Posted in Uncategorized

Susahnya cari Balon Karbit


Beberapa pekan kedepan cucu saya ANYA akan berulang tahun pertama kali…

Tentunya bayi usia setahun – perImagetanyaan embah, tante, bude adalah – sudah bisa jalan belum – tumbuh gigi berapa – dan bisa ngomong apa saja.

Soal berjalan – namanya anak hidup masa serba pabrik dan komersial  – beberapa alat bantu agar bocah mau berjalan sudah disediakan namun Anya tidak menunjukkan ketertarikannya. Akhirnya barang tersebut mangkrak di gudang, begitu saja.

Malahan dia akan memilih deretan kopor kosong dirumahnya, diputar, didorong, bahkan Anya tidak perduli kalau jemari kecil kakinya dilindas roda kopor…dan bukan tidak sakit..sebab ketika ban menggilas jari kaki – ya ngilu rasanya. Akhirnya dia menjadi PD dan sekarang sudah bisa berjalan cukup jauh disertai gerakan memutar tiba-tiba macam Bajay melihat razia didepan..

Nampaknya bakal doyan traveling…

Kesukaan yang lain “rambatan” dikaca sehingga dia seakan melihat ada bocah lain didepannya.. Ada cerita salah satu eyangnya kalau menangis bisa lama dan sambil berkaca…

Lalu sang orangtua – merencanakan membuat acara ulang tahun kecil-kecilan, mengundang sohib dan sohibah – bersyukur dan makan bersama.

Mencari catering – mudah dilakukan melalui internet .. Bahkan uniknya pihak katering mau dibayar saat hari “H” – jadi zonder versekot..  Saya cuma bisa mbatin “bujug buneng” – masih ada juga orang berbisnis berdasarkan kepercayaan.

Yang sedikit merepotkan – untuk membuat balon bisa berterbangan, lantaran disini ndak ditemui tukang gas karbid.

Sebagai gantinya adalah sejenis benda dalam teka tek siang selalu bukan cair ENAM HURUP MENDATAR didahului hurup “H” -ya betul Helium..

Sebotol Helium ukuran Gas Melon – cuma bisa mengisi 30 balon kecil. Kalau ingin balon yang gedean, paling bisa separuhnya.  Bicara soal harga  gas Helium yag  kalau dibelikan balon karbid di Indonesia Tanah Tumpah Darahku – Mamang-mamangnya bisa ikut terbang sekalian deh.

Yang masih “PENDING” adalah soal Bicara… Cucu saya kerepotan otaknya loading Subtitle – Inggris, Indonesia, Jawa, termasuk Citayam- sekaligus. Apalagi Kakeknya suka sekali meracuni dengan kata-kata seperti Belah Belor – Ya Kagak – Antepin Bae.

Padahal filem keluaran Pixar sekalipun hanya boleh satu subtitle.

Jadi sementara ini Anya ya baru sekedar bahasa Kucing Garong – Kawin itupun saat dia mau tidur baru bisa di”Loading”.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.