Posted in pajak

PBB


P1100325
Transaksi Pajak dilakukan ZONDER duduk, dan dua lembar kertas di meja darurat itulah saksinya

Kalau Speaker mesjid berbunyi biasanya dua perkara. Panggilan Salat dan Pengumuman sehubungan dengan RT/RW. Belakangan ini  saban Sabtu Pagi – sekitar pukul 08:00 – dibacakan  pengumuman mengenai cara mudah bayar Pajak Bumi Bangunan (PBB)  melalui  RT kami namanya  Gedung Serba Guna dari jam 09-12:00.

Lantaran diumumkan berulang ulang dan kebetulan tahun ini kami belum bayar PBB maka himbauan ini masuk ke hati. Masuknya seperti mars Partai yang lebih banyak diudarakan ketimbang mars Negeri.

Apalagi jaraknya hanya beberapa ratus meter. Sampai disana, 08:30 belum nampak petugas, mau duduk dimana tidak ada kursi. Hanya dua meja kayu  terbuat dari triplex. Kalaupun mau duduk-ada bangku semen di sebuah pos jaga, namun empat orang pengojek  plus dua bocah sudah kongkow disana entah sejak kapan.

Seekor anjing coklat ditambat erat pada sebuah pot kecil.

Sambil menunggu petugas datang maka saya mulai melihat  kondisi bangunan yang disebut serba guna ini. Pintu toilet tidak memiliki kunci. Jadi apa yang terjadi kalau anda buang hajat disana. Kran wastafel sudah lama tak berfungsi.

Tidak lama datang seorang wajib pajak – Ibu Soeroso, janda yang baru ditinggal suaminya setahun lalu, jalannya seperti Robot pertanda Radang Sendi sudah betah tinggal dikakinya.

Dia datang diboncengkan seorang wanita. Bu Roso ternyata hanya ketemu perempuan “baik” yang tidak dikenalnya di jalan dan luar biasa – perempuan muda ini bersedia mengantarkan ke Gedung Serba Guna.

Berulang kali ibu mengeluhkan sudah ditinggal suami sehingga harus ke kelurahan sendiri buat bayar pajak bangunan.

Menunggu selama setengah jam sambil berdiri sudah barang tentu siksaan bagi beliau usia lanjut ini sehingga saya tawarkan duduk digardu pangkalan ojek yang berjarak sekitar 20m. Tawaran saya disetujui dan saya tawarkan untuk menggandengnya.

Sesungguhnya saya agak kuatir beliau menolak bersentuhan. Sampai sekarangpun kalau ada orang menolak disalami kendati maklum… hati saya tetap “mak jegagik” kaget.

Seperti yang saya katakan di gardu siskampling sudah ada empat lelaki dewasa di – namun ada 3 motor mangkal disana. Jarak tempuh yang begitu dekat bisa menjadi lama sebab ibu berjalan seperti bergeser. Sayapun harus sabar menggandeng ibu ini untuk melangkahi tanggul-tanggul got.

Dua anak sekolah yang bermain disekitar cuma melongo melihat saya menuntun Ibu – mereka saya tegur “dik kalau lihat orang tua begini dibantu ya…”

Kedua bocah SMP seperti serempak menjawab “kami tidak tahu Pak”. Ibu berbisik – anak kecil begitu bisa apa.. Sementara pesan yang ingin saya sampaikan – adalah “mbok yao get-get-en” – ini bahasa Nenek saya – cobalah melihatkan reaksi (empati).

Sementara Kang Ojek (3+1 orang) hanya saling pandang..

Nenek Roso baru saja duduk ketika tatkala datang petugas yang ditunggu. Setelah menstandarkan motornya mbak petugas meletakkan sebotol air minum, sebungkus roti coklat, dompet kain warna pink – sepertinya logonya “monyet”.

Hilang sudah fantasi liar saya – ternyata tak ada PC, apalagi network – gampangnya tak ada Online. Transaksi online dilakukan sambil berdiri. Harap maklum kursi yang dijanjikan “ada didalam” – tak pernah terlihat.

Ibu Suroso ternyata tidak bawa dokumen apapun sebab “disimpan suami” sebelum meninggal. Tapi mbak Rob sang petugas sudah berbekal list daftar wajib pajak. Jadi nggak masalah..

Nama Bu Roso dengan nominal yang harus dibayarkan – alamat tempat tinggal dengan mudah didapatkan. Sedikit masalah dengan uang pengembalian, sehingga petugas sepertinya merelakan seribu rupiah keluar dari koceknya. Petugas memberikan selembar formulir yang kelak datanya akan dimasukkan kedalam database komputer, dicetak bukti transaksi pada secarik kertas tebal. Namun jelas ini tidak dilakukan di gedung SerbaGuna melainkan di Bank Jabar. Bukti asli akan diserahkan kepada petugas RT atau RW untuk diteruskan kepada wajib pajak.

Ketika ditanya bukti pembayaran aseli akan dititipkan kepada siapa.. Bu Roso menyebut suatu pejabat dengan jabatan tertentu. Pejabat yang lain ia komentari “pemalas”..

Setelah ibu Suroso selesai.. Saya mengajukan copy PBB lama sebab tahun ini SPT tersebut belum kami terima dari pak RT “A”

Celakanya menurut si Ibu, blok Sepuluh (saya) tidak termasuk dalam listnya.
Ketika saya mulai mengkeret untuk undur diri – Ibu menilpun Pak RT untuk membacakan nominal PBB saya.

Cuma ya itu.. Saya diberi potongan kertas stensilan yang sudah diberi cap basah sebelumnya (premeditated form).

Bahkan kopian formulirpun ibu muda tersebut tidak menyimpannya. Semua hanya ditulis pada kertas Script.  Bagaimana kalau satu dan lain hal – buku skrip sang petugas – hilang, bukankah menjadi berabe. Di jaman serba komputer begini.

Mei 2016

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.