Posted in Uncategorized

Airport dan Tepuk Tangan


Jaman dulu bener… manakala pesawat mendarat dengan empuk.. Penumpang, termasuk saya pada  tepuk tangan. Petama melepas ketegangan, kedua ya memang masih Norak…

 

Lantas ketika bepergian dengan pesawat terbang bukan hal yang “special” – terimakasiku kepada pesawat murah, maka keluarga termasuk simbah semangkin heran ketika Numpak Montor Mabur kok modal kaos Polo dan sepatu Keds. Padahal beberapa kelompok masyarakat bepergian selalu pakai jas lengkap.  Lalu teman saya pernah share foto bandara Melbourne di 50-an, ketika pengantar naik kepanggung untuk melambai sanak keluarga bepergian sambil pakai jas dan topi. Judulnya “Ketika Bandara Belum Memungut Uang Parkir..

 

Bandara Changi-Singapura adalah salah satu lokasi pendaratan yang mengundang decak kagum. Pertama runwaynya mulus sehingga jarang pesawat touchdown sambil berguncang sekalipun sudah tidak terdengar tepuk tangan lagi. Tak heran Bandara ini sejak 2010 selalu mendapat ponten tinggi dimata dunia.

 

Sebuah koran lokal pernah menulis perawatan “aspal” Changi…yang menerbangkan tidak kurang 50 juta orang setiap tahunnya dan dihinggapi 6500 pesawat setiap minggunya. Landasan yang kerap di “mencloki” pesawat umumnya akan bocel-bocel (pothole), kerikil bertebaran dan-atau jalan semakin licin lantaran karet ban yang terdeposit akan boleh jadi bikin pesawat tergelincir.

 

Malam hari, sekitar satu setengah jam sebagian landasan ditutup. Mereka mempekerjakan kendaraan bersensor laser untuk mensweeping jalan dari bocel-bocel dan debris yang kadang bisa mencapai sebesar bola golf. Membayangkan pekerjaan menscan 4kilometer jalan dengan kecepatan maximum 25 kph.

 

Lampu penerangan yang putus segera diganti dan tidak lupa memberikan semacam duri untuk melindungi lampu agar tidak dijadikan tempat sasaran kongkow-kongkow burung sambil POOP.. Nah kotorannya ini bikin lampu jadi temaram.

 

Sebulan sekali – rumput dicukur dan disisakan 5-15 centimeter. Landasan lalu dicat ulang dengan cat yang memberikan angka gesekan tinggi. Pekerjaan ini dilakukan mulai tengah malam dan selesai sekitar jam 06 pagi.

 

Kendala yang dihadapi biasanya karena meliputi 600 hektar, adanya water bodies (sungai, kolam), dikelilingi hutan dan dipinggir laut maka seringkali petugas harus mengusir mahluk bandel semacam burung, kadal, kura-kura sampai ular yang melintas disana.

 

******

 

Data

 

Satu kendaraan Surface Friction Tester

Empat – Runway Sweeper

Tiga – Inspection Rovers

 

Pekerja terlibat 50 orang (malam hari)

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.