Posted in bandara, imigrasi

Human Error berlanjut


Sebelum terbang balik ke Tanah Air Cengkareng, pesawat yang sudah terbang 3 jam ini isi-minyak di Denpasar. Dimumkan memakan waktu 30 menit sehingga penumpang dikasih OPSI turun “lukke-boyok” luruskan pinggang, atawa “leyeh-leyeh sembari midangetaken iphone” alias boleh duduk manis-manis dipesawat. Yang kasih pengumuman adalah kepala pursernya anggap saja namanya Mr. Ed.

Namun tidak demikian “JUKLAK“, tanpa tebang pilih penumpang di gusah – harus turun oleh anak buahnya yaitu para pramugari…

Tigapuluh menit aku disini.. tanpa suara .. tanpa bicara (ada lagu bilang kalau bicara itu lain dengan bersuara), itu adalah waktu yang dibutuhkan anda turun perlahan-lahan dari kursi, antrean di dalam pesawat, turun tangga, memutari bandara Denpasar sambil ambil tanda Boarding Pas sementara, masuk lagi di screening, ke  toilet dan anda ndak perlu duduk sebab panggilan boarding sudah “jatuh tempo”

Saya pribadi dengan pengumuman “ambigu” lebih senang benderang sebab bisa tanya petugas, bagaimana dengan urusan keimigrasian apakah ada yang perlu di cap atau diberi catatan. “Jawabannya..masuk dari Cengkareng…maka passport dicap di Cengkareng” Lagian setengah jam mana cukup waktunya untuk urusan cap mengecap…

Sesampainya di Cengkareng, sambutan imigrasi cukup jelas… “Yang (naik) dari Denpasar, antrean di loket sekian”… Maka saya mindik-mindik tanya “mbak kalau cuma transito kan harus ke loket lain?” – ibu berjilbab menjawab “betul, bapak antri diloket lain…

Maka saya dan toko sebelah pun antri manis-manis di loket “lain”.

Perasaan membutuhkan waktu 30menit tanpa bicara tanpa suara, kok petugas saya kasih order “bapak bukan disini antrinya, tapi di ibu yang berJilbab”…

Tentunya saya punya hak menyangkal – lalu duduk, berdiri, jongkok perkara saya jlentrehkan secara panjang-lebar, setengah alas kali tinggi, tetep saja beliau kekeuh “antri ke Jilbab”.. Bahkan untuk menjawab protes saya, toko sebelah yang sudah dibebaskan pasportnya ditarik kembali dan harus antri di “Ibu Jilbab

Saya balik dengan sukses dan bodohnya ke ibu Jilbab, dia tegas “hanya yang penerbangan dalam negeri yang saya periksa” – maka seketika itu juga remote volume saya pencet ke tanda “+” setengah berteriak saya memprotes agar bisa menarik perhatian seantero ruang imigrasi..

Waktu teriak saya membayangkan Singa yang mengaum, biar efek suaranya “kena slag” – aku membayangkan Lion dari Tsavo River di Kenya. Tapi nampaknya yang keluar adalah suara tersengal macam Kuda Nil kurang Gym diseret dari sungai lalu diajak jalan-jalan ke Sahara.

Ibu berjilbab pertama membawa masalah saya ke Jilbab 2 yang nampaknya boss, lalu dari sini dibawa ke bapak Gendut yang sepertinya boss juga…

Harusnya ..pasport dicap di Denpasar pak!” – Helloo!!! this is Cengkareng Mister…

Sepertinya ada ribuan penumpang International yang masuk ke Cengkareng melalui Bali, tetapi apa Departemen keImigrasian sudah menyatu dengan Departemen Pendidikan yang menyelenggarakan UN-saja tidak becus serentak..

Duh..

Advertisements
Posted in angkasa puri, bandara

Human Error


Penerbangan Pagi – Wayangan..

Sepantesnya kalau punya pesawat bilang boarding jam 06 bakda subuh plus menitnya keriting, maka “Resolusi” hari tersebut adalah setidaknya jam Opat-Saperapat (4.25 pagi), kita musti dah dimari di Cengkareng. Maka bisa dibayangkan kalau tinggal di Bekasi saya kudu lek-lekan, wayangan dengan sedikit “power nap” tidur-tidur ayam dengan HP, semua dipasang alarm yang jedanya cuma beberapa detik…

Bingung van Keder..

Sampai di terminal, mulai saya mengecek loket pelaporan (check in).. Tentunya yang dicari adalah papan Informasi Penerbangan.

Tilang..tileng… Dagu mendangak sampai kulit tengkuknya bisa dibikin dompet koin, lalu menunduk sampai dagu menyentuh leher, ternyata loket pelaporan untuk nomor penerbangan pesawat saya masih seperti Jendral Caleg kita yang main petak umpet dengan Kejaksaan.. Duh Gustiiii apa saya salah terminal?.

Akhirnya kami mendekat seorang Kartini sedang duduk dan ditangannya setumpuk alat yang biasa ditemui di Takashimaya Orchard Road lantai 1, alias benda kecantikan..

Mbak permisi, nomor penerbangan sekian… itu check in dima…..“, belum selesai hurup “NA” dituntaskan dia menjawab sambil biji matanya menatap lurus tak berkedip ke papan bedak.. Sampai berfikir jangan-jangan terminal udara kita sedang bekerja sama dengan perusahaan alat kecantikan, dan salah satu Konsultan kecantikan adalah  mbak yang berpakaian seragam Angkasa Pura..Yang sedang duduk berhias..

