Posted in gaya hidup

Pembalut


 

Pembalut Luka
Beberapa hari ini saya kedatangan tamu (beneran). Pasangan dengan dua anak balita perempuan. Mereka menginap untuk beberapa hari di rumah saya.

Rupanya salah satu tamu saya saat di kamar mandi ia baru sadar bahwa telah kedatangan tamu  (bulanan) sehingga ribut pinjam “pembalut luka..” – Masalahnya – kami adalah pasangan Meno dan Andro. Jadi tidak nyetok barang seperti kue bantal itu.

Jreng… selain “korban”  yang ada di kamar mandi, cuma ada saya dan bibik di rumah ini..

Bibik Nani- kedua tangannya sedang sibuk memasak, artinya kalau urusan masak diserahkan kepada saya – maka dijamin masakan bakalan hangus berkeping-keping. Akibatnya mau tak mau misi “cari sampe dapet” jatuh ke pundak saya.

Berbekal catatan yang ditulis oleh bibi (lorel /wisper) saya mancal (naik) sepeda ke minimart terdekat.

Jarak toko hanya 300 meteran jadi sebentar  saja sudah sampai disana.

Kertas tulisan Lorel/Wisper tanpa diedit segera saya sodorkan kepada mbak toko, sambil berpesan bahwa saya tidak operasi kelamin.

“Pembalut atau Liner?” – tanya petugas…

Celakanya HP saya tertinggal karena terburu-buru..

Maka saya mencoba merekayasa cerita:

+”Begini mbak… ada tamu saya ketamuan gitu deh – kira-kira apa yang dibutuhkan kalau dia ternyata tidak membawa perlengkapan tersebut..”

-“Oh Pembalut kalau gitu…”

+”Cakep…kalau gitu kasih saya segepok pembalut..”

-“Tapi ukurannya besar atau kecil – yang tebal atau tipis?”

Waduuuh kok jadi rempong begini..

+”Badannya seperti saya begini lho mbak..” – lalu saya berputar maunya seperti penari SUFI didepan si mbak..Si mbak mungkin mikir ada gajah keracunan Ubi Gadung.

Drama selesai, Loreal (Lorel), saya dapatkan di supermarket- IndoMARET yang sekalipun ganti bulan tidak menjadi IndoMei..

Sampai di rumah gantian saya diinterogasi “barangnya pakai Wing atau tidak?”

Ternyata tidak sesederhana itu ya kebutuhan wanita..

Jadi kepingin..

@mimbar
Mei 2016

 

 

 

 

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.