Posted in mudlogger, mudlogging, rig pengeboran

Batal Puasa Pertama Gara-gara Mi Instant


Sekitar tiga bulan menjelang Ramadhan saya sudah melakukan latihan fisik. Bukan Lora-Lari, Jompang-Jamping, atawa Angkat Beban seperti atlit Mixed Martial Art (MMA) mempersiapkan tarung di octagon. Latihan saya sekedar makan sedikit nasi dan banyak sayur. Dan zonder Buah. Lha kalau makan Apel, Pisang dalam jumlah lumayan – ya kalori juga yang masuk.

Juga para asisten rumah tangga sudah tidak otomatis menawarkan Mah-Mih Mah Mih yang selama ini mereka lakukan.

Dulu – begitu melihat saya bangun tidur dan mulai cari Kopi Lampung yang pahit. Dalam hitungan detik, dari bibir mbak Nani meluncur luwes rayuan “Ngemih Goreng atawa Ngemih Rebus..Pak” Dan saya selalu ter-rayu – “He-Eh mbak Nani, aku monat-manut-saja. Kalau kemarin goreng (mienya) sekarang rebus ya.”

Apapun jawaban saya, maka dengan sigap ia menangguk air kedalam kedalam rantang aluminum tipis bertangkai kayu yang sudah “oglek-oglek.”

Rantang satu liter ini favorit dalam urusan seduh kopi, sebab ketipisannya membuat gas Melon 3 kilogram menjadi awet usia. Tangkainya terbuat dari kayu. Sudah kopang-kaping (berkali-kali) diganti oleh pak Lanjar lantaran patah atau bautnya meloloskan diri.

Ritual lanjut adalah sebutir telur dipecahkan, maka dalam hitungan menit : mie instant sudah siap saji. Kalau mie goreng telur diceplok, kalau mie rebus ya telur direbus. Coba pikir, iklan Mie Instan sudah demikian menggurita… Apalagi mereka ciptakan Jargon seperti Kudet, Pecah, Pingin dipacarin rasanya, Sadis, Enaknya Langsung Terus.

Bahkan yang terakhir makan Mie campur keju akan dijamin lancar jaya nyerocos dalam bahasa Inggris. Tidak perlu kursus di ELTI atau sebangsanya.

ANAK PROTES

Namun anak saya bungsu tidak menyetujui ritual ini dan menegur mbak Nani… Itu makanan tidak sehat untuk usia Papa. Sia-sia mbak Nani menjelaskan bahwa mie ini aman disaji sebab air rebusan mie yang pertama sudah dibuang (padahal menurut saya menghilangkan rasa gurihnya).

Akhirnya memang sejak maret 2015 saya puasa Mi Instan, sarapan berganti OatMeal. Makan siang sedikit nasi dengan banyak daun-daunan termasuk rebusan daun Ketela Singkong Mukibat.

Sebuah cara klasik menurunkan berat badan.

Maksud saya dengan kata klasik dalam tanda petik cetak tebal, diet yang umurnya paling lama setengah tahun. Habis diet dijamin balik maning-balik maning macam Yoyo. Kadang hasilnya malahan lebih tambun ketimbang sebelum Diet.

Gaya hidup yang saat ini dipraktekkan oleh penduduk dunia tahun 1950, saat ini.

Diet Yoyo ini lumayan juga… artinya ada perubahan entah itu Sugesti, Sukesti, maupun Sukarti.

Kalau semula duduk simpuh rasanya seperti ada kawat duri dilipatan kaki alias sakit sehingga lipatan tak sempurna dan badan mendoyong kedepan menahan ngilu. Sekarang doyongnya nggak banyak-banyak. Ngilunya timbul tenggelam.

Kalau dulu ketemu toilet Squat malah langsung ndeprok sebab dengkul tak kuat menopang. Sekarang sudah bisa dilakukan dengan suah payah. Tetapi berdirinya bikin masalah. Terkadang saya melihat kesenjangan kesehatan dengan para orang tua di Citayam mengobrol-buang asap rokok dengan berjongkok berlama-lama tanpa masalah – kaya iklajn gadai.

