Posted in pasar, pasar modern, pasar tradisi

Pasar Kecapi Riwayatmu Kini


13230187_10208000055052240_3587597426919802149_n
PASAR KECAPI MEI 2016 – Menjadi Sempit

Sebelas tahun lalu belanja ke pasar Kecapi masih seperti hiburan..

Masih sepi penjual maupun pengunjung sehingga jalan Kecapi yang sempit tidak menjadi penghalang roda empat berbelanja disana. Sambil parkir masih bisa melihat proyek jalan tol sedang dikerjakan, lalu sawah atau ladang luas terbentang.

Apalagi saat itu ruas jalan Tol TMII Jatiasih belum siap.

Pasar Kecapi jadi trending topic ketika  Senin Siang  13 Maret 2006, sekawanan perampok bersenjata menyikat habis emas 1 kilogram di Toko Emas Subur Jaya. Kawanan ini terdiri dari 8 orang dan beberapa bersenjata pistol yang ditembakkan ke sekitar toko. Setelah menganiaya pemilik dan menjarah emas kawanan yang terdiri dari 8 orang lalu kabur. Dua bulan sebelumnya, toko emas di Pasar Kecapi di rampok.

Namun – sekarang satu-satunya parkir yang masih “manusiawi” hanyalah untuk pemotor. Pemobil harus bersusah payah menyeruak diantara deretan lapak. Orang sini(h) bilang – “sudah kagak enak didatengin lagi(h)”

Para pedagang – ternyata sebagian besar berasal dari Sumatera Utara yang memang ulet dan gigih dalam berniaga. Diantara celotehan antara bahasa Sunda kadang menyusup bahasa Lai Lai..

Sambil menunggu Nyonya besar beli ikan Mujaer – Saya memotret sebuah warung dan membandingkannya dengan Pasar Kecapi Sepuluh tahun lalu. Lalu saya mulai menghayal liar..sampai ke Apartemen.

Membangun Pasar seperti membangun Apartemen. Berbusa-busa para selebriti menjual properti dengan bujukan discount, promo, bangunan futuristik, segudang fasilitas modern, dekat dengan jalan Tol (pasar Kecapi boleh dibilang dibangun di bantaran Tol), namun kalau ditanya soal Parkir – pengelola umumnya kurang perduli sehingga banyak pemilik apartemen harus pontang panting parkir kendaraan di jalur yang tidak semestinya.

Mei 2016
Pasar Kecap
Jatiwarna – Kota Bekasi – Jawa Barat
@mimbar

 

s4100098-2
PARKIR SEBESAR LAPANGAN BOLA 2006
s4100099-1
PASAR KECAPI JULI 2006

 

 

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.