Posted in Uncategorized

Balita


Pasangan muda ini mulai menarik perhatian saya – saat putranya yang berusia sekitar satu tahun lebih mulai merengek dan merengek sepanjang perjalanan Jakarta – Singapore. Bisa dibayangkan membawa anak yang umumnya selalu ingin bergerak, lalu terkungkung dinding dan kursi.  Saya pikir mereka akan turun di Changi Singapura,  ternyata  satu tujuan dengan saya yaitu transit dari  Jakarta ke Singapura pindah pesawat Air Niugini ke POM (Port Moresby).

Dari Changhi mereka duduk didepan saya sebelah jendela.

Ini berabe, lantaran window seat hanya memiliki dua kursi sementara bayinya juga gerah kalau dipangku terus. Sementara layaknya ibu-ibu kita setiap bayinya  menangis sang ibu makin erat menggendongnya. Padahal boleh jadi dedek bayi bosan dipangku.

Lalu terjadi ketimpangan, disamping mereka seorang Bule duduk sendirian di middle seat yang merupakan deretan kursi empuk untuk 4 orang. Dan ketiga kursi lainnya kosong melompong.   Pramugari mencoba membujuk Bule agar cimplis (ganti tempat dalam olah raga seperti Badminton atawa Pingpong.

Awalnya bule sempat berdiri menengok kearah balita. Namun setelah garusk-garuk kepala lelaki ini menolak… Nampaknya dia mau tidur selonjoran sepanjang perjalanan hampir tujuh jam dari Singapore ke POM.

Beruntung ada seorang Gentlemen yang berbesar hati pindah tempat duduk… Balitapun bisa nyenyak semalaman…

Setiba di sbuMordara Jackson alias Port Moresby…Antrean berjalan lambat… Lagi-lagi balita mulai menunjukkan gejala rewel. Airport sedang dalam perbaikan akan selesai pada April 2015 dan menelan biaya 85 juta Kina sekitar 40 juta dollar Amerika.

Nampaknya tangisan bayi tidak menggetarkan para petugas. Saya hanya bisa mendahulukan mereka didepan urutan. Setelah lebih dari setengah jam, barulah seorang ibu Imigrasi mempersilahkan pasangan muda ini mendahului antrean.

Di Singapura saja, manakala antrean Taxi panjang, saya menggendong cucu Anya dan biasanya kami langsung diprioritaskan.

Harusnya jangan hanya masuk pesawat para tua, pemegang prioritas, anak-anak didahulukan. Saat turun/imigrasi  juga harus diperhatikan

 

 

 

 

 

 

Mimbar
Sep 2014

 

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.