Posted in kuliner

Ketika Mencari Terminal Soto Pindah


13232973_10207982964904997_5167900984652886091_nNyonya rumah pagi-pagi curcol “nyidam”  soto ayam alias soto Ceker yang mangkal di seberang McDonald/SPBU di mulut jalan Hankam-Jatiwarna. Saya tidak tahu siapa pihak yang bertanggung jawab atas nyidamnya. Tapi sebagai pengemudi siang malam kepercayaannya 7/24/365 dalam setahun terakhir maka saya tahu persis lokasi yang Nyonya maksud.

Tadi aku bilang sebagai supir kepercayaannya  sebab nyatanya putra dan putrinya sudah tidak percaya kalau saya dibelakang kemudi. Katanya saya seperti supir bis bandara pesawat, bisa nyasar turun terminal yang “seprana seprene” alias dari tahun jebot -belum pernah pindah tempat. Tetapi bagi Nyonya saya adalah supir kesayangannya walau kerap berdebat kalau menentukan arah jalan.

Tetapi saking lamanya tidak nyoto – kami tidak langsung ketemu lokasinya. Saya mulai  nunak-nunuk  mencari TKP.

Perasaan dulu disini, ternyata salah. Eh mungkin disana entoh salah juga. Duh gimana ini.

Lapak ini memang selalu berpindah tergantung kebaikan pemilik lahan. Sebelas tahun lalu ia sempat berlama di halaman SPBU. Apalagi nama pemilik Pom Bensin sama dengan namanya KOES. Tetapi itupula sebabnya ia tak bermaksud memajang nama sendiri di gerobaknya : dalam bahasa Jawa Timuran “kawatir mendak diarani nyaingi” – agar tidak dikira menyaingi sang pemilik SPBU.

Saingan atau tidak, iapun digusur dari SPBU.

Lepas dari SPBU ia lalu mangkal di halaman sebuah klinik24 jam tak jauh dari sana. Namun klinik 24jam tersebut sepi peminat, akibatnya bangunan tersebut kini menjadi service mobil “integrated” maksudnya ganti oli, cuci mobil, reparasi dalam satu atap. Belum termasuk Ketupat Sayur dan Tahu Bungsang.

Dan kemana perginya pasangan pak Koes dan istrinya?

Sambil mencari TKP – diam-diam saya menyiapkan pembelaan kelak kalau di komplin salah sasaran.. Kira-kira jawaban saya akan demikian – Terminal Bandara yang belum pernah bergeser satu mili saja sudah bikin Pilotnya bingung – apalagi seorang Mimbar mencari terminal soto berpindah.

Nasib baik masih berpihak…

Ternyata – mereka bergeser dihalaman parkir sebuah rumah yang disulap menjadi warung rokok dan soto.  Semacam praktek simbiose sotoalisme, dimana Pak Koes jualan soto  sementara pemilik lahan menyediakan  minuman dingin dan rokoknya.

Sebentar saya dengar dialog dalam bahasa Jawa antar nyonya dengan pak Koes- rupanya selain menikmati soto hangat, ditindihi uritan (telur muda), hati dan jantung ayam, dan suwiran ceker ayam – Nyonya rumah melancarkan bahasa Jawanya. Samar saya tangkap begini:

“Lho ibu pagi-pagi sudah rapih mau pergi kemana tho?” tanya Pak Koes

“Lha spesial kemari”

Dipuji begitu pak Koes – langsung ter-Matur Nuwun-Matur Nuwun.

Soto ceker tak lama sudah terhidang. Masih panas kebul-kebul. Saya kecroti dua irisan jeruk nipis. Entah siapa yang ngajari pokoknya sudah menjadi ritual mencelupkan kulitnya sekalian kedalam kuah soto. Kata orang Dangdut Academy biar “cengkok” persotoannya lebih joss-surajos. Atau malah nggragas (rakus).

Sambil meniup kuah panas pandangan saya tebarkan sekeliling.  Dan nampak piagam prestasi kelas Silver dipajang. Pemberinya institusi industri rokok. Diberikan kepada warung “SEMPURNA”. Baru “ngeh” nama warung mirip judul grup Andra and The Backbone.

Bu Sempurna  mendapat penghargaan dari perusahaan Sampurna karena keahliannya memajang rokok sehingga membuat orang tertarik berbelanja  kesana. Sementara Pak Kus karena masakannya yang lidzad zidan.

Kombinasi yang Endol-Surendol-Marendol.   Habis makan lantas Ngesess.. Atau menyedot sebotol air mineral dingin.

Kepikiran juga apa istimewa dari wanita separuh baya dengan rahang persegi ala orang Sumatera Utara ini?.  Dengan memakai kacamata “keur” nemplok dikepalanya plus “apron” alias celemek. Dan manakala nampak olehnya tumpukan piring kotor, tak segan-segan ia membantu menyingkirkannya. Sekalipun  bukan urusannya. Orang ini bekerja dengan “passion”.

Ia pantas mendapat reward. Namun Soto pak Koes mendapat penghargaan SILVER di hati kami sekalipun Zonder piagam. Sruput…

@mimbar

Mei 2016

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.