Laut dan Satunya Barat Daya. Jangan-bilang-bilang, mamaku kan “agak” ndut-kapikadut.

Semua dilakukan Tanpa Kata, atau Bicara… (ambil lagu Harry Moekti)..

Saat Operasi Tiga dokter hanya bergumam tak jelas..

Sampai satu saat nampaknya suasana berubah menjadi salah satu episode National Geography yaitu mirip memancing Giant Catfish dengan tangan kosong.

Anda tahu kan, tangan merogoh sana sini mencoba menyentuh kepala Lele Dumbo Raksasa. Tetapi kalau tangan masuk ke perut Mama Lia sambil meraba-raba dimana letak kepalaku yang sudah berputar, cerita jadi lain.

“Where is the baby…” – pertanyaan dokter kepada sejawatnya seakan mereka mencari sepotong Kuwe Bolang Baling yang jatuh diantara pengunjung acara sekatenan Yogya.

“Okay I got the HEAD…” kata temannya lagi…

“No.. No.. This is the Head… Okay PullUp….”

Mama Lia cuma bisa membathin “what is going on my Body..Are You try Playing Seek and Catch dear Doctors?”

Apalagi ketika mereka menekan perut Mama Lia agar aku segera keluar..
Pasalnya ada instruksi “Push..Push”.

Mama Lia cerita di Betheti hidup-hidup.

Kalau acara Kurban, maka untuk mengeluarkan isi perut Kambing atau sapi pak Jagal seperto mengurut jerohan.

Cuma kali ini mama Lia yang dijadikan ususnya.. Tak heran, belum ditepuk “juga seperti dalam filem” … saya sudah CENGERRR keras sekali. Waktu menjahit bukaan operasi, mama merasa seperti ada benda masuk, lalu benda menarik dagingnya. Eh para dokter malahan curhatan satu sama lain kalau kerja di Rumah sakit A, Rumah Sakit B

Papa dengan penuh kasih mengompres mama yang setengah pengaruh drug bergumam “kompresannya kok bau Empek-empek..” – Itu memang makanan kesukaan mama.

Tetapi eyang dari Jakarta bawaanya Sate Ayam, Tempe Bacem, Ati Ampela, Oseng-oseng. Empek-empek tidak dibawakan Eyang sebab tau sendiri Grogol kan masih Banjir.. Ini Januari 2013 lho, kiamat ndak jadi datang, tapi Banjir nggak di-cancel kok.

Tapi ya sudahlah..

Inilah aku, masih anak Shio Naga dengan ekor Ular Air, sekalipun saat ini aku agak pemalas minum ASI.. Tetapi, hari kedua… kedua orangtuaku kewalahan menyediakan ASI.

Kata Eyang – aku ini kalau soal GEGARES – Mama Lia banget

Pemerintah tempat aku dilahirkan sepertinya “anti” bayi Susu Kaleng. Jadi diusahakan mentok sementoknya harus “breast feeding..”..

Karena hari pertama aku agak demam-panggung maka selera minumku hilang. Kadang Aku ditelanjangi sampai kedinginan, sampai tanganku bergetar agar menangis sampai capek dan minta minum ASI..

Hari kedua, aku sudah dilap basah. Saya dengar dalam tradisi Cina, sebelum 30 hari, bayi tidak boleh dimandikan…Nyirik, pantang makan ini dan itu. Boleh jadi kalau semua diikuti akan ada conqurs Bayi Kurus dan bau Ban Dalam Pecah..

Tetapi kami tetap dengan kebiasaan tradisi sehat ala Jawa campur paman Lee.

Acara mendokumentasi on ANDROID oleh papa yang fanatik Samsung ternyata gagal dilakukan sebab kelahiranku tergolong Stadium “EMERGENCY” sehingga papa tidak boleh menyaksikan apalagi mendokumentasikannya.

FLAT FOOTED (pes planus)

Orang bilang Kakek Mimbar Banyak Menurunkan Gennya.. misalnya Chubby, bulu mata panjang dan lentik.. Tetapi aku juga menurun Flat Foot.

Akibatnya aku sering mbeker-mbeker menjerit sekerasnya kalau telapak kakiku di massage guna menormalkan telapakan. Geli gitu.. Tetapi kakek Mimbar berbisik – “punya alasan beli sepatu berkualitas” sebab tidak ada gunanya pakai sepatu kalau bikin pegal di kaki.

Orang Flatfooted tidak suka pakai sandal, sebab kalau berjalan jauh akan berimbas kepada pegal-pegal di pinggang. Sekarang aku sudah dirumah sendiri.. Tetapi secara rutin aku masih harus ke dokter untuk menjalani serangkaian test.

Terimakasih yang sudah memberikan selamat atas kedatanganku, juga terimakasih yang sudah “terbang jauh” meninggalkan daerah khusus banjir istimewa hanya untuk datang beberapa menit mengunjungiku.

Duh rasanya senang sekali dikunjungi kerabat baru. Mungkin ini yang eyang sering katakan – kalau kamu mau didatangi orang, kamu harus mau mendatangi mereka terlebih dahulu.. Sampai saat ini aku nggak terlalu ngeh.. Itu peribahasa atau statistik, gitu. Mudah-mudahan dalam waktu singkat aku sudah bisa mengunjungi kerabat tempat mama dilahirkan.

Pasti exiting ya hidup di dua negeri berbeda.

Tapi (selalu ada tetapi), birth certificate-ku tertulis Ras Mama adalah “Malay” – mereka tidak punya diksi “Indonesia” – jadi pilihannya hanya China, India, Malay atau Eropa..

Hanya mohon maaf kalau setiap Bezoek, harus mendaftar, tunjukkan passport, macam mau coblosan..

Sekali lagi terimakasih atas perhatiannya…

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.