Posted in keluarga

Makanan Ziarah


IMG_0087Pada September 2015 lalu, Mertua saya “Bu Marwi” genap setahun meninggalkan kami. Sebuah “peringatan” kecil diadakan di Grogol.  Biasanya salah satu anaknya melangkah ke depan untuk berterimakasih kepada tamu yang sudah datang.

Namun yang digadang-gadang ternyata tidak datang, kendati bocoran sudah dapat sih, dan saya yang cuma mantu dapat tugas “mendadak ngomong”. Sejujurnya saya merasa tidak memiliki legitimasi, namun mereka memaksa keluar sebagai ban serep.

Disini repotnya.. usia senja biasanya orang tanpa sadar cenderung berkotbah…Kotbah di atas Bukit, Kotbah di atas Huma, Kotbah di atas penderitaan, Kotbah di atas keypad..

Di Hulu suka Menyampaikan Pesan.. Yang di Hilir  Suka Bosan mendengarkannya. Sampai-sampai menjadi kelompok para Pen-delete-yang budiman.

Naskah saya ketik satu setengah spasi, font times roman 12, dan jadilah satu setengah lembar A4..

Waktu di cetak, pakai acara tinta hitam kering sehingga kebiruan tipis lamur-pun jadilah.. Ketika waktu saya tiba – Saya pamerkan ketikan ini didepan hadirin dengan gaya “RIN dan ROT mohon ijin baca terimakasih” – Tapi tidak ada yang menjawab “Laksanakan…”

Saya lihat wajah hadirin sepertinya “okaylah-ngampet lima menit… makanan aja kalau baru lima menit jatuh ke lantai masih boleh dieleg..”

Saya lalu cerita – kebiasaan beliau mengudak-udak warga DPR (kumuh deket rel) yang punya balita, untuk dibawa ke Posyandu, ditimbang, dikasih Susu, Mie Instan, kadang Biskuit, dan vitamin…” – saya pura-pura mengeluh – jaman dulu, dikasih gratisan malah  main petak umpet alias menghindar Plumbir. Kok kalau sekarang boleh baku injak, baku sikut… Kalimat terakhir agak gojak-gajek mau saya tulis.. Kesannya kok “Sindroma Masa Lalu Kok Enak”.

Lalu dari beberapa cerita lain, saya beralih kepada kuliner warisannya yang masih meninggalkan rasa Gleg.Nyem..Nyem..  Ia jago memasak GudeG Yogya.. Syaratnya  krecek (kulit sapi)  dan Gula Jawa kudu keluaran pasar MbringHarjo Joyodiningrat – dikirim pakai titipan KOBRA. Kalau Rendang Kondang butuh 4 jam menghasilkan makanan berwarna Hitam namun tidak overcooked, Ibu memasak Gudeg jauh lebih lama lagi dan tidak pernah Over atau UnderCook. Kadang ada pinggiran buah nanhgka yang sedikit gosong, tapi kok malah nyem-nyem.

Satu paket dengan masakannya adalah Opor Ayam, Sambel Goreng Krecek, Ayam Goreng ala Suharti. Bahan dasarnya harus Ayam Kampung keluaran Mas Surono dari Pasar Grogol.. Semua tidak bisa di tawar.

Dulu kalau salah satu keluarga sakit, para Dokter tidak mau dibayar, sebagai gantinya kami kirimkan Ayam goreng buatan Mertua.

Beliau juga ciamik dengan Siomay.. asal tahunya khusus keluaran Babah Cina.

Tahu ini andalan beliau sebagai oleh-oleh kalau bepergian ke Yogya. Seperti halnya orang Jakarta beli Bakpia Kurnia dari Malioboro.

Keahliannya memasak menyelamatkan ekonomi keluarga ketika diterpa gelombang finansial, Gudeg Yogya bu Marwi tampil… Sampai akhirnya menapak menjadi katering. Sayang pabrik yang dikateringin pada gulung tikar.

Namun ada masakan yang cuma kami (mertua dan menantu) yang “ndakep ngthekhut – telap – telep” ini istilah beliau juga.. Mungkin terjemahannya ngangkangin.

Masakan ini membuat kami  berdua ibarat “partner in crime” – Asal ibu mertua mengeluarkan spesial dishes ini anggota lain biasanya meninggalkan piring – seperti drama Korea yang harus tengkar di meja makan, lalu anak pergi merajuk.. tapi ini bukan.

Jam sudah menunjukkan pukul 20-an, maka ucapan terimakasih saya akhiri – dengan kata penutup “Sejak itu Sambel Goreng Pete dimata saya menjadi Kuliner Ziarah.. Terimakasih.”

Tidak lama kemudian Nasi Kotak dibagikan – tapi tidak ada Gudek plus Krecek apalagi Sambel Goreng Pete.

Grogol 15 September 2015

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s