“Belum Buka!”– ia  menyalak..

Sekarang dia berubah bentuk seperti Kopasus Cebongan..

Saya bisa terima dengan legowo jawaban ini. Namun nanti dulu, Toko sebelah saya (istri) lain perangai, ia jadi beringas…. “Saya bukan mau check in tapi mau tanya loket berapa nomor pesawat saya ini, di papan sana kok tertulis terminal C.”

Aku bisikin ya.. masalahnya dipapan yang saya lihat tertulis semua pesawat masuk Gate “D” – lha kok pesawatku kok nyentrik masuk di Gate “C”

Petugas yang menjawab sambil asik mengoles lipstick “Barangkali ya di terminal C…” dan itu biasa diartikan harus siap menyeret barang bagasi pindah dari terminal 2 ke terminal 1.. Tapi apa iyu saya sebloon itu ya..

Setelah jadi kitiran sesaat (kitiran kan dipontang panting kiri kanan puter puter), akhirnya ada petugas berkenan memberikan keterangan… Memang tulisan terminal “C” itu menurut mereka “hanya komputer error“… Yang bener sebener-benernya ya Pintu D.. Leganya aku ndak perlu pindah terminal..

Kita musti maklum, kalau Radarpun yang menentukan Nyawa ratusan manusiapun error apalagi cuma papan Pengumuman yang kadang sifatnya lebih kosmetik ketimbang fungsional…

Sayapun terima boarding pass. Kelar melewati pemeriksaan imigrasi, sampek boyok linu (pinggang sakit) cari terminal “F” ternyata ..ndak ada itu terminal yang saya cari… Saya tanya ke petugas imigrasi, passport kami ditahan lalu saya diminta lapor balik ke counter petugas ngantuk…

Tapi eiiit nanti dulu… passport diserahkan seseorang tak dikenal? emang mau cari perkara.. Passport adalah Layang Kalimushada masa kini..

Toko sebelah saya perintahkan menunggui sang petugas imigrasi sementara saya berlari kecil macam orang lari kecil dari Safa ke Marwa full sumpah serapah..tetapi sejujurnya saya senyam-senyum dalam bathin sambil mulai menulis diawang-awang.. Enaknya hobi menulis, semua problema bisa dikonvesi menjadi tulisan..

Petugas mungkin kali ini nyawanya sudah kumpul semua. Ditengoknya boarding pass lantas dicocokkan dengan kamputer didepannya. Cuma Merenges petugas lalu sret sret boarding pass pakai spidol diubah dari F menjadi D “Oh iya… harusnya D pak bukan F….

Hari itu dia cuma stok Merenges.. “Sorry atau Maaf lagi menghilang macam solar”
Hukumnya di rimba Penerbangan adalah Datang Ngepas Dijamin Laat binti terlambat, namun andai mengandai datang terlalu awal dijamin bingung binti sebingung-bingungnya.

Catatan: Pulangnya nanti..kalau ada lagu Badai Pasti Berlalu ternyata laguku Badai pasti Berlanjut… (pinjam status FB mas Ditto)

Posted in Uncategorized

Mari Makan Bakso dengan Borax, pasti enak dan tidak masam..


Manakala sedang main ke Citraland-Grogol, kami kerap mampir kedai Bakso Tahu ala Singapore. Itu lho yang sayurnya ambil sendiri, bakso dan pernik diambil sendiri, lalu plung oleh pelayan dimasukkan kedalam kuah panas.

Namanya Ibu-ibu, manakala saya bilang Supnya Wuenak, selalu saja mereka bertindak defensive.. “Aku Bisa Kok Masak Seperti Itu...” – dan Jreng..Jreng..Jreng, dalam waktu tidak lama makanan serupa akan dihidangkan dirumah. Dalam jumlah tidak sedikit.

Besoknya kepingin makanan yang sama tinggal ambil dari kulkas, besoknya lagi kalau masih belum bosan dan persediaan masih ada – tinggal plung..

Kebetulan lagi di Singapore, kebiasaan beli Bakso, Tahu dan pernik makanan Singapore juga dipertahankan.

Keesokan harinya  menjelang makan siang saya lihat didapur sudah menggelegak Sup Bakso lengkap dengan Kekan, Bakso, Tahu, Tauge, Kangkung. Hanya mi kuning yang absen.

Saya sudah ndak sabar lagi.. Dan bola daging yang masih hangat semi panas sudah saya gegares. Saya harus menggabungkan Ilmu Mendribel Bola agar panas bakso tidak menetap terlalu lama dalam mulut sehingga menimbulkan sensasi terbakar.  Tak lupa Ilmu Pernapasan, yaitu sambil menggolah Bakso sekalian ditiup menggunakan Pernapasan Tenggorokan. Jadi makan sambil mengeluarkan suara hwah-hwah.

Sayangnya pada gigitan pertama nyaris saya lepeh, sebab Tahu terasa masam, Bakso terasa masam. Padahal penganan ini cuma menginap semalam dalam di Kulkas.

Resiko penganan SEHAT, alias makanan tidak diberi Borax, Formalin dan segala macam ramu-ramuan pengawet , maka begitu dibeli harus segera diolah.