Posted in mudlogger, mudlogging

Goyang Naga di Papua TIMUR


Indovision berjaya di Irian TimurGoyang Naga
Jam 04:00 pagi atau 01:00 Jakarta, saya sudah mendusin sebelum alarm berbunyi. Diluar camp hujan rintik namun rapat masih membasahi bumi Irian Timur. Biasanya pakaian bersih sudah ada didepan kamar. Hari ini sepertinya Laundry belum sepat kirim pakaian sehingga mendingan ambil sendiri dengan resiko basah dan dinginnya udara pegunungan bisa bikin tangan beku..Sebelum masuk saya sudah membayangkan panasnya udara akibat mesin pengering, bau tajam deterjen. Tanpa mengetuk saya masuk ke kontaner sepanjang 40kaki ini dan disambut bau macam deplokan bawang bombai. Dikiri saya berderet alat cuci listrik sedangkan disebelang kanan berdiri rak ala Giant Supermarket. Diantara tumpukan pakaian maka di rak bawah nampak dua sosok manusia melungker macam tukang bakso masuk freezer. Satu perempuan dan satu lelaki. Tak heran baju terlambat datang..

Petugas ketiga, paling muda, usianya saya taksir belasan tahun, ia nampak yang berjaga. Sebatang SilverQueen saya ulurkan. Dia tertawa kegirangan. Dengan sebat.. Jaring Cucian berwarna putih bernomor 11 ia serahkan kepada saya. Itulah pakaian saya. Sebetulnya memberikan sesuatu tanpa maksud dibalik dibolak agak-agak keder juga. Seorang petugas lain dalam lain kesempatan gara-gara sebatang coklat, dia mengelus tangan saya. Suaminya tahu kan saya bisa pulang ke Jakarta tapi sebagai bagasi. Tentu setelah melihat terowongan cahaya dulu..Katanya..

Disampingnya HP-Alcatel tergeletak dimeja putih tetapi tetap dicharge sambil mengalunkan lagu daerah papua timur a.k.a PNG. Kalau anda mendengar lagu Sajojo maka iramanya persis sama. Signal HP tidak masuk sampai pedalaman ini.

Lepas patroli ke Londri, saya pindah ke ruang Internet. Tidak nampak seorangpun. TV 75 in, masih menayangkan screen saver INDOVISION.. Tapi lagu yang berkumandang adalah Goyang Naga… Rupanya penduduk Irian Timur sekalipun tidak mengerti maksudnya namun ereka suka dengan irama DangDut kita.. Tapi apa gara-gara digoyang naga – petugas Londri yang harusnya mengantar pakaian bersih malahan terlena dalam mimpinya nandak bersama Nagoya Victoria.

Papua TIMUR (PNG)
13 April 2014

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.