Boleh jadi ini lantaran mbak Sugesti – Lho sekarang kok badan rasanya entengan. Maksud saya engsel dengkul sudah tidak berderit nyeri kalau diajak aktivitas yang banyak jalan.

Selain mbak sugesti perasaan pernah baca bahwa radang sendi – 70persen obatnya adalah control bobot.

Tapi rahasianya ya itu jangan ngemil diantara waktu makan dan ini dia nggak enaknya lagi…,jauhkan diri dari Rengginang, Kerupuk Putih, Goreng Pisang dan makan buah sekalipun. Kopi pahit dicampur dengan Green Tea pahit menjadi cecepan (minum dikit-dikit).

Kadang anggota keluarga sering senyam-senyum penuh arti melihat saya meneguk kopi dan didorong teh pahit.

Memasuki bulan puasa, cara berbuka puasapun tidak berubah. Kurma, Kolak Manis, Marjan yang iklannya mengisyaratkan bahwa bisa jadi juara Dunia dalam sepak Takraw. Sirup Campolai pemberian mahasiswa Akamigas Balongan – hanya saya lirik saja.

Saya makan secepatnya agar tidak tergoda mencicipi lain-lain.

Habis buka puasa hari pertama – sekitar jam 11 malam – badan seperti tak bertulang dan rasa lapar berlebihan membuat saya sulit menahannya lebih lanjut.

Melihat penderitaan saya, maka godaan “Batal Puasa Mie ” – mulai mengalir ditelinga. Apalagi neneknya Anya menghentikan kegiatan menyulam dan menuju dapur melakukan Pertolongan Pertama Pada Kelaparan Kritis.

Pucuk dicinta MieInstan tiba… Saya lirik iklan di TV ada mie instan sedang melilit diujung sumpit macam anakonda membelit kijang gemuk.

“Air rebusan pertama sudah dibuang…” terdengar suara dari dapur – duh saya ngenes ditahan… padahal itu bagian paling mengguncang nikmatnya.

“Aku cacahkan cabe merah satu ya..” – duh saya paling nggak kuat pedas, tetapi minyak atsiri cabai konon menyehatkan. Dan sebentar saja aroma tajam cabai menyapu hidung. Karena satu “lher” maka hidung tak sempat bangkis.. Syedeep..

“Aku tambahkan kubis..” – Disini saya nggak pakai mengeluh “duh” lagi kecuali – cepetan dong nenek , sudah lapar nih.

Akhirnya semangkuk mie tersaji… Asal lihat tatakan dibawah mangkuk, ingatan saya pada sejarah pertarungan bakul Kopi di Pasar PASIRGINTUNG Lampung. Tatakan dua ribu rupiah dianggap berharga diproses verbal sampai harus masuk agenda pengadilan dan sel mengesel pihak terkait. Dan pameran air mata serta rintihan derita ditayangkan media TV setiap saat, sampai dihapus berita lain lagi. PasirGintung semasa kecil saya merupakan lokasi jauh yang saya belain naik sepeda untuk cari burung dara.

Waw setelah sekian bulan, setiap milliliter bin “cc” kuah saya nikmati sambil merem melek, diiringi rasa takut. Merem melek karena memang uap panasnya pedas dimata. Rasa horror yang ditimbulkan lantaran bila napsu besar diikuti dan buru-buru menyuap. Bakalan lidah “cantengan” terbakar panas kuah. Mi pun tandas..das… kuah yang tidak sempat saya sendok, masih ada deposit bubuk cabe dan bumbu lainnya.

Taruh sendok ditatakan dan tempelkan muut ke bibir mangkuk lalu tunggingkan. Sruput..sisa kuah saya berantas sampai ke debu cabai terakhir.

Langsung saya keluar keringat dan mampu bersendawa gurau.

Jujur saya tidak merasa berdosa – dengan sengaja batal puasa (mah-mih) pertama bulan Ramadhan pada pukul 23:15 Kamis 18 Juni 2015

Fb:   mimbar.b.saputro

Tweeter   @mimbar

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.