Posted in Uncategorized

Ploduk…ploduk..iindonesah (nggak pakai “i”)


Image

 

Kalau saja tidak malu dilihat tetangga bule, mau rasanya saya kasih Tabek tanpa reserve kepada benda mati bernama Piring Parabola yang diberi tulisan Venus-Anti Karat.. Sekalian ingat  40tahun lalu teman sesama mudlogger memberi hormat kepada patung “Dewi Maria” – waktu ditanya suster Panti Rapih-Bulaksumur – dia kasih telunjuk berdiri didepan bibirnya lalu berseru SSHTTT ini upacara bendera. Sebelum digiring kembali ke Zaalnya..

Teman ini sedikit depressi sebab ternyata menjadi mudlogger tidak semudah yang diperkirakan orang.. Tapi sekarang teman tadi menyandang gelar strata2 dan sebentar lagi strata3.

Seperti teman saya tadi ….Kadang saya sering memandang benda apa saja yang ada tulisan Indonesia bisa berlangsung berlama-lama ditengah malam, diketinggian 2900m yang sama dengan tinggi jelajah Lion Air dari Jakarta ke Singapore.

Cuma saya tidak ditemani Suster rumah sakit apalagi yang ngesot.

 

Kalau sudah begini (sendiri) Lantas muncul sentimen kebangsaan… Bukan main… bersaing dengan produk Australia, produk Papua New Guinea – ternyata salah satu penyalur TV Cable sudah bercokol bertahun tahun mendominasi pasaran TV Berbayar. Jay – teman saya yang Pinoy pernah tanya “kok banyak betul acaranya” pasti mahal ya.. Saya jawab enteng ah cuma sekitar 15 dollar perbulan.. 

Kadang ditengah siaran ada peringatan – dalam bahasa negeri.. Bayarlah  iuran TV anda dalam 5 hari untuk menjaga kelancaran siaran..

Produk lain yang menguasai pasaran adalah Mie Instant.. hanya disini diberi nama berbau PNG – Kakaroo (Kukuruyuk) alias cap Ayam… Nyata-nyata ditulis pabriknya di Bekasi. Mereka menggunakan jingle dari cerita 7 manusia cebol.. Kerja Kerja Ayo Kita Kerja…

Maunya Mie Instant rasa Soto AYam… tetapi masakan ini tidak dikenal di PNG.. Jadi gambar ayam yang dipasang.. dengan label rasa Sup Ayam Special..

Lantaran itu pula saya “Ngecap campur Ngemie” -Mie ini dimakan dari gembel sampai Presiden republik kami lho..

Indonesia – bukan yang lain – semoga tidak cuma sampai di TV dan Mie Instant saja..

PNG 5 April 2014

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.