Posted in Yogya, yogyakarta

Suwiran Telas (habis), Tahu Bacem Juga Habis


Beberapa ratus meter sebelum bandara Maguwo, setelah hotel Shearaton, mobil yang dikendarai mas Roto segera menepi. Apalagi kalau bukan keperluan membeli jajanan khas Yogya yaitu Gudeg “YD”.

Pukul 12 tengah hari ditingkahi hujan mengguyur kota ini sehingga saya hanya memotret didalam gedung. Rupanya alam tidak mampu menaklukkan para kuliner pecinta Gudeg terkenal yogya yang sudah kondang sampai dibelain  ditenteng “cabin baggage” ke luar negeri.

Kami cuma bisa nelangsa membaca deret aksara “SUWIRAN HABIS” – yang artinya jangan harap menikmati daging ayam yang sudah dicabik-cabik. Buru-buru kami pesan Tahu Bacem campuran Gudeg yang ternyata seperti diperuntukkan untuk kami sebab setelah itu, Tahu Gudegpun bablas. Yang kecewa adalah pelanggan dibelakang saya.

Satu kotak besar umumnya berisikan racikan Gudeg yang berupa nangka kecoklatan dan manis, beberapa potong ayam yang sudah lunak dagingnya sehingga bisa dilepas dengan kekuatan seperti menulis halus kasar, telur ayam, sambal goreng krecek dan tahu bacem ala Gudeg…

Gudeg ini tergolong “Kering” sehingga tidak akan dijumpai misalnya daun singkong, atau kuwah gudeg. Tentu tujuannya agar dapat tahan lama dibawa ke luar daerah/negeri. Kalau saja saya Chef, maka komentar negatif cuma satu – presentasi Gudek teramat monoton. Coklat dan coklat domination. Kalau ada yang hitam paling telur ayam yang gosong.

Dan sebagai menghemat waktu dan alternatif, apalagi gudeg utama sudah habis kami malahan menikmati Gudeg+Bakso  yang lain di arena ruang kedatangan Maguwo yang merangkap ruang para ahli hizab tembakau. Gudeg yang saya tenteng, buat oleh-oleh saja.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.