Posted in Uncategorized

Quck Count perolehan Pecel Pincuk yang mencapai Puncak


Waktu sudah menunjukkan sembilan puluh menit dari angka tengah hari.. Jalan Margonda Depok seakan sudah disulap menjadi semakin padat sehingga ilmu titen (mengingat), warung soto ini disana, warung sate disini sudah buyar blas.. Alias terjadi perubahan pesat. Maklum sudah lama tidak melewati wilayah Depok ini…
 
Akhirnya kami lewat disebuah rumah makan bertuliskan Hidangan Tradisional dengan nama seorang ibu yang saya tahu kondang dengan bubur ayamnya. 
 
GPS dalam otak mencari titik titen (pengamatan) Rumah Sakit Bunda ada diseberangnya…
 
Ha ada kursi kosong untuk dua orang..
 
Pelayan wanita berjilbab duduk timpuh menghadap nasi, pecel, sate babat, sate kuning telor, sate paru, tahu bacem yang montok, tempe bacem, empal gepuk, tempe kemul, peyek kacang. 
 
Pincuk tetap dari daun pisang, namun piringnya anyaman bambu berbentuk pincuk juga…
 
Pak Kasir yang berkaos Biru selain sibuk menerima dan mengembalikan pembayaran ia juga sibuk memberikan pengarahan tim suksesnya. Kalau waktu luang di cekatan sekali mengelompokkan uang dalam partisi berbeda…
 
 
LIMA JUTA BARU TENGA(h)  (H) ARI(k)…
 
Karena kami makan dengan posisi 12 pas didepan gawang kasir yang memajang minuman dingin Beras Kencur, maka sambil menggali dalam nasi diantara tumpukan kembang turi.. Tanpa disadari mata kami nemplok pada uang lama ratusan ribu.. 
 
Jreng…. Segepok ratusan ribu… pastinya belum NKRI sebab warnanya merah hati…jepret.. dikaretin..macam mau bikin pony tail .. saru gepok seratus lembar …artinya satu juta..
 
Kasir kalau tidak salah sudah mengikat ratusan ribu sebanyak lima kali, artinya ada lima juta minimum dalam lacinya… Belum uang yang warnanya hijau seketan (limapuluhan) yang kebetulan tidak dihitung didepan hidung saya… kalau saya Pinokio sedang berbohong terus tapinya… 
 
Warung pecel mana yang Omzet penjualan sampai pukul 13 keriting sudah mencapai perolehan diatas lima juta…
 
Berapa masakan dicoba.. Maksudnya kami makan dengan menu berbeda lalu ditukar.. Rujak Cingur, Pecel saling dicicipi.. Mantap…Hanya minum selalu es teh tawar.. yang ini memang SOP supaya rasa masakan tidak kacau beliau dengan manisnya mnuman..
Pekerjaan apapun kalau ditekuni, jangan hiraukan lecehan orang “kok cuma bakul pecel..” bisa berpenghasilan nyem nyem..

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.