Posted in donor

Bisnis sampingan Donor Darah


Saat membuka komputer Google Calendar memberikan peringatan untk Donor Darah.Untung selama sepekan lebih saya tidak mengonsumsi antibiotik atau obatan semacam Panadol, Paracetamol dan sebagainya. Artinya saya clear untuk menjadi donor.  Saya selalu memilih PMI Pusat sekalipun untuk itu hrus rela bermacet ria dari Bekasi, masuk Jatinegara dan balik arah ke jalan Matraman Raya tempat PI bercokol.

Hatta, ketika ibu Mega terisak-isak mengenang jasa dan jejak yang ditinggalkan mendiang ayahnya, saya sudah “reketeg” merebahkan diri siap untuk “ngetap”.

ADA IBU DILAYANI LEBIH AWAL

Cuma beda beberapa menit setelah saya tidur manis-manis, datang donatur lain seorang ibu dengan usia macam saya. Dan perawat langsung menyongsong sang ibu dengan  dengan kantung kosong. Sementara saya malahan diterlantarkan.

Terjadilah dialog standar, seperti lahir tahun berapa, sudah berapakali donor, apakah donornya rutin. Apakah minum obat antibiotik. Pertanyaan ini hanya mengulang pertanyaan serupa sebab saat mengisi formulir, saat diperiksa dokter pertanyaannya pun itu-itu lagi… Baru setelah usai dengan urusan sang ibu, perawat beringsut mengurusi saya untuk kemudian kembali melayani sang ibu lagi.

TRANSFER MACET

Tiba-tiba datang perawat lain yang nampaknya lebih senior. Ternyata ada gangguan pada proses transfer. Jarum dan plester saya diperbaiki olehnya. “Maaf ya pak…” – Katanya.

“Tadi macet pak!” – Lho peristiwa didepan hidung kok tidak disadarinya lantaran keasyikan berbincang dengan pasien lain.

“Ibu tadi minta tolong disuntikkan Vitamin C”

Lancang saya menukas “itu kan bukan job description seorang perawat bank darah?”

“Ah cuma minta tolong saya kok..” katanya enteng. Tapi apakah ia bisa enteng tersenyum seandainya terjadi komplikasi (siapa tahu) atau malahan dibilang malpraktek.

Pasalnya belum lama saya melihat seorang ibu keluar ruangan donor sambil dipapah, ia mengeluh kepalanya pusing.

Mungkin bagus juga ambulan Bank Darah ditambahi kalimat – Raih hadiahnya boleh minta tolong disuntik  Vitamin “C”

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.