Posted in cukur, cukur plontos

Korslet


Setelah beberapa kali dikomplin bahwa rambut saya sudah seperti Rin Tin Tin yang tidak dimandikan beberapa bulan. Maka saya putuskan mengunjungi pangkas rambut langganan yang terletak di jalan Kodau Raya. Tetapi dari kejauhan pintu rumah pangkas nampak tertutup rapat.

Biasanya terbuka “blak..” – apa mereka ikutan bangkrut juga. Kalau iya maka artinya daftar tukang cukur yang tutup di kawasan kami akan bertambah panjang.

Ternyata  alasan pintu ditutup adalah service cukur bertarif tiga jam parkir di Bandara ini sudah memasang  AC. Dan “itu sesuatu banget..”

Sebetulnya saya memilih kursi yang kiri, namun baru saya berdiri bersiap sambil menunggu tukang cukur membersihkan sisa rambut pelanggan sebelumnya – mendadak seorang anak muda nyerondol dan tanpa sungkan langsung “mapan”

“Apa manajemen baru mas? kok mendadak AC?.” – pertanyaan saya ajukan sambil duduk di salah satu dari dua kursi yang tersedia mengingat si Laksana nama pemiliknya tidak nampak. Jangan-jangan sudah pecah kongsi.

“Yang kerja  kami antek-anteknya…”

Ternyata sang bos sekarang datangnya “rada siangan..”.

Dengan adanya AC memang saya tidak pelu disembur angin kering fan yang umumnya sudah telanjang, sebab kawat pelindung sudah lepas entah klemana.. Akibatnya benda berputar ini bisa mengancam jari atau benda apa saja yang menyentuhnya.

Belum selesai puji-puji keberadaan mesin pendingin.  Pelanggan sebelah kiri saya yang menyerobot dengan sukses mengangkat HP-nya.

“Woi brow  guwe Cukur dulu nih Brow” – tapi nadanya seperti “ngobrol yuk.. suntuk nih sendirian..” – dan pembicaraan berlangsung panjang. Akibatnya tukang cukur kadang harus menyetop kerjanya.

Pelanggan memang Raja..- kata saya dalam hati. Dan berhak menyerobot urutan..

Eh baru dirasani dalam diam, mendadak Raja kecil nyeletuk..

“Brow…AC luh panas..bener”

Saya pikir mas Barber akan membawakan kipas manual besar terbuat dari jalinan bulu merak – seperti di filem kerajaan itu lho.

“AC GUE okay. Badan ente yang korslet..” tukas pencukur yang melayani saya.

Lima belas ribu dikasih AC masih nggerutu lagi (katanya dalam hati, mungkin).

@mimbar
mei 2016

 

13139180_10207965044577000_563985677544677874_n

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.