Posted in singapore, singapura

KEDAI DENGAN TAMU BERBAJU SUPER KETAT DAN KERINGATAN PULA


SetiapP1050985 pagi, manakala bersepeda sendirian saya melewati jalan yang pada jam 04:00 masih sepi, kedai masih tutup- kecuali kedai yang bertajuk PitStop ini.

Ini sekedar jalan tembus – untuk potong kompas memasuki jalur sepeda yang memang khusus dibuat.  Patih Singapore dan slagordenya mengucapkan janji mirip sumpah Palapa-Path Gajahmada  – AKAN MENYATUKAN BUMI SINGAPURA DENGAN JALUR SEPEDA. Orang bisa keliling Singapore dengan aman lantaran jalur khusus. Mau kerja bergowes-pun, boleh – Bike to Work..

Pegawai restoran 24jam – biasanya berbaju serba hitam, sambil terkantuk menyapa satu dua sepedawan dan sepedawati yang berlalu didepannya- “Good Morning” – tujuannya kalau lapar atau haus – boleh mampir ke kedai saya. Mereka menyediakan ruang parkir sepeda yang disebut Bike Bay.. Cara berbisnis ciamik, menurut saya..

Hari ini Minggu 12/1/2014. Usai “nggowes” – kepingin juga mendatangi kedai 24 jam ini.. Karena hari sudah siang, nampak pengendara sepeda pelbagai jenis mulai melepaskan lelah disini. Mata saya termehek-mehek melihat sepeda berseliweran mulai sederhana sampai yang tak putus sepuluh ribu dollar.

Memasuki kedai ini, suguhan dinding adalah Sepeda beneran yang digantung, kaos jersey, dan pelbagai foto kegiatan sepeda… Melihat  tampang pelayannya maka dengan mudah kita akan berbicara Malayam. Cuma ada satu yag saya kuatirkan .maafkan saya menilai rada Stereotype-rada gebyah uyah, sama rata… .. lantaran pegawainya banyak, maka orang Palembang sering bilang bilang – Sepi Tamu Pernesan, Ramai Tamu Jugo Pernesan.. (Pernesan=ngobrol)..

Saya memesan Roti Prata dan Nasi Lemak, ditambah MILO Dinosaurus – Masih Ngamuk dengan pesan Toast…

Kok belum datang-datang juga ?

Nasi lemak tinggal di sendP1050993ok, Ayam Goreng sudah dibuat sebelumnya, Milo juga  bukan minuman kompleksitas tinggi, entoh kami harus Kopang-Kaping bertanya… Satu pesanan terpaksa dibatalkan yaitu Toast – Roti Panggang sebab pelayannya lupa..

Dan kalau ikutan bahasa Marco sang Juri MasterChef Australia -“The Whole Presentation is a Failure..”

Kenapa tidak meniru gaya kedai lain yang selalu menempelkan daftar pesanan – dimeja lalu setiap masakan datang, dilakukan checklist..Mencoret nama menu yang sudah datang. Kalau bermodalkan ingatan, akibatnya pengunjung jadi kecewa.

Lalu keluhan kami sampaikan di bagian kasir, namun kesannya perempuan manis dengan bekas luka memanjang ditangan kirinya adalah membela diri – dan mencoba melemparkan kesalahan kebagian dapur.

Lalu saya meramal… dengan cara bisnis demikian… mereka tinggal menghitung hari.. Sayang sekali.. Padahal diawal pembukaannya saya melihat P1050991anak muda yang bersemangat..

Palagi… Sepintas – kedai ini boleh dibilang usaha Bunuh Diri – dengan seabrek pekerja, terus buka 24 jam, apalah yang diharapkan dari jalan buntu ini. Lokasinya memang dipinggir sungai sehingga kawasan ini dinamakan Tebing Lane.. Namun sebelah utara dibatasi oleh lapangan rumput liar.. Lapangan ini biasanya digunakan upacara pembakaran rumah-rumahan kertas dan perabot lainnya bagi keluarga yang berduka sebagai pelepasan arwah.P1050988 Kadang upacara ditingkahi orang pada kesurupan..

Lalu dipojok lain hanya ada lapangan Golf Punggol – yang jelas tidak mungkin buka 24 jam, sisi lain sebuah Kelenteng Besar yang tak kalah seramnya.

Yang bikin “ngayem-ayemi” ada pos polisi yang selnya jarang penuh berisikan tahanan.

Namun pak Polisi tidak akan bisa menggerebeg kedai ini sambil bicara ANGKAT TANGAN – HARAP BEKERJA .PAKAI CHECKLIST DONG!P1050995

Saya tak ingin kehilangan teman yang kendati tidak mengenal – tetapi mengucapkan salam hangat selamat pagi (04:00) – hal yang super langka di Bumi Singapore ini ditemui..

